
Sudah 3 hari semenjak kejadian itu, Junggo sama sekali tidak bicara bahkan setiap tengah malam dia pasti menangis, dan selama itu juga Meira dan yang lainnya berusaha membujuk Junggo untuk berbicara.
Kamar inap Meira dan Junggo menjadi satu, agar mempermudah menjaga Junggo jika terjadi sesuatu.
"Junggo, kau belum makan dari tadi pagi...mau bibi suapin?" tanya Nara pada Junggo.
Pria itu hanya diam, tidak bergerak bahkan menjawab pun tidak. Nara menatap Meira yang juga melihat kearahnya.
Meira menghelakan nafasnya lalu dia turun dari ranjang pasien itu. "Junggo." panggil Meira membuat Junggo menoleh padanya.
"Ku mohon makanlah walau hanya sedikit." mohon Meira.
"Tidak Mei, aku tidak lapar." balas Junggo.
Junggo memang sesekali hanya menjawab ucapan Meira, tapi juga terkadang hanya diam, pintu kamar inap terbuka memperlihatkan Minho datang dengan berpakaian kantor.
Minho menatap Meira. "Kau sudah makan?" tanya Minho Meira mengangguk.
"Tapi Junggo..."
"Jangan pedulikan orang terus, kau sedang hamil pikirkan diri mu saja." ucap Minho.
"Kenapa kau jadi marah, jika bukan aku yang membantu Junggo untuk bangkit lalu siapa lagi? Kau? Kau bahkan tidak peduli padanya." ucap Meira.
"Karena dia pernah berbuat jahat pada mu."
"Lalu apa pantas untuk kita terus membencinya, Minho semua orang berhak untuk berubah, Junggo sedang dalam keadaan tidak baik dan kau tidak mau peduli padanya." ucap Meira menatap Minho.
"Aku peduli padanya, siapa bilang aku tidak peduli. Aku hanya meminta mu untuk tidak memikirkan keadaannya terus, pikirkan juga kehamilan mu, kau sedang mengandung anak ku." ucap Minho dingin, sikap pria itu masih sama dia kecewa pada Meira yang merahasiakan kehamilannya.
"Minho apa kau marah pada ku tentang masalah itu?" tanya Meira.
"Suami mana yang tidak marah jika istrinya merahasiakan kehamilannya dan hampir mempertaruhkan nyawanya untuk menyelesaikan masalah." balas Minho, Meira terdiam.
"Sudahlah, lebih baik kau istirahat. Junggo masih ada yang bisa menjaganya." ucap Minho mendekat pada Meira dan membawa wanita itu kembali keatas ranjang.
"Kau juga harus banyak istirahat, dokter bilang kau besok sudah bisa pulang." ucap Minho sambil merapikan anak rambut Meira.
"Kenapa kau masih perhatian pada ku, marah saja tidak perlu pedulikan aku." ucap Meira kesal.
__ADS_1
"Kau ini istri ku, wajib bagi ku memperhatikan istri ku. Walau aku marah bukan berarti aku harus tidak peduli pada istri ku ini, ku mohon sayang menurut lah ini demi kamu dan anak kita. Aku tidak mau kalian kenapa-kenapa." ucap Minho menatap Meira lekat.
"Maaf, aku hanya khawatir melihat Junggo seperti itu." ucap Meira.
"Aku paham sayang, tapi pikirkan juga diri mu. Kau sedang hamil, urusan Junggo biar aku yang atur, Junggo akan baik-baik saja." ucap Minho Meira menatap Junggo yang diam di atas ranjangnya lalu menatap Minho.
"Baiklah." ucap Meira, Minho terseyum lalu mencium kening Meira.
"Sekarang istirahat lah." ucap Minho membantu Meira merebahkan tubuhnya.
Minho menatap Nara yang sedari tadi hanya diam. "Mamah istirahat lah, mamah pasti capek mengurus Meira seharian ini." ucap Minho.
Nara terseyum. "Tidak masalah bagi mamah, Meira adalah putri mamah sudah tanggung jawab mamah masih memperhatikan putri mamah." ucap Nara, Minho membalasnya dengan senyuman.
"Tapi mamah juga butuh istirahat, sudahlah mamah tidur saja sekarang biar Minho yang menjaga Meira dan Junggo." ucap Minho.
"Baiklah kalau begitu." balas Nara lalu melangkah keluar kamar inap.
Minho menatap Junggo. "Mau sampai kapan kau seperti itu terus Junggo, Billa tidak akan senang melihat kau seperti itu terus. Apa kau berniat menyiksanya di atas sana dengan melihat keadaan mu yang seperti ini?" tanya Minho, Junggo masih diam.
"Sudahlah terserah kau saja, Billa pasti kecewa pada kakaknya yang terlalu mudah putus asa." ucap Minho lalu pergi ke kamar mandi ruang inap itu.
Meira yang masih belum tidur mendengar perkataan Minho lalu menatap Junggo yang masih diam.
####
Besoknya Meira di ijinkan pulang, walau masih harus menjaga kesehatan dengan baik, dan mengobati lukanya dengan teratur.
Minho membawa barang Meira pergi keluar kamar, menyisakan Meira dan Junggo. Dia menatap junggo yang juga menatapnya.
"Aku tidak papa." ucap Junggo berusaha terseyum pada Meira.
Meira mendekat dan memeluk Junggo. "Jangan takut, aku akan selalu ada untuk mu Jung, kau sudah seperti keluarga ku sendiri." ucap Meira Junggo terseyum simpul dan membalas pelukan itu.
"Pergilah, Minho mengintip dari pintu." ucap Junggo, Meira terkekeh pelan dan melepas pelukannya.
"Aku pergi dulu, nanti aku akan kesini lagi." ucap Meira Junggo hanya terseyum.
Meira melangkah pergi meninggalkan kamar inap itu. Junggo kembali menatap keluar jendela dan terseyum. "Sampai jumpa lagi Meira." gumam Junggo.
__ADS_1
....
Minho dan Meira sudah sampai dirumah dengan selamat Ina tidak lagi berkerja dengan mereka karena semua kebusukannya sudah terbongkar, sekarang kepala pelayan di rumah mereka adalah ivi.
"Selamat datang tuan nona." ucap Ivi sambil memberi hormat dengan membungkukan sedikit badannya.
"Terimakasih Ivi, di mana Kukie?"
Anjing yang sudah tumbuh besar itu keluar dari ruang kerja Minho dan berlari kearah Meira, wanita itu menyambut anjingnya dengan gembira.
"Ivi siapkan makan siang yang sehat untuk istri ku." ucap Minho.
"Baik tuan." balas Ivi lalu ijin pergi.
"Hai jagoan, aku merindukan mu." ucap Meira memeluk Kukie.
"Sayang ayo ke kamar, kau harus istirahat." ucap Minho.
Minho membawa Meira ke kamar, Meira duduk di tepian tempat duduk.
"Ada apa?" tanya Minho.
"Entahlah, perasaan ku tidak enak." jawab Meira sambil mengelus dadanya.
"Terhadap apa sayang, kau tenang saja kamar kita aman." ucap Minho menatap Meira.
"Bukan tentang kamar ini, tapi tentang Junggo." ucap Meira.
"Tenanglah, besok aku akan kesana melihat milihat perkembangannya. Jadi kau tidak perlu khawatir, lagi pula ada suster dan dokter disana." ucap Minho mengelus pucuk kepala Meira.
"Ya kau benar, ada yang menjaga dia di sana."
"Sudah lah sekarang kau istirahat saja, aku tidak mau istri dan anak ku kenapa-kenapa." ucap Minho sambil mencolek pipi Meira membuat istrinya tersenyum.
Meira merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan Minho menyelimutinya.
"Istirahat lah, aku mau keruangan kerja ku, jika kau butuh sesuatu panggil lah " ucap Minho Meira mengangguk.
Minho mencium kening Meira sambil mengusap perut Meira lembut lalu beranjak pergi.
__ADS_1
Meira menatap kepergian Minho sampai pintu tertutup, lalu dia melihat kearah jendela balkon.
"Ku harap Junggo baik-baik saja." gumam Meira menyentuh dadanya lalu perlahan tertidur.