
"Bisa kalian berhenti bertingkah gila." Ucap seorang cowok pada dua orang di depannya.
"Kenapa? Apa kau tidak terima jika kami melukai Meira? Junggo ini demi ayah apa kau tidak paham, ayah Meira membunuh ayah kita." Ucap Billa.
"Tapi Meira tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, kemapa kalian membalas perbuatan ayahnya pada Meira. Jika kalian dendam hancurkan bisnis tuan Barham jangan hancurkan putrinya." Ucap Junggo.
"Kenapa? Kau tidak terima? Oh aku tau, kau suka pada Meira bukan?" Tanya Billa.
"Kau bodoh Bil, kau dan ibu sama saja tidak memiliki perasaan. Apa kalian pikir adil melukai putrinya untuk membalas perbuatan ayahnya, Meira tidak tau apa-apa kalian malah melampiaskannya pada Meira." Ucap Junggo.
"Kenapa kau tidak terima putra ku? Kau tidak ingin membantu keluar mu sendiri?" Tanya Chika.
"Bukan seperti itu bu, jika kalian ingin membalas dendam balas pada tuan Barham jangan pada Meira." Ucap Junggo dia sudah tau semuanya, Minho menemui kepenjara saat itu dan menanyakan tentang ayahnya dan saat itu juga Junggo tau kalau sebenarnya ayahnya lah yang bersalah tapi kenapa dia harus terjebar dengan dua wanita itu.
¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤~¤
Meira hanya duduk diam di sofa melihat Minho yang sibuk dengan komputernya, dia bingung mau bertanya seperti apa.
"Jadi ayah saksi pembunuhan itu tapi ayah merahasiakannya, pantas saja ayah tau kalau pembunuhnya adalah Bibi." Batin Meira.
Minho menatap istrinya yang hanya diam. "Sayang.." Panggil Minho mengalihkan perhatian Meira.
"Kemari." Ucap Minho Meira mendekat pada Minho.
Minho menarik pinggang Meira mendudukan istrinya di pangkuannya, dia memeluk perut Meira dan menyandarkan kepalanya di bahu Meira.
"Sayang..."
"Hhmm." Balas Meira.
"Aku pusing, bagaimana ini? Kenapa semuanya menjadi rumut bahkan ayah ku termaksud dalam masalah ini. Aku takut, ayah ku juga bermasalah dalam hal ini." Ucap Minho.
Meira melepas tanggannya dari pelukan Minho dan mengelus punggung suaminya. " Tenanglah, aku yakin kalian pasti bisa memecahkan masalah ini." Ucap Meira.
"Kami berusaha untuk mencari kunci masalah ini tapi malah semakin besar, sebenarnya awal masalah mereka apa sampai paman Riko nekat seperti itu." Ucap Minho membenamkan wajahnya didada Meira.
"Karena harta orang bisa kserakah, karena uang orang bisa berbuat jahat dan karena kekuasaan orang melupakan kebaikan. Masalahnya ini adalah semua karena iri, mungkin kalian bisa menanyakan langsung kepada ayah bagaimana bisa dia menyaksikan pembunuhan itu." Ucap Meira.
"Ya kau benar, bagaimana pun ayah juga tersangka dalam kasus ini aku tidak bisa mempercayainnya dalam masalah ini." Ucap Minho menegakan tubuhnya.
"Kepercayaan itu tergentung diri mu menerima kebenarannya atau tidak, jika orang menganggapnya bohong mau sampai kapan pun kau berusaha membuatnya percaya dia akan tetap menganggapnya bodong."
"Intinya kalian harus mencari bukti terkuat, yaitu Ayah dia yang mengetahui semuanya dari pembunuhan itu sampai masalah koropsi yang paman Riko dulu lakukan, ayah semuanya yang tau dan sebagai saksi perkelahian itu." Ucap Meira.
__ADS_1
"Kau benar sayang, ayah sebagai saksi utamanya dalam masalah ini." Ucap Minho lalu dia melihat laporan yang tadi Juan berikan.
"Ayo kita kerumah ayah." Ucap Minho.
●●●●●
"Selamat tuan muda." Ucap Zika pelayan dirumah ayahnya.
Minho langsung masuk begitu saja, Meira terseyum pada pelayan itu. Juan juga ikut masuk kedalam.
"Dimana ayah ku?" Tanya Minho pada Zika.
"Tuan ada diruang kerjanya tuan." Jawab Zika Minho langsung pergi begitu saja.
"Cih...ngucapin terimakasih kek gitu." Gumam Meira menyusul Minho.
Mereka sampia di depan pintu ruang kerja Henry tapi langkah Minho tiba-tiba berhenti.
"Kenapa berhenti?" Tanya Meira yang sedikit menyenggol pundak Minho.
"Maaf apa sakit?" Tanya Minho melihat Meira mengelus bahunya.
"Tidak..tidak papa. Ada apa, kenapa berhenti?" Tanya Meira.
Meira dan Juan ikut mendengarkan, mareka mendengar Henry dan Taera mengobrol di dalam sana.
"Apa ayah punya bukti atas pembunuhan itu?" Tanya Taera.
"Punya, bahkan ayah memiliki rekaman CCtvnya. Bodohnya Fili tidak melaporkan atas pembunuhan itu dan mengatakan kalau suaminya sakit jantung padahal dalam remakan itu memperlihatkan kalau Miko si hakim itu selingkuh dengan Billa." Jelas Henry membuat mereka terkejud mendenganrya.
"Apa jadi selingkuh, pantas saja Bibi bisa membunuh hakim itu." Bisik Meira.
"Sebenarnya saat itu aku ingin menemui Miko untuk menyelesaikan masalah Riko Dan Barham tapi saat sampai dirumahnya Fili bilang akalau Miko sedang pergi karena ada pertemuan disebuah hotel. Awal nya aku tidak mau kesana tapi aku penasaran untuk apa hakim datang kepertemuan di hotel kalau tempatnya dia ada dipersidangan, saat sampai di hotel aku mencari mereka dari rekaman CCTV dan ternyata benar Miko masuk kedalam sebuah kamar hotel bersama Billa." Ucap Henry.
"Dan ayah merekam semuanya?" Henry mengangguk.
"Kenapa ayah tidak memberitahu kepada Minho, dia sedang mencari bukti itu ayah. Bahkan ayah juka sebagai saksi perkelahian atara Riko dan Barham, ayah yang tau segalanya tentang maslaah ini." Ucap Taera.
"Ayah tau, ayah akan memberi tahu semuanya nanti."
"Tidak perlu, aku sudah mendengarnya." Ucap Minho membuka pintu ruangan Henry.
"Minho." Ucap Henry Meira dan Juan juga ikut masuk.
__ADS_1
"Meira.." Taera terseyum pada menantunya.
"Sini sayang." Panggil Taera Meira mendekat pada Taera.
"Ayah jelaskan dengan rinci permasalahan ini." Ucap Minho.
"Baiklah, akan ayah ceritakan yang sesungguhnya." Ucap Henry.
"Kalian tau, Fili bukannya tidak mau mau melaporkan pembunuhan itu tapi dia sengaja tidak melaporkannya agar harta yang di miliki Miko berada ditanganya, karena sudah jadi perjanjian bahwa jika seorang suami meninggal karena penyakit atau sebagainya maka harta yang dia miliki menjadi milik istrinya." Jelas Henry.
"Bukan kah perjanjian itu tidak belaku untuk seorang hakim saja, orang pengusaha dan yang lainnya pasti juga seperti itu ayah. Aku yakin bukan cuman itu niatnya tidak melporkan pembunuhan itu." Ucap Minho Henry terseyum.
"Ternyata putraku pintar." Ucap Henry.
"Oh itu jelas aku keturunan dari ayah." Balas Minho mereka malah tertawa.
"Ayolah serius." Ucap Minho menahan tawanya.
Henry sedikit terkekeh. "Ya, Fili tidak ingin memperpanjang masalah itu. Jika dia harus menuntup si pembunuh maka proses perjanjian itu akan lama, jadi dia memilih bungkam." Ucap Henry.
"Oohh aku paham, jadi intinya istri hakim itu ingin cepat mendapatkan harta dan tidak peduli dengan pembunuhan yang terjadi, jadi dia itu adalah wanita serakah." Ucap Juan.
"Kau tepat sekali." Ucap Henry.
"Lalu apa yang terjadi dengan ibu Billa dan pak hakim ayah?" Tanya Meira.
"Mereka selingkuh, siapa yang tidak mau selingkuh dengan seorang hakim bahkan selingkuh dengan pengacara saja kau bisa membeli mobil sprot 5. Dia melakukan perselingkuhan itu atas dasar harta juga agar Miko mau membuat Riko menang di pengadilan, dia seperti itu agar bisa mendapatkan uang dan memberikannya pada Riko dan Miko tentu di minta untuk memihak pada Riko agar suaminya tidak dinyatakan bersalah tragis bukan?, jadi Riko itu seperti menjual istrinya sendiri, dan setelah kematian Riko hakim tidak mau menuntaskan kasus itu dan dia malah berniat membuka kebenarkannya, karena tidak terima suaminya meninggal Chika nekat untuk membunuh Miko." Jelas Henry.
"Wahhh sungguh gila masih ada wanita seperti itu ternyata, bahkan sampai sekarang. Kenapa wanita jaman sekarang semuanya serakah." Ucap Minho.
"Hyyy.." Teriak Taera dan Meira membuat ketiga orang itu terkejud.
"Apa kau bilang tadi? Serakah? Apa pernah aku memplorotkan uang mu?" Tanya Meira pada Minho.
"Apa pernah aku menghabiskan uang mu hanya untuk berbelanja?" Tanya Taera pada Henry.
"Kita salah bicara, ada dua wanita galak di sini." Bisik Henry.
"Aku dengar ayah." Ucap Meira.
"Maafkan ayah menantu ku." Ucap Henry.
Ketiga pria itu hanya meneguk ludah melihat tatapan tajam dua wanita itu sambil melipat tanganya didada.
__ADS_1