
Di sebuah taman sekolah, terlihat seorang wanita hanya duduk diam bersama ponselnya.
"Billa kemana sih, katanya tidak mau melihat acara itu tapi aku ditinggal sendirian." Ucap Meira.
Tiba-tiba seseorang menutup matanya dari belakang membuatnya terdiam.
"Coba tebak." Ucap orang itu Meira terseyum.
"Junggo..." Ucap Meira orang itu terseyum lalu melepas tanganya.
"Kau mengenal ku sekali rupanya." Ucap Junggo duduk didekat Meira tapi duduk membelakangi meja taman.
"Tentu saja aku kenal, siapa yang tidak tau suara berat mu itu." Ucap Meira Junggo terseyum.
Tanganya merapikan anak rambut Meira. "Angin meniupnya terlalu kencang " Ucap Junggo Meira hanya terseyum pipinya berubah merah.
Dari kejauhan seseorang memperhatikan mereka. "Hah...ingin sekali rasanya aku menghancurkan wajah itu." Gumamnya.
"Woii Min lihat siapa kau?" Tanya temannya.
Minhon mengalihkan wajahnya. "Bukan siapa-siapa." Jawab Minho dingin.
"Wahh orang lagi mengadakan lomba mereka sibuk berpacaran." Ucap temannya.
"Pacaran?" Tanya Minho.
"Aku juga tidak tau, tapi rumornya dari anak-anak." Jawab temannya.
Minho menatap kedua orang itu yang asik tertawa dan bergurau, bahkan Meira tidak mempermasalahkan sedari tadi cowok itu menyentuh tanganya.
"Cih...aku saja selalu ditatapnya dingin setiap berada didekatnya." Batin Minho.
Dia beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.
"Min...woii ya elah suka banget ninggalin teman." Ucap temannya dan menyusul Minho.
Kembali ke Meira.
"Hahaha kau ini bisa saja." Ucap Meira.
"Aku benar, lihatlah jika kau perhatikan ini dia akan bergerak." Ucap Junggo.
Mempraktekan sulapnya. "Dia bergerak karena ulah, lihat jari mu yang memutarnya." Ucap Meira.
"Wahhh mata mu ternyata teliti sekali." Ucap Junggo Meira hanya terkekeh.
"Mei..." Panggil Billa yang berlari kearahnya.
"Oh junggo." Ucap Billa.
"Kau habis dari mana? Aku menunggu mu dari tadi." Tanya Meira.
__ADS_1
"Maaf, soalnya tadi ada sains yang menarik perhatian ku, Junggo sedang apa disini?" Tanya Billa.
"Memangnya kenapa? Aku ingin mendatangi wanita ku." Ucap Junggo Meira memukul bahunya.
"Aku bukan wanita mu." Ucap Meira padahal hatinya berbunga mendengarnya.
"Mungkin sebentar lagi akan jadi." Ucap Junggo.
Meira hanya membuang wajahnya saja. Billa menatap cowok itu.
"Bill..." Panggil Meira menyadarkan Billa.
"Ya ada apa?" anya Billa.
"Kau yang ada apa? Melamun seeprti itu." Ucap Meira.
"Ah...aku terlalu banyak pikiran." Uawab Billa cengengesan.
"Ya sudah aku pergi dulu." Ucap Junggo lalu bernajak pergi tapi sebelum itu dia mengusap pucuk kepala Meira.
"Sampai ketemu saat pulang sekolah." Ucap Junggo lalu melangkah pergi.
Meira menatap cowok itu dengan wajah memerah. "Aaaaaa ganteng sekali." Ucap Meira menangkup wajahnya.
"Mei...lebih baik kau hati-hati padanya." Ucap Billa.
"Kenapa emangnya?" Tanya Meira.
"Uuummm kemarin aku pergi ke mall bersama ibu ku dan aku melihat Junggo jalan dengan cewek lain mereka juga terlihat mesra, aku tidak melihat wajah cewek itu jadi tidak tau siapa cewek itu." Jelas Billa.
"Aku serius, ya sudah jika kau tidak mau percaya." Ucap Billa Meira hanya mengangkat bahunya acuh.
><><><><><
Acara sekolah itu terus berlangsung, Meira hanya menjadi penonton dalam acara itu. Tiba-tiba ada seseorang menarik tanganya membuat Meira hampir terjatuh.
"Apa-apa an sih." Teriak Meira.
"Heh....kau yang apa-apaan, udah aku bilang berkali-kali Junggo hanya miliki ku."Teriak Hana yang menarik tangan Meira tadi membawanya kegedung belakang sekolah.
"Emangnya kau siapa dia hah? Bukan siapa-siapanya sjaa bergaya sekali." Ucap Meira.
"Kau ini semakin membuat ku kesal." Ucap Hana.
"Apa peduli ku, emang ada masalah buat ku. Heh Hana seharusnya kau sadar yang di suka Junggo itu aku." Ucap Meira.
"Hahahaha kau percaya diri sekali, heh cewek kampung. Kau itu tidak tua apa-apa tentang Junggo" Ucap Hana mendorong Meira.
"Apaan sih gak perlu dorong juga kali." Ucap Meira membalas dorong itu.
"Heh santai dong." Ucap Rera menolong Hana.
__ADS_1
"Heh aku bilangin ya, Junggo itu mau dekat dengan mu haya karena kau pintar. Dia cuman mau menfaatin kau aja." Ucap Hana.
Meira terdiam. "Kau pikir aku percaya, jangan gunakan tipu muslihat mu hanya untuk membuat ku melepas Junggo, dasar hewan buas." Ucap Meira lalu pergi dari tempat itu.
"Aiiisshhh dasar cewek kampung." Ucap Hana.
Meira melangkah menyusuri koridor, tiba-tiba seseorang muncul didepan Meira membuat gadis itu terkejud.
"Ikut dengan ku." Ucap Minho menarik tangan Meira.
"Iiiii lepasin." Ucap Meira melawan tarikan itu tapi percuma tenanga cowok itu lebih besar darinya.
"Kuat juga tenaganya." Batin Meira.
Mereka sampai diatas sekolah dan Minhon melepas tanggan itu. "Jadi dia cowok yang kau suka?" Tanya Minho.
"Apa maksud mu?" Tanya Meira.
"Junggo, dia bukan?" Tanya Minhon menatap Meira.
"Oh iya, kenapa? Kau tidak bisa melarang ku untuk tidak dekat denganya." Ucap Meira.
"Tentu aku bisa, kau pikir kau tidak dalam pengawasan ku. Apa kau lupa kau tanggung jawab ku sekarang." Ucap Minho.
"Aku tidak perduli, itu bukan urusan mu. Jangan campuri urusan ku, urus saja urusana mu." Ucap Meira berniat pergi tapi Minho menariknya membuat cewek itu hampir menabrak dada bidang itu.
"Bukan urusan ku? Kau lupa nona aku tunangan mu." Ucap Minho.
"Oh benarkah, kalau kau menganggap pertunangan kita kenapa kau melepas cincin itu?" Tanya Meira Mihon melepas tangan Meira dan membuka satu kancing bajunya.
"Apa yang kau lakukan." Meira terdiam saat melihat kalung dengan cincin tunangan mereka sebagai buah kalung.
"maaf nona, aku bukan cowok yang melupakan kewajiban. Kau yang seharusnya dipertanyakan." Ucap Minho lalu pergi dari hadapan Meira yang terdiam.
Meira terdiam. "Jadi dia menjadikan cincinnya sebagai anak kalung." Gumam Meira.
Minho melangkah menuruni tangga itu, kenapa dia kesal sekali mengingat bagaimana interaksi Meira dengan jungho saat ditaman tadi.
Saat sudah sampai ditangga kedua. Langkah Minho terhenti saat mendengar seseorang berbicara. Minho sedikit melihat dua orang itu ternyata Junggo dan Hana.
"Jung ku mohon menjauhlah Meira." Ucap Hana memohon.
"Memangnya kenapa? Aku suka berada didekatnya." Ucap Junggo.
"Jung aku menyukai mu, aku tau kau hanya memanfaatkan Meira kan karena kepintarannya." Ucap Hana membuat Junggo tertegun.
"Dari mana kau tau?"
"Tidak perlu aku tau dari mana, pokonya kau harus menjauh darinya. Aku tidak kalah pintar darinya, kenapa kau tidak suka pada ku saja." Ucap Hana menggenggam tangan Junggo.
"Siapa bilang aku tidak menyukai mu, kau cantik dan tubuh mu bagus. Tapi sayang hati mu busuk." Ucap Junggo lalu pergi dari tempat itu meninggalkan Hana yang terdiam.
__ADS_1
"Junggg..." Panggil Hana mengejar Junggo.
Minho mengepalkan tanganya. "Ternyata dia hanya ingin manfaatkan Meira ku." Gumam Minho.