Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
janji suci


__ADS_3

Kaki itu perlahan memasuki gedung pernikahan, matanya menatap lurus kedepan dimana seorang cowok dengan jas yang sepadan dengan gaun yang dia kenakan, menatapnya penuh kagum.


"Lihat bahkan Miho tidak lepas menatap mu." Bisik Barham.


"Dia tampan." Balas Meira terseyum pada ayahnya.


"Sayang, jadi istri yang menurut dan sayangilah suami mu. Berlajarlah mengerti keadaan apa pun yang akan terjadi dipernikahan kalian, dan teruslah dapingin Minho dalam keadaan apa pun karena kalian sudah di satukan oleh janji suci yang mengikat kalian sehidup semati." Ucap Barham.


"Iya ayah, Meira akan ingat pesan ayah." Ucap Meira.


Saat sampai di depan altar Barham menyerahkan tangan Meira pada Minho. "Jaga dan lindungi dia dalam keadaan apa pun." Ucap Barham.


"Tentu ayah, Minho akan terus melakukannya." Bals Minho Barham terseyum dan melepas tangan Meira.


Barham melangkah menedekati Nara dan Shina yang menunggunya di kursi sebelah kita pengantin.


"Ayah jangan menangis." Ucap Shina mengelus bahu Barham.


"Kau sama saat melepas Shina." Ucap Nara dia kira Barham tidak menangis lagi.


"Melepas seorang putri dari kehidupan ku adalah hal terberat, aku menjaganya sepenuh hati dan harus melepasnya sepenuh hati juga menyerahkannya pada seseorang yang akan melanjutkan tugas ku." Ucap Barham Shina dan Nara terseyum.


"Tenanglah, adik ku pasti bahagia bersama Minho."ucap Shina menyandarkan kepalanya dibahu Barham.


"Shina bernar ayah." Ucap Nara.


Barham terseyum dan mengelus pipi kedua wanita itu.


Setelah janji suci terucap sekarang Minho dan Meira resmi menjadi suami istri, Meira terseyum pada Minho.


Pria itu menatapnya lekat, lalu mendekat dan mencium kening Meira yang amsih tertutup tudung jaring lembut.


Tangan Minho mengakat tudung itu memutarnya jearah belakang kepala Meira. "Aku mencintai mu." Ucap Minho.


"Aku juga mencintai mu." Balas Meira Minho mencium bibir Meira membuat sorak dari tamu terdengar.


"Aaaa...hiks....Meira ku.." Ucap Weni berlinang air mata lalu memeluk Gina disebelahnya yang juga terharu.


"Jadi seperti ini rasanya menikah, walau bukan aku yang menikah aku serasa menjadi pengantinnya." Ucap Tina terharu Hana mengelus bahunya.


■■■■■


Semua tamu undangan sudah menyantap hidangan yang ada, sedangkan pengantinnya duduk manis dipanggung pengantin.


"Kau lelah?" Tanya Minho melihat Meira menunduk.


"Sedikit, gaun ini berat." Jawab Meira menatap Minho.


"Bersabarlah....acaranya masih berlangsung lama." Ucap Minho Meira mengangguk pasrah.


Dari sudut ruangan terlihat seseorang menatap pengantin itu tajam. "Mereka sudah resmi menikah Nyonya."


"Aaakhh aku tidak peduli itu, pokonya bunuh gadis itu. Aku ingin Barham tersiksa atas kematian putrinya begitu juga yang telah dia lakukan pada suami ku." Teriak orang dari sebrang sana.


"Baik Nyonya."

__ADS_1


Lalu orang itu bergi menuju ruang dapur.


Tina Gina Weni dan Hana terus menjaga Hana, memperhatikan jika ada pergerakan mencurigakan.


"Pria itu aneh." Ucap Tina mengalihkan perhatian Weni disampingnya.


Karena mereka berbagi tugas dua-dua orang disetiap kiri dan kana.


"Yang mana?" Tanya Weni.


"Itu, yang memkai Aerphond sama seperti kita. Aku perhatiankan dia terus berada disudut ruangan, bahkan aku melihat penjaga lain hanya menjaga di pintu dan berbagai tempat tapi tidak ada yang berada di sudut ruangan." Jelas Tina.


"Sepertinya kita harus memetiksanya." Ucap Weni.


"Jangan...kita bilang paman dulu, dua sudah menitip pesan untuk melaporkan apa pun sebelum bertindak karena tugas kita hanya memantau." Ucap Tina.


"Oh iya kau benar juga. Ayo datangin paman." Ucap Weni menarik tangan Tina.


Hana yang melihat mereka melangkah pergi mencoba tanya pada Gina.


"Gin...mereka mau kemana itu." Tanya Hana tapi Gina tidak menjawab.


"Gin oh ya ampun, Gina...kita disuruh jaga bukannya makan." Ucap Hana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehe aku lapar." Ucap Gina


"Ginnnn...udah berapa kue yang kau makan itu?" Tanya Hana sambil memijit pelipisnya.


"6." Jawab Gina membuat Hana melongi.


"Ini kalau Weni yang lihat lu begini, jadi bahan ketawaan dia lu." Ucap Hana.


"Iya makanya gue minta Lu yang nemanin gue disini." Ucap Gina Hana hanya mengeleng pasrah.


Tiba-tiba matanya menatap seseorang yang datang menghampiri Minho dan Meira dengan nampan berisikan minuman.


"Kan Minho dan Meira sudah disediain minum sendiri dimeja. Wahh gak bener nih." Ucap Hana lalu berlari kearah panggung pengantin.


"Kau ingin minum?" Tanya Meira.


"Tidak...kita sudah ada minum disini sayang." Ucap Minho.


"Tapi aku pengen coba ini." Ucap Meira menatap Minho.


"Ya udah dikit aja." Ucap Minho mengijinkan melihat mata berbinar Meira.


Meira mengambil gelas itu dan ingin meminumnya,pelayan yang membawnaya itu terseyum saat bibir gelas hampir mengenai bibir Meira, Hana langsung merebutnya dan meminumnya.


"Hana.." Ucap Meira.


"Mei...jangan asal minum." Ucap Hana tenggorokannya terasa panas dan dia terjatuh dilantai itu.


"HANA.." Teriak Meira.


"Sial...siapa kau...penjaga kejar orang itu." Teriak Minho.

__ADS_1


"Ayah dia orangnya, suruhan wanita itu." Ucap Minho.


Barham langsung meminta bodyguardnya mengajar pria itu tadi.


Meira sudah menangis sambil memangku kepala Hana. "HAANNNN....tidak...tidak boleh.." Meira sudah menangis bahkan ada sedikit busa yang keluar dari mulut Hana.


Minho yang melihat itu langsung memanggil ambulan.


"HANA..." Teriak Weni Gina dan Tina yang baru datang.


Semua tamu undangan terkejud, beberapa pengawal sudah mengejar pelayan itu.


"Hana...buka mata mu.." Ucap Meira menangis.


"Sayang tenangkan diri mu." Ucap Minho.


"Bagaimana aku bisa tenang, Hana meminum racun itu untuk menyekamat kan ku." Teriak Meira menangis mereka semua terkejud.


"Apa Hana meminum racunnya." Ucap Tina Meira mengangguk sambil terus menangis.


Gina merasa bersalah seharusnya dia bisa membantu Hana. Weni dan Tina juga ikut menangis.


"Gina kau seharusnya bisa membantu Hana." Ucap Tina.


"Maafkan aku.." Ucap Gina dia merasa tidak berguna.


"Sudah tidak ada waktunya untuk saling menyalahkan, cepat bawa Hana mobil ambulan sudah datang." Ucap Henry.


Pengawal Henry mengangkat Hana dan membawanya kemobil ambulan, Meira menangis dalam pelukan Minho.


"Ssssttt sayang tenangkan diri mu." Ucap Minho.


"Bagaimana aku bisa tenang, demi melindungi ku Hana yang seperti itu." Ucap Meira menangis Minho terus menenangkan Meira.


Bodyguard Minho datang. "Tuan kami tidak berhasil menangkapnya dia sudah kabur dengan mobil, dia tidak sendiri bahkan ada yang menyamar sebagi penjaga." Ucap bodyguard itu.


"Apa?"


"Oohh jadi racun yang ada dibotol minum itu, dimasukan oleh salah satu dari mereka yang menajaga Meira di ruang pengantin." Ucap Weni.


"Apa kau bilang, ada racun?" Tanya Minho.


"Iya...saat diruang pengantin tadi Hana juga berniat memberi ku minum, tapi dia menyadari ada keganjalan karena botol minum itu berbeda dari botol lainnya." Jawab Meria.


"Dan saat kami mencobanya dengan bunga ternyata benar, bunga itu perlahan layu dan mati." Lanjut Weni.


"Sial ternayata mereka sudah merencanakan semua ini." Ucap Minho lalu tampak berpikir. Seyum miring terpampang diwajah cowok itu.


"Ya sudah sekarang acara ini dibubarkan saja, yang terpenting kami sudah resmi menikah. Kita harus melihat keadaan Hana." Ucap Minho matanya melirik semua bodyguardnya dan dia melihat 1 orang berbeda dari yang biasa dia lihat.


"Kau benar, sayang ayo kita kerumah sakit." Ucap Meira.


"Iya sayang, kau bersabarlah. Kita harus berganti pakaian dan menyelesaikan acara ini." Ucap Minho Meira mengangguk.


"Kau pintar sekali, memainkan drama ini." Batin Minho lalu menatap Juan memberikan sebuah kode sambil melirik kearah orang yang menyamar itu.

__ADS_1


Juan yang mengerti langsung mengangguk. Semua tamu pun terpaksa dibubarkan karena kejadian ini, setelah selesai beganti baju Minho Meira dan lainnya pergi kerumah sakit.


__ADS_2