
Sepulang sekolah, Minho dan Meira langsung pulang kerumah. Tapi hanya sebentar karena Minho harus langsung ke perusahaannya.
"Sayang pasangkan dasi ku." Pinta Minho Meira mendekat padanya dan mulai memasangkan dasi Minho.
Minho menatap Meira. "Sayang."
"Hhmm..." Balas Meira.
"Apa benar?" Tanya Minho.
"Benar apanya?" Tanya balik Meira sambil merapikan jas Minho.
"Apa benar kau sudah mencintai ku?" Tanya Minho menatap Meira lekat.
Meira mengangkat bahunya. "Entah.."jawab Meira menggoda Minho.
"Sayang...maksud mu yang di kanti tadi apa?" Tanya Minho.
"Kau pikir saja sendiri, nanti kau tidak percaya pada ku seperti malam tadi. Sudah sana pergi." Ucap Meira mendorong Minho tapi cowok itu malah memeluk pinggangnya dan membawanya keatas ranjang dengan Minho diatas Meira membuat gadis itu membeku.
"Sa..."
"Aku mencintai mu sayang, aku takut kau kenapa-kenapa malam itu. Aku bukan tidak percaya pada mu tapi aku takut Hana melukai mu lagi." Ucap Minho.
"Hana sudah berubah dia bukan lagi Hana yang dulu sayang....., dan tadi malam aku melihat ibu Billa sedang memperbaiki mobilnya dan menolongnya dengan mengantarnya pulang, saat masuk kedalam rumahnya aku melihat foto Junggo dan Billa ternyata benar dia ibu Billa." Ucap Meira.
"Baiklah, maafkan aku. Aku salah dan kau sekarang harus lebih berhati-hati." Ucap Minho Meira mengangguk.
"Iya, sudah pergilah." Ucap Meira berusaha mendorong Minho.
"Kau belum membalas ku tadi." Ucap Minho.
"Membalas apa?" Tanya Meira.
"Aku mencintai mu." Ulang Minho Meira terseyum.
"Aku tau itu." Ucap Meira mengalungkan tanganya dileher Minho menatap cowok itu lekat.
"Dan aku juga mencintai mu." Lanjut Meira membuat Seyum Minho mengembang diciumnya bibir itu lembut.
Meira membalas ciuman itu dan mengelus tekuk Minho, cowok itu semakin memperdalam ciuman mereka.
"Uummm..." Lidah Minho bermain didalam sana.
Tangan Minho bergerak melepas jas dan dasinya. Hawa panas semakin mengekung bahkan tidak ada penolakan dari Meira.
Ciuman itu berpindah keleher putih Meira bekas yang kemarin saja masih terlihat, Meira meremas rambut Minho.
"Aahhh..."
Aksi Minho semakin menggila bahkan dia sudah bertelanjang dada, padahal sudah rapi tapi harus di lepas. Pipi Meira memerah melihat dada bidang itu terpampang.
Mata mereka saling bertemu, dada Meira naik turun dan itu sangat menggoda Minho. "Ahhh tidak...kita belum menikah." Ucap Minho berniat beranjak tapi Meira menahanya.
"Sayang..." Ucap Minho.
Meira gugub mengataknnya. "Lakukan." Ucap Meira membuat Minho tertegun.
__ADS_1
"Tapi...." Belum selesai Minho berucap Meira sudah mencium bibirnya.
Permainan bibir itu terus berlanjut, bahkan Minho membalasnya lebih dari permainan Meira.
"Akhh.." Minho sedikit menggigit bibir Meira.
"Kau yakin?" Tanya Minho menatap Meira, gadis itu mengangguk.
Aksi Minho terus berlanjut membuat cowok itu batal untuk pergi.
<□><□><□><□>
Minho menatap wajah Meira yang tertidur dipelukannya.
Minho terseyum lalu mengelus pipi itu lembut, akhirnya setelah sekian lama menahan rasa itu akhirnya terbayarkan.
"Terimakasih sayang." Ucap Minho perlahan mata itu terbuka Minho terseyum.
"Kau tidak jadi kekantor karena ku." Ucap Meira.
"Tidak sayang, tidak masalah lagi pula ada Juan yang mengurusnya di sana." Ucap Minho Meira terseyum lalu mengelus dada Minho.
"Sayang..."
"Hhmm." Balas Meira mencium dada bidang itu.
"Jangan menggoda ku." Ucap Minho.
"Memangnya kenapa, aku menggoda calon suami ku sendiri." Ucap Meira Minho terkekeh.
"Sudah berani ternyata." Ucap Minho menggengam tangan Meira dan naik keatas tubuh gadis itu.
"Aahh...sudah...sayang aku lelah." Ucap Meira menyesal menggoda Minho tadi.
"Uuuggghhh..." Lenguh Meira merasakan ada sesuatu yang berusaha masuk dibawah sana.
"Siapa menggoda ku tadi." Ucap Minho melancarkan aksinya, Meira meremas bahu Minho merasakan tumbukan dibawah sana.
"Sayang....sudah..." Ucap Meira dia sudah sangat kelelehan dia hanya berniat menggoda Minho tadi, bahkan rasa sakit itu masih belum hilang.
"Akh...Minn...sakit.." Ucap Meira meremas rambut Minho.
Seolah tuli Minho mempercepat permainannya dan menegakan badanya, Meira meremas saprai ranjang itu.
"Min..."
"Sabentar lagi." Ucap Minho menatap wajah Meira yang sudah kelelahan.
Minho terseyum, akhirnya dia memiliki gadis itu sepenuhnya, dia tidak akan melepaskan Meira.
Minho mengenggam tangan Meira disamping kepala gadis itu. "Min...sudahh.."
"Sedikit lagi." Ucap Minho sampai Meira merasakan ada kehangatan didalam sana.
Nafas Meira memburu, dia memukul dada Minho. "Hiks...sakit bodoh." Ucap Meira membuat Minho tertegun..
"Hy....sssttt maaafkan aku." Ucap Minho merasa bersalah.
__ADS_1
"Rasa yang pertama tadi saja belum hilang dan kau melakukannya lagi...hiks...sakit.." Ucap Meira menatap Minho dengan linangan air mata.
"Iya sayang maafkan aku...ya ampun sudah dong jangan nangis.." Ucap Minho tidak tega sambil menghapus jejak air mata Meira.
Meira masih terus menengis membuat Minho semakin merasa bersalah. "Sayang....ssssttt berhenti menangis..." Bujuk Minho.
"Sakit..."
"Iya iya...maafkan aku.." Ucap Minho memeluk Meira menidurkan gadis itu diatas dadanya.
Diciumnya pucuk kepala itu dan mengelusnya. "Sayang sudah dong, aku jadi merasa bersalah melihat mu menangis." Ucap Minho memeluk Meira erat.
Isak Meira masih terdengar, tapi tidak lama gadis itu diam.
"Sayang.."
"Hhmmm.."
"Aku kira kau tidur." Ucap Minho melihat Meira sambil merapikan rambut gadis itu yang hanya diam.
"Tidak....aku hanya kepikiran apa yang akan terjadi nanti, apa mamah dan ayah akan marah." Ucap Meira.
"Tidak akan kau tenang saja." Ucap Minho mengelus kepala Meira.
"Kau yakin?" Tanya Meira menatapnya.
"Iya sayang, sebenarnya ayah kemarin ada menelpon ku. Pernikahan kita akan dipercepat karena agar aku bisa menjaga mu lebih baik, masalah ini tidak sepele sayang. Mereka bisa bergerak kapan saja untuk melukai mu, bukan berniat menakuti mu tapi itu lah yang kami takut kan." Ucap Minho.
"Jadi pernikahan kita dipercepat? Kapan?" Tanya Meira.
"Munggu depan." Jawab Minho membuat Meira terkejud.
"Apa? Minggu depan, sayang kau yang benar saja?" Tanya Meira bernjak duduk tapi dia sedikit meringis.
"Hy kenapa?" Tanya Minho khawatir.
"Di bawah sana sakit." Jawab Meira Minho menghelakan nafasnya.
"Maaf ya, seharusnya aku bisa menahan diri ku." Ucap Minho mengelus pipi Meira.
"Tidka papa, aku juga salah." Ucap Meira memeluk Minho.
"Tapi besok kau tidak perlu sekolah saja kalau masih sakit." Ucap Minho Meira mengangguk.
Minho terseyum dan mengelus pucuk kepala Meira. "Terimakasih." Ucap Minho.
"Untuk apa?"
"Untuk cintanya, kau sudah membalas cinta ku. Aku tidak akan melepaskan mu, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun melukai mu. Sudah menjadi milik ku seutuhnya." Ucap Minho memeluk Meira erat.
Gadis itu tersenyum. "Aku mencintai mu." Ucap Meira dada Minho berdegub kencang.
"Aku lebih mencintai mu."
........●●●●●●●..........
maaf jika adan konten yang kurang kalian suka, karena itu memang hanya jalan cerita saja dan dalam sebuah cerita fiksi apa pun bisa terjadi.
__ADS_1
jadi mohon pengertiannya beri like dan komen kalian jika kalian suka ya sama cerita aku 🙏🙏 terimakasih yang sudah baca 😇😇😄😄😄