Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
perang dingin


__ADS_3

Minho menuruni tangga dan pergi menuju ruang makan, bahkan di meja makan tidak ada istrinya.


"Ina dimana istri ku?" Tanya Minho.


"Nona sudah selesai sarapan tuan, dan sekarang nona ada dihalaman belakang." Jawab Ina Minho terdiam.


Istrinya lebih dulu sarapan darinya. Minho memejamkan mata dan memijit pelipisnya. "Hahhh kenapa jadi seperti ini." Gumam Minho.


Sekarang malah dirinya yang merasa bersalah karena bersikap dingin pada istrinya. "Aku langsung berangkat saja, bilang pada istri ku." Ucap Minho lalu melangkah pergi begitu saja.


Ina menatap kepergian Minho lalu melangkah menuju halaman belakang.


"Nona, tuan sudah berangkat. Tuan tidak memakan sarapannya." Lapor Ina.


"Hhmm kau boleh pargi." Ucap Meira masih sibuk dengan menyiram bunga,padahal sudah ada tukang kebun tapi Meira ingin melakukannya sendiri.


"Okey jika itu mau mu, kau bahkan tidak mau pamit pada ku. Kau mengajak ku perang dingin Minho." Gumam Meira.


°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


Hari sudah siang, dan Meira hanya duduk diam menikmati acara tvnya. Sesekali matanya menatap ponselnyanya yang enggan menyala, setidaknya notif pesan masuk tapi ini tidak ada sama sekali.


Layar ponselnya menyala ada sebuah pesan masuk, Meira meraih ponselnya cepat berharap Minho mengirim pesan teranyata bikan. Weni yang mengirim pesan.


Meira menelpon Weni, karena isi pesannya Weni meminta Meira menghubunginya.


"Ada apa Wen?" Tanya Meira.


"Kau sibuk, ada Hana dikafe. Datanglah kemari." Ucap Weni.


"Benarkah, kenapa tidak memberitahu ku dari tadi. Kalian jahat tidak menghubungi ku." Ucap Meira.


"Hy nona, kami sudah menlpon mu berulang kali tapi tidak kau angkat." Ucap Weni.


Meira menatap poselnya dan ternyata benar ada notif panggilan keluar diponselnya sebanyak 10 kali.


"Maaf, ponsel ku mode hening." Ucap Meira.


"Huuhh ya sudah kami tunggu." Ucap Weni.


"Baiklah aku bersiap dulu." Ucap Meira lalu sambungan ponselnya terputus.


Meira melangkah cepat menuju kamar dan bersiap, dia memakai dress putih bermotif polkadot besar berwana hitam yang tedapat rombi dibagian badannya. Meira mengoles tipis seperti biasa make upnya.


Setelah selesai Meira melangkah pergi menuju lantai bawah.


"Nona mau kemana?" Tanya Ina.


"Aku menemui Weni dan Hana di kafe, aku pergi dulu." Jawab Meira lalu pergi keluar.


Saat sampai di luar langkah Meira terhenti. "Aku belum bilang denganya, apa aku bilang ya? Tapi dia juga tidak pamit dengan ku tadi pagi." Gumam Meira bimbang.

__ADS_1


"Aahhh sudahlah, dia seperti itu juga pada ku." Gumam Meira lagi lalu masuk kedalam mobilnya.


Mobil itu perlahan pergi dari rumah, pagar rumah yang terbuka secara otomatis jadi tidak meribetkan penjaga keamanan.


"Hati-hati dijalan nona." Ucap penjaga itu.


Meira mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sesampainya dikafe Meira dengan cepat masuk kedalam kafe.


"Weni Hana." Ucap Meira melangkah mendekati kedua wanita yang menunggunya.


"Akhirnya datang juga." Ucap Hana.


"Hehe sory telpon kalian tidak aku angkat, soalnya mode hening." Ucap Meira.


"Ya santai aja Mei, ini aku sudah siapin sepeti biasa pesanan mu." Ucap Weni Meira terseyum senang.


"Semoga dengan makan es krim ini bisa mengembalikan mood ku." Batin Meira.


Di tempat lain.


"Nona Meira katanya pergi ke kafe nona Weni tuan." Ucap Ina dari seberang telpon.


"Oh begitu, ya sudah nanti beritahu aku dia pulang jam berapa." Ucap Minho.


"Baik tuan." Balas Ina.


Minho membuka sebuah aplikasi di ponselnya dan aplikasi itu menunjukan lokasi di mana Meira berada. Minho bernafas lega, yang dibilang Ina benar istrinya disana.


Minho meletakan ponselnya di atas meja kerjanya. "Hah...kenapa jadi seperti ini....ini salah mu Minho." Gumam Minho memijit kepalanya.


"Mungkin masih sibuk." Gumam Meira.


Sungguh merasakan perang dingin ini tidak enak, dia ingin menanyakan keadaan suaminya tapi ragu.


"Sayang...kau sedang apa?" Gumam Meira.


Meira melangkah masuk kedalam rumah dan melangkah menuju tangga, saat melewati ruang kerja Minho Meira heran melihat ruang kerja Minho terbuka.


"Mobil tidak ada lalu kenapa pintu ruanganya terbuka." Gumam Meira, dia melihat kedalam ruangan itu dan melihat Ina ada didalam sana.


"Sedang apa Ina." Gumam Meira.


Samar-samar Meira mendengar Ina seperti bicara pada seseorang.


"Saya tidak menemukannya nona, sudah sering saya mengeceknya di ruang kerja tuan Minho tapi tidak menemukan bukti itu." Ucap Ina membuat Meira terdiam.


"Bukti, untuk apa Ina mencari bukti? Dan dengan siapa dia bicara itu?" Gumam Meira.


Dilihatnya lagi Ina membuka laci-laci dan mencari-cari di tumpukan berkas.


"Nyonya Chika....saya tidak menemukan apa pun."

__ADS_1


Meira membulatkan matanya, Ina menyebutkan nama itu. "Apa? Jadi....Ina.." Meira tidak percaya dengan yang dia dengar.


"Maaf Nona sepertinya nona Meira sudah pulang saya harus pergi dulu." Ucap Ina.


Meira dengan cepat melangkah menuju kamarnya dan menutup pintu kamar.


"Apa Ina orang suruhan wanita itu." Gumam Meira.


Tok tok.


"Nona." Panggil Ina dari luar membuat Meira terkejud.


"Huhh kau harus bersikap biasa." Gumam Meira lalu membuka pintu kamarnya.


"Iya Ina ada apa?" Tanya Meira.


"Oohh nona sudah pulang ternyata, nona mau saya buatkan sesuatu?" Tanya Ina.


"Iya aku sudah pulang setelah sampai aku langsung masuk begitu saja karena aku capek, uumm bisa kau buatkan aku jus mangga? Aku ingin itu." Ucap Meira.


"Baik nona, akan saya buatkan." Jawab Ina lalu melangkah pergi.


Meira kembali menutup pintu kamar, Ina mengekus dadanya. "Nona tidak tau." Gumamnya.


Ni


Meira menggigit jarinya. "Bagaimana ini, Ina ternyata berpihak pada wanita itu. Aku harus memberitahu Minho." Gumamnya tapi saat mengingat dia sedang perang dingin dengan Minho membuatnya ragu.


"Ahhh tidak...aku bingung." Gumam Meira.


....○....○....○....○....


Jam 7 malam Minho pulang kerumah, perkerjaannya jadi banyak jika Juan libur. Minho melangkah masuk dan pergi menuju lantai atas.


Sesampainya di kamar, dia melihat Meira yang duduk disofa dengan ponsel ditanganya. Istrinya hanya diam, buasanya Meira kana menyambutnya dengan pelukan.


Minho melepas jas kerjanya dan meletakannya di kepala sofa dan pergi menuju kamar mandi, Meira menghelakan nafasnya.


Meira meraih jas itu dan meletakannya di keranjang tumpukan baju kotor, tapi sebelum itu Meira mengecek kantong-kantong jas Minho.


Tanganya mendapatkan sesuatu, dikeluarkannya benda itu dan Meira terdiam melihat kotak  persegi berwatna merah berbulu halus.


"Punya siapa ini? Dia membelikannya untuk siapa?" Gumam Meira.


Minho keluar dari kamar mandi dan melihat Meira yang masih duduk disofa, jasnya sudah tidak ada disofa.


"Dia pasti sudah melihat kotak itu." Batin Minho terseyum.


Minho melangkah keluar kamar. Meira menghembuskan nafasnya kesal.


"Buat siapa kalung itu? padahal kami sedang bertengar dan dia membeli itu untuk siapa." Gumam Meira curiga.

__ADS_1


Melihat sikap Minho yang seperti itu semakin membuatnya kesal, seharusnya kalau memang itu untuknya Minho sendiri yang menyerahkannya.


"Kau jahat..hiks..." Meira menangis.


__ADS_2