Si CUPU Jodoh Ku

Si CUPU Jodoh Ku
sepucuk surat


__ADS_3

Besoknya Minho mendatangi rumah sakit ingin melihat keadaan Junggo. Dokter sudah menjelaskan bahwa Junggo sedikit ada perubahan, dia mau makan dan minum walau hanya sedikit.


Minho membuka pintu kamar dan melihat junggo bersama suster yang di bayar Minho khusus merawat Junggo. Suster itu melangkah pergi setelah Minho masuk.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Minho.


"Ya seperti yang kau lihat." jawab Junggo Minho tersenyum kecil.


"Meira begitu mengkhawatirkan diri mu." ucap Minho Junggo tersenyum.


"Adik ku yang imut itu, jaga dia Minho." ucap Junggo.


"Tentu saja akan ku jaga tanpa kau minta." ucap Minho.


"Titip salam ku padanya dan aku ada sesuatu untuknya." ucap Junggo memberikan sebuah amplop yang berisikan secarik kertas pada Minho.


Minho menerima surat itu dan menatapnya. "Apa ini?"


"Minta dia membacanya saat hari ulang tahun ku minggu depan." ucap Junggo Minho menatapnya.


"Kau tidak berniat untuk bertindak bodoh bukan?" tanya Minho menatap Junggo serius.


Junggo tersenyum. "Berikan saja padanya." ucap Junggo.


"Kau jangan macam-macam Junggo, kau tau Meira kan dia akan sangat membencimu jika kau melakukan tindakan bodoh." ucap Minho.


Junggo tertawa. "Jangan khawatirkan aku, kau tenang saja." ucap Junggo.


Belum sempat Minho berucap ponselnya berdering. "Hallo sayang." ucap Minho setelah mengangkat telpon itu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Meira.


Minho menatap Junggo. "Dia baik-baik saja, bahkan dia bisa tertawa dan tersenyum sekarang." jawab Minho.


"Benarkah, syukurlah kalau begitu aku sedikit lebih tenang." ucap Meira.


"Kau tenang saja, Junggo pasti baik-baik saja." ucap Minho.


"Uumm baiklah, sayang aku sedikit mual dari tadi." ucap Meira.


"Kau kenapa?" tanya Minho khawatir.


"Aku tidak tau..ughh."


"Sayang." panggil Minho telpon itu terputus.


"Pulanglah Minho, mungkin anak mu tidak bisa jauh dari mu." ucap Junggo.


"Kau benar seperti kehamilannya dulu, aku pulang." ucap Minho beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.


"Minho.." Panggil Junggo membuat langkah Minho terhenti.


"Titip salam ku pada Meira dan katakan aku menyayanginya." ucap Junggo.


"Akan ku sampaikan." ucap Minho lalu melanjutkan langkahnya.


Junggo tersenyum. "Meira pasti sangat bahagia bersama mu, jaga dia Minho."


.....

__ADS_1


Beberapa menit perjalanan Minho sampai di rumah dan mencari keberadaan istrinya.


"Sayang." Minho masuk kedalam kamar dengan terburu.


Meira yang duduk di sofa terkejut melihat Minho.


"Sayang." ucap Meira


"Kau kenapa sayang?" tanya Minho menangkup wajah Meira yang sedikit pucat.


"Tidak papa, hanya mual." jawab Meira tersenyum pada Minho.


Minho duduk di samping Meira sambil mengelus pipi Meira. "Kau tidak bisa jauh dari ku ya?" tanya Minho Meira mengangguk lalu memeluk Minho.


Minho mengelus kelapa Meira dan menciumnya.


"Maaf tidak mengijinkan kau ikut tadi, aku hanya tidak ingin kau kelelahan." ucap Minho Meira mengangguk.


"Aku mengerti, tapi anak mu tidak mau mengerti." ucap Meira Minho terkekeh.


Tangan Minho perlahan mengelus perut Meira. "Anak ayah jangan nakal sayang, kasihan ibu mu dia masih dalam pemulihan." ucap Minho Meira tersenyum tangannya ikut mengelus perutnya.


"Tapi ayah aku tidak mau jauh dari mu." ucap Meira menirukan suara anak kecil.


"Baiklah maafkan ayah yang lama perginya." ucap Minho Meira mengangguk lalu semakin erat memeluk Minho.


"Berapa usia anak kita sayang?" tanya Minho.


"Apa kau lupa dokter kemarin bilang dia sudah masuk 3 minggu." ucap Meira.


"Benarkah aku tidak mendengar penjelasan dokter tentang itu, yang aku dengar hanya anak ku tumbuh dengan sehat dan baik di sana." ucap Minho.


"Ya ya aku salah tidak mendengarnya, bagaimana apa masih mual?" tanya Minho menatap Meira lembut.


"Sudah tidak, tapi aku merindukan mu." ucap Meira manja Minho tersenyum lalu mengecup bibir Meira.


"Manja sekali istri ku ini." ucap Minho sambil terkekeh Meira hanya tersenyum.


Mata mereka saling tatap, begitu dalam dan penuh cinta. "Aku mencintai mu." ucap Minho.


"Aku juga mencintai mu." balas Meira perlahan Minho mulai mencium bibir Meira lembut, sambil mengelus pipi Meira.


Wanita itu tentu tidak menolak dia membalas ciuman suaminya, perlahan Minho menarik Meira ke atas pangkuannya. Tangan Meira langsung mengalung di leher Minho.


Ciuman itu terlepas meninggalkan jejak basah di bibir mereka, mata itu kembali saling menatap.


"Junggo menitip salam, dia sangat menyayangi mu." ucap Minho Meira tersenyum.


"Aku juga menyayanginya." ucap Meira.


"Apa melebihi diri ku?" tanya Minho Meira terkekeh.


"Aku bukan hanya menyayangi mu sayang, tapi aku sangat mencintai mu suami ku dan ayah dari anak ku." ucap Meira sambil mengadukan kedua hidung mereka.


Minho tersenyum. "Kita lanjutkan yang tadi, aku sangat merindukan mu." ucap Minho membawa Meira ke atas ranjang dan menidurkan Meira dengan dia di atasnya.


"Pelan-pelan saja." ucap Meira.


"Kau tenang saja aku tidak akan melukai anak ku." ucap Minho lalu mencium kening Meira.

__ADS_1


Bibir itu kembali bertemu dan tangan Minho tidak tinggal diam. Tangannya bermain kemana pun dia mau, membuka semua kain yang melekat pada tubuh mereka.


"Uugh.." lenguhan Meira menambah hawa panas pada mereka.


Meira meremas rambut Minho saat Merasakan permainan jari suaminya di bawah sana. Memberikan pemanasan pada Meira.


"Sayangg..." Meira sudah tidak tahan, cairan kental itu memenuhi jari Minho.


Minho mulai memposisikan dirinya, meremas kedua tangan Meira sambil menatap wajah cantik istrinya.


"Uuggh.." Meira memejamkan matanya merasakan penyatuan di bawah sana.


Minho pun juga begitu menikmati permainannya. "Kita akan bermain sampai puas." bisik Minho Meira hanya sibuk mendesah atas permainan suaminya.


Permainan itu terus berlanjut sampai mereka benar-benar lepas dari rasa rindu mereka.


#####


Di sebuah kafe terlihat dua orang sibuk berbicara.


"Apa kau tidak pekerjaan sayang?" tanya Weni pada Juan yang sibuk meminum kopinya.


"Tidak, tuan muda tidak memberiku kerja, anggap aja sebagai hari libur setelah kejadian itu." jawab Juan sambil tersenyum pada Weni.


"Apa Meira sudah membaik?" tanya Weni khawatir.


"Kau tenang saja, nona sudah membaik dia sudah di ijinkan pulang kemarin." Jawab Juan.


Weni menghelakan nafasnya. "Meira pasti sangat merasakan kehilangan, awalnya aku terkejut mendengar kabar tentang Billa, tidak ku sangka ibunya tega seperti itu." ucap Weni menunduk sedih.


Juan menarik calon istrinya itu, menyandarkan kepala Weni di pundaknya. "Wanita itu bukanlah ibu kandung Billa." ucap Juan.


"Tetap saja, seharusnya dia punya hati sebagai seorang ibu yang sudah merawat Junggo dan Billa. Kasihan Junggo hanya Billa yang dia punya dan sekarang dia sendiri." ucap Weni memeluk Juan dari samping.


"Tenanglah sayang, Junggo pasti bisa melewati semuanya." ucap Juan Weni mengangguk.


Kalimat terakhir dari Billa masih terngiang di kepalanya. Juan tersenyum. "Jika aku tau kau dulu mencintai ku, kau pasti tidak akan seperti itu Billa." batin Juan lalu dia mencium kening Weni.


+-+-+-+-+-


Keesokan harinya


Minho keluar dari kamar mandi, sedangkan Meira masih tertidur pulas.


Minho tersenyum menatap wajah damai istrinya. "Cantiknya wanita ku, beruntung sekali aku memilikinya." gumam Minho lalu mencium kening Meira.


"Oh iya, di mana surat itu." gumam Minho teringat dengan surat Junggo.


Minho terus mencari sampai dia menemukannya masih dalam saku jas kantornya.


"Untung saja belum di ambil oleh Ivi baju kotor ini, jika tidak bisa saja surat ini hancur." gumam Minho.


Karena rasa penasarannya dia membuka amplop itu dan membaca isi suratnya.


"Hanya membaca sedikit tidak masalah kan." Gumam Minho.


Bukan hanya sedikit yang dia baca, tapi semua kalimat yang ada sudah dia baca. Minho terdiam.


"Dasar bodoh."

__ADS_1


__ADS_2