
Baru saja Rania mendudukkan kembali pantatnya pada bangku taman.
tepukan halus ia dapat kan dipunggungnya.
Ibu Nasiha tersenyum ramah, sembari duduk disebelah Rania.
" kenapa malam-malam diluar????"
Rania hanya nyengir, memperlihatkan deretan gigi yang tersusun rapi dimulutnya.
bingung juga menjawab apa, ????
apakah harus jujur , bilang yang sebenarnya pada ibu Nasiha......
" ibu tahu apa yang kamu rasakan, mungkin berat , menikah dengan seseorang yang baru dikenal"
Rania menaikan alis tanda bingung.
ibu Nasiha hanya mengulas senyum.
" ibu sudah tahu , kalau dulu Reyhan berbohong pada ibu, kalian baru bertemu bukan????"
Reyhan melunasi semua hutang mu, agar dia bisa memanfaatkan mu, untuk dijadikan istri pura-puranya????"
Rania bingung tak tahu harus berkata apa, rupanya ibu mertua nya sudah tahu semuanya, apa mungkin ibunya juga tahu kejadian tadi digudang????
" maafkan ibu Ran, ibu bukanya menyelamatkan mu justru malah membuat mu semakin terikat,
ibu sudah istikharah, Alhamdulillah hasilnya bagus, maka dari itu ibu mendukung semuanya."
ibu Nasiha menatap langit malam tanpa bintang....
" sekali lagi maaf kan ibu Ran....."
Rania mengelengkan kepalanya.
dia genggam erat jemari ibu mertuanya.
" ibu tahu dihati Reyhan masih ada wanita lain, maka dari itu, ibu mohon padamu sayang, buatlah Reyhan jatuh cinta padamu, bagaimana pun caranya, agar secepatnya dia bisa melupakan kekasihnya,"
" Tapi Bu, apa Rania bisa,. sedang kekasih nya lebih cantik ketimbang Rania"
__ADS_1
Ibu Nasiha menutup mulut Rania dengan telunjuknya.
" ibu nggak peduli , sayang, ibu tak memandang fisik seseorang, ibu cuma percaya akan hasil istikharah ibu,.
sudahlah lebih baik kau segera istirahat, agar besok tak kesiangan untuk sholat subuh".
ibu Nasiha mengantar Rania sampai depan pintu kamar nya, dan segera pergi masuk kembali ke dalam kamar ibu Nasiha.
Tanpa mereka sadari rupanya tadi Reyhan mengikuti, Rania turun , bermaksud ingin mengajaknya kembali lagi kekamar.
Memang dia tak mendengar jelas pembicaraan mereka, tapi ia yakin, dirinya lah yang menjadi pembahasan.
" kenapa kembali?????"
Tanyanya setelah Rania menutup pintu kamar
Rania tak menjawab, dia berjalan mengambil bantal dan selimut bibawanya ke kasur lantai samping sofa,
Ya dikamar Reyhan memang terdapat kasur lantai dan sofa. didepan TV , sound sistem, PS 2, karena hobinya yang suka main game diwaktu senggang. atau saat pikirannya kacau akan pekerjaan yang menumpuk.
Emosi Reyhan naik, habis sudah kesabaran nya , dilangkahkan kakinya menuju pintu , segera ia kunci rapat, dan kuncinya ia masukkan kedalam saku celana kolor nya.
Dibenaknya , Rania sudah mengadu pada ibunya akan kejadian tadi, tentu saja ia tak terima, karena sendari awal ibunya sudah tak merestui hubungannya dengan Rosellyn.
Reyhan menarik paksa selimut tebal yang menutupi tubuh Rania.
" bukan urusanmu"
ucapnya kembali menutup tubuhnya dengan selimut
Reyhan geram, ditarik paksa selimut tersebut dilemparnya jauh.
" jangan bilang kau mengadu pada ibu , tentang kejadian tadi"
" bukankah bagus, lalu kau bisa segera menikah dengan nya"
" kalau bisa , sudah kulakukan dari dulu, tanpa harus menikahi mu"
" hahahaha...... berati mata ibu masih normal , bisa membedakan mana p*l*c*r dan wanita baik-baik,
nggak lihat ibu kamu aja berpakaian sar'i tertutup, selalu aktif dalam majlis ta'lim, eh menantunya sukanya pake bikini keliling kampung, ya jelas ibumu nggak setuju"
__ADS_1
" bilang apa kau tadi?????"
" hahahaha..... selain matamu yang rabun, rupanya telingamu juga tergantung, besok ke THT sono , periksa.
hahahaha...... pasti kekasihmu itu bakal langsung patah hati , gantung diri, karena mata dan telinga mu sudah kembali normal, nggak akan mungkin........
ucapan Rania terpotong , karena Reyhan sudah keburu membungkam dengan bibirnya.
dilumatnya kasar, sesekali menggigitnya, meninggalkan luka, bau amis anyir darah Rania tercium.
Reyhan masih asyik pada kegiatan nya , tak memperdulikan Rania yang berulang kali mendorong dadanya karena kehabisan nafas.
" lepaskan...."
Rania mendorong tubuh kekar suaminya yang menindih tubuh mungil nya.
Tanpa peduli Reyhan menarik baju Rania hingga semua kancing bajunya bertebaran dilantai.
Rania ketakutan menghadapi kebrutalan suaminya, tapi dia pun tak bisa berbuat banyak, dia kalah tenaga dengan suaminya.
Melihat pemandangan didepan matanya, tentu saja Reyhan junior bangkit.
ditelanya susah payah salivanya,
biar bagaimanapun dia lelaki normal, Nafsu nya akan naik melihat tubuh polos orang yang sudah halal ia jamah.
apalagi dia sudah menahan nya sendari tadi, saat istrinya hanya memakai handuk.
Diciumnya leher jenjang istrinya, meninggalkan bekas merah , menghiasi seluruh leher putih istrinya .
Tak puas disitu, ia arahkan pada gunung kembar yang baru saja terbebas setelah , tangan Reyhan membuka paksa penutupnya.
Dia mainkan berulang kali, meny**** seperti bayi, sesekali ia gigit dan meningkatkan jejak menyeluruh pada semua bagian.
Rania hanya bisa menangis, dia pasrah akan apa yang dilakukan suaminya, bukankah ini hak nya, bahkan ia akan berdosa bila menolak keinginan suami.
Tapi bisakah suaminya melakukan dengan lembut, sungguh ini sangat menyiksanya,
Tanpa harus dipaksa pun dia akan dengan suka rela menyerahkan kehormatan yang ia jaga selama ini untuk suaminya.
Meskipun Rania tersakiti , ia juga menikmati setiap sentuhan, orang yang Ia cinta i saat menjamah setiap sudut tubuhnya.
__ADS_1
Mata Reyhan menatap kedua bola mata Rania yang penuh air mata, rasa tak tega merasuk dalam hatinya , Buru-buru ia bangun, meninggal Rania seorang diri , masuk kedalam kamar mandi,