
" mas Rey masuk yu..... Rania sudah minta izin ibu"
Rania berusaha memapah tubuh kekar suaminya, dengan susah payah dipapahnya masuk menuju kamarnya.
baru saja langkah mereka diambang pintu mata Reyhan dan ibu Nasiha bertemu.
ibu Nasiha segera membuang pandangannya dan melangkahkan kakinya kedapur.
Reyhan menatap ibunya sayu , tak bertenaga
hatinya sakit melihat sikap ibunya barusan begitu cuek tak peduli dengan keadaannya sekarang.
pandangannya masih setia menatap ibunya hingga hilang dibalik pintu dapur.
" nggak papa mas, tadi Rania sudah izin sama ibu, diizinkan kok"
seakan tahu yang dirasakan Reyhan, Rania mengusap lengan kekar suaminya yang bertengger manis diatas pundaknya.
Reyhan hanya tersenyum kecut. hatinya masih berdenyut kecewa.
" aku mau kekamar mandi"
" ayo kubantu"
pelan-pelan Rania membantu Reyhan masuk kedalam kamar mandi disamping dapur.
mata Reyhan menatap ibunya sedang sibuk membuat adonan kue, dia teringat masa-masa kecil dahulu , melihat apa yang dilakukan ibunya.
ini memang salahnya, andai sendari awal dia mematuhi semua nasehat ibunya. ibu Nasiha tidak akan susah payah seperti dahulu.
maafkan aku ibu.....
__ADS_1
hanya kata-kata itu yang terucap dihatinya.
Reyhan mengankat tangan pada Rania yang ingin membantunya berjalan , saat dia selesai mengambil air wudhu,
khawatir kulit mereka akan bersentuhan dan berakhir wudhunya akan batal.
Bukannya dia tak mau mengambil air wudhu kembali, air dalam bak kamar mandi terasa dingin. tidak ada kran air hangat seperti dikamar mandi nya. hanya bak berisi air kira-kira seukuran dua kolah, kran air dari PAM. dan closed jongkok.
Dengan bersandar pada dinding , langkah Reyhan tertatih-tatih terus melangkah, mengikuti instruksi Rania untuk masuk kedalam kamar yang ditempati istrinya.
Dilihatnya hanya kamar kecil, jauh lebih kecil dari kamar mandi dirumah nya dengan dipan kayu, kasurnyapun dari kapuk, lemari dan meja kecil sudah terasa penuh.
Rania menggelar sajadah untuk suaminya mengerjakan sholat. dia duduk diatas ranjang menunggu suaminya selesai dengan kewajibannya sebagai muslim.
Reyhan langsung membaringkan tubuhnya disamping Rania setelah selesai sholat, sungguh tubuhnya terasa lemas. dipejamkan kedua matanya, mengabaikan rasa tak nyaman atas kasur yang ditempati nya.
" mas Rey , istirahat lah Rania tinggal dulu"
Didapur Rania dengan cekatan membantu ibu Nasiha mengadoni setiap adonan kue yang akan dijualnya nanti.
banyak sedikit Rania sudah banyak tahu tata cara membuat kue seenak ibu mertuanya.
jadi tak perlu arahkan berlebihan Rania sudah bisa mengerjakan setiap tugasnya dengan baik dan sempurna sesuai harapan ibunya.
tepat jam 6 pagi semua kue sudah siap.
memang mereka hanya membuat sedikit.
untuk konsumen yang akan dijualnya eceran.
setelah pulang dari rumah sakit , ibu Nasiha tidak mengizinkan Rania untuk jualan keliling, khawatir Rania akan diminta pergi lagi seperti dahulu. mereka hanya mengandalkan para pembeli yang lewat atau mereka yang sudah tahu jualannya ibu Nasiha.
__ADS_1
Alhamdulillah hasilnya , masih cukup untuk makan sehari-hari dan membayar uang kontrakan.
setelah sarapan dan mandi jemari Rania dengan telaten menata setiap dagangan dietalase toko.
agar para konsumen bisa memilih kue mana yang akan mereka beli.
Ibu Nasiha mengerutkan kening melihat Rania membawa air putih dan semangkuk bubur diatas nampan. Rania tersenyum melihat ibunya seakan bertanya-tanya.
" buat mas Rey Bu"
Rania segera melenggang pergi masuk kedalam kamar nya.
ibu Nasiha hanya diam. melihat begitu perhatiannya menantu kesayangan nya pada putra semata wayangnya.
apakah Rania masih akan segitu perhatian nya pada putranya pabila ia tahu apa yang baru saja dilakukan Reyhan.
apa Rania masih tetap mencintai anaknya setelah tahu , anaknya sudah meniduri wanita lain yang tidak halal baginya.
sebetulnya Ibu Nasiha melihat setiap gerakan yang dilakukan anak dan menantunya dibalik jendela kamar.
dia pun ikut tak tidur , merasa khawatir dengan Reyhan.
tapi rasa kecewa dan egonya menghentikan keinginannya yang ingin menghampiri sang anak , memeluknya memberi kehangatan.
biar bagaimanapun dia seorang ibu, dia yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Reyhan Alvaro dengan penuh cinta.
Dia yang memberinya asi, darahnya mengalir disetiap aliran darah sang putra.
darah lebih kental dari pada air.
dia cuma ingin memberi pelajaran bagi anaknya atas apa yang dilakukannya sungguh membuatnya sangat amat kecewa.
__ADS_1