
Marwan seorang pria lajang berusia 30 th sedang duduk dipinggir laut menggunakan prau kecil.
tangannya memegang pancing, pandangan kosong menatap laut didepannya.
Mungkin bila Marwan hidup dikota akan sangat wajar diusia segitu masih sendiri
tapi ini didesa pulau terpencil, umur segitu sudah dikatakan perjaka tua.
Di jadikan olok-olok an atau gunjingan warga sekitar,. , diguna-guna orang lah biar tak laku, atau sebagainya. Untungnya Marwan anak Kades Kepala Desa, tak ada satupun yang berani membicarakan dia secara langsung.
Tapi bukan berarti hidupnya tenang dengan kesendirian, Emaknya setiap hari ceramah.
seperti pagi ini, dari ba'do subuh , sampai matahari terang benderang, emak wanita spesial dalam hidupnya ngomel-ngomel ngalor ngidul,
Membanding-bandingkan dengan teman-teman seusianya, yang inilah sudah menikah, yang itulah sudah punya anak satu yang lain lagi udah punya anak dua, bahkan ada yang sudah menikah dua kali
Memang benar apa yang dikatakan emaknya, tinggal dialah yang belum menikah, jadi wajar bila sang emak khawatir, mengingat usianya sudah tak muda lagi.
Marwan belum mau menikah , bukan berarti dia tak normal atau jelek ,
dia cukup tampan, bahkan satu kampung hanya dialah yang mempunyai gelar sarjana
banyak gadis-gadis cantik yang mengejar-ngejarnya ingin menggait hati , anak dari pak kades.
hanya saja belum ada yang cocok sesuai selera hatinya.
karena menikah adalah hal yang sakral, harapan sekali untuk seumur hidup.
apalagi harapan untuk dapat memajukan desa tempat kelahirannya. belum terwujud total,. meskipun terbukti setelah dia lulus sarjana dan pulang dikampungnya kembali, banyak kemajuan -kemajuan, dari segi ekonomi para warga sampai kemajuan teknologi.
Karena Marwan termasuk mahasiswa berprestasi, dia lulus dengan nilai tertinggi di kota, banyak perusahaan besar meliriknya, berlomba-lomba agar dapat menariknya menjadi salah satu karyawan terbaik dengan gaji fantastis.
__ADS_1
Tapi Marwan memilih pulang, turun kesawah dan kebun milik keluarganya, memajukan hasil panen dengan teknologi dan cara modern. dan mempermudah warga kampung
seperti mengganti sapi dengan traktor dan memberi pupuk organik pada hasil panen
Banyak warga yang terbantu semenjak kehadiran Marwan, dan banyak juga yang rela menjodohkan-jodohkanya dengan anak gadis mereka.
Marwan menghela nafas kasar , merasa bosan pada apa yang dilakukan nya.
memang bukan hobinya , duduk termenung menunggu ikan yang tak pasti ia dapatkan.
lebih baik di Sawah atau membuat Inovasi baru dalam merubah limbah menjadi pupuk agar bisa dimanfaatkan kembali.
Tapi ocehan emaknya pagi ini , cukup membuat nya pusing, memintanya segera menikah dalam waktu sebulan,
kalau tidak akan dinikahkan dengan Sabrina. gadis kecentilan yang suka membuat gara-gara dikampung tempatnya tinggal.
kenapa emaknya semena-mena , memang menikah seperti mencari sampah, disetiap sudut ada.
padahal Sabrina cukup cantik, namun kelakuannya yang membuat nya malas.
cinta pertama nya yang sudah bahagia dialam baka.
Marwan terkekeh menertawakan hidupnya, dicarikan gadis hidup malah menyukai gadis yang sudah meninggal. kenapa hatinya meski begini, ???? memang ada seperti Almarhum Gendis!!???
Mata Marwan menyipit, memfokuskan pandangan pada seongok sampah didepannya, seperti melihat tubuh manusia.
tanpa rasa takut didayungnya praunya mendekat.
Benar apa yang ia lihat, seorang gadis , wajahnya pucat tubuhnya sudah membiru.
diangkatnya tubuh itu keatas prau , detak jantung nya lemah, harus buru-buru mendapat pertolongan.
__ADS_1
Marwan segera mendayung perahu nya keluar dari laut, digendongnya tubuh pucat itu ke puskesmas terdekat.
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
Entah berapa kilometer tubuh Imelda terombang-ambing terseret derasnya arus sungai hingga terbawa sampai laut bersama tumpukan sampah yang menggunung.
Tubuhnya penuh luka lebam dan goresan , terkena ranting pohon dan benturan batu.
Kuasa Tuhan masih menyelamatkan nyawanya , setelah semalaman terbawa derasnya arus sungai.
pelan-pelan mata itu terbuka, menetralkan cahaya yang masuk lewat kornea mata nya.
pandangannya menyipit seperti asing dengan tempat ini, ruangan serba putih. apa aku sudah meninggal?????
" dia sudah sadar pak dokter????"
Imelda menatap satu persatu orang dalam ruangan tersebut, dia baru sadar kalau ia masih hidup. jarum infus tertancap dipunggung tangannya,. berati aku di Rumah sakit, tapi dimana ???? kenapa tak ada yang kukenal.
" nama kamu siapa???? orang mana????"
tanya wanita paruh baya bertubuh bongsor.
" saya.....
Imelda terdiam, Apa Aku harus jujur, ??? kalau iya, aku tak mau bertemu papa lagi, tapi kalau tidak bagaimana aku kembali, siapa yang akan menjaga mama????
Imelda memegang kepalanya yang terasa nyeri. bingung tak tahu harus bagaimana.
" apa kamu salah satu korban tanah longsor dilereng gunung????"
Tanya pria paruh baya berperawakan sama dengan wanita tadi.
__ADS_1
Memang baru saja terjadi tanah longsor dilereng gunung, banyak korban berjatuhan dan terbawa arus sungai menuju laut seperti Imelda semalaman.
Imelda hanya mengangguk, lebih baik ia memenangkan diri didesa ini, baru memikirkan , bagaimana membawa pergi mamanya agar tak ketahuan papanya