
akhirnya Taxi yang ditumpangi Imelda Marwan , dan mamanya sampai.
cukup pegal juga, Berjam-jam duduk didalam mobil.
Mereka sampai dirumah minimalis, tidak terlalu besar.
hanya ada 3 kamar, ruang tamu, sekaligus ruang keluarga, dapur dan tiga kamar mandi. yang ada dikamar utama , dekat dapur dan kamar mertuanya.
Halaman rumah masih terlihat berantakan, tumpukan perabot, berserakan.
untungnya saat ini tidak musim hujan, bila iya sudah dipastikan barang-barang perabot yang ia bawa dari rumah lama Imelda sudah kehujanan.
ya perabot rumah tangga, barang-barang yang sengaja ia bawa dari rumah mewah Imelda.
untungnya pihak bank mengizinkan barang-barang tersebut diambil.
dengan menggunakan 3 truk sekaligus, akhirnya semua barang sampai, tergeletak dihalaman rumah yang akan ditempati Imelda suami dan mamanya, lokasi rumah tersebut lumayan jauh dari rumah orang tua Marwan.
Alhamdulillah kampung tempat tinggal Marwan cukup aman, setiap malam tiap warga akan digilir untuk berjaga keliling kampung,
agar tidak ada maling dan sebagainya.
jadi meski barang-barang mewah milik keluarga Imelda berserakan didepan rumah, tak ada satupun yang berani mengambil
mereka hanya melihat dan terkagum-kagum dengan barang-barang tersebut.
🕉️🕉️🕉️🕉️
Baru saja Imelda keluar , sicadel Mawar sudah berlari meminta gendong Imelda.
bocah itu sudah sangat merindukan makdenya yang sudah lama tidak bertemu.
" Mawar kenapa nangis?????"
bocah itu tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya,
bibirnya masih memble , air matanya mengalir deras,
" sudah-sudah jangan nangis, cup cup cup diem dong anak manis, nanti cantiknya hilang"
" makde ndak atan pedi nindalin awal ladi Tan?????"
" hmmmm...... tergantung......"
" huuuuuwwwaaaaaaa.........."
Bocah itu semakin menangis
" udah diem...... kalau tidak diem , makde pergi lagi....."
Mawar menggeleng, bocah itu semakin mengeratkan kedua lengannya di leher Imelda, sedikitpun tak mau melepaskan.
" mawar sayang, bantuin makde yuk ....
beresin rumah biar bersih ......"
Mawar menatap Imelda, kepalanya mengangguk, mengiyakan perintah makdenya. dengan semangat bocah cadel tersebut turun, segera berlari masuk menarik jemari Imelda.
Seakan tidak punya rasa capek, Imelda segera memberesi rumahnya, dibantu beberapa warga kampung yang suka rela datang membantu, menata setiap tempat, meski belum 💯% selesai direnovasi Imelda tetap bersemangat,
__ADS_1
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
Pagi harinya.... .
mama Imelda bangun kesiangan, semalaman dia tidak bisa tidur, menurutnya rumah sakit jauh lebih nyaman ditempati dari pada rumah menantunya ini.
badannya terasa pegal, berulang kali wanita paruh baya tersebut memijit pundak dan lehernya berharap rasa pegal-pegal ditubuhnya segera hilang.
matanya menyapu tiap ruangan, hatinya mengumpat kala kakinya menyandung kerikil-kerikil yang berserakan. karena lantainya masih tanah padas,
Dilihatnya Imelda sudah rapi, bahkan makanan untuk sarapan sudah tersaji dimeja dapur, Imelda sibuk memasukkan beberapa makanan kedalam keranjang.
" mama sudah bangun????
bagaimana tidurnya ma??? nyenyak????"
" ah..... iya sangat nyaman......"
Mama Imelda terpaksa berbohong, tak enak juga bila harus jujur akan keadaannya sekarang.
" silahkan sarapan ma,. Imelda sudah masak"
Imelda menyodorkan nasi, sambal terasi dicampur petai , ikan asin, tempe dan tahu goreng pada mamanya.
mamanya membelalakkan matanya kaget, baru pertama kali dia harus makan seperti ini, rasanya dia ingin muntah, tak bernafsu melihat menu sarapan pagi ini.
" maaf ma cuma seperti ini"
Mama Imelda tersenyum kikuk, seperti kepergok mencuri mangga tetangga, meski gelagapan, ia segera menetralkan keterkejutan nya, didepan putrinya.
Imelda hanya tersenyum, dia cukup faham dengan apa yang dirasakan mamanya saat ini dia dan mamanya dari kecil memang tak terbiasa hidup susah, uang tinggal minta , tanpa harus repot-repot kerja.
tak mungkin juga dia meninggal kan mamanya sendirian dikota, mamanya tak pernah bekerja, bagaimana nanti dia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,
biarlah kali ini Imelda egois, mengabaikan kebahagiaan mamanya untuk dirinya.
Imelda masih trauma bila harus tinggal dikota, kenangan disana cukup pahit ia rasakan,
Bila waktu itu mamanya tidak koma, mungkin dia tak akan pernah menginjakkan kakinya kembali kekota.
Imelda sangat malu akan semua dosa yang ia perbuat dulu, berani mengusik rumah tangga mantan kekasihnya Jonathan.
tapi justru kebaikan dari Jonathan yang ia dapatkan , Jonathan lah yang membiayai semua biaya rumah sakit mamanya , semenjak Imelda tinggal dikampung Marwan
bahkan sampai hari terakhir kemarin.
kamarnya pun kamar VVIP, kamar yang seharinya sampai ratusan juta,
mamanya dan suaminya tak mengetahui semua itu, Imelda beralasan semua biaya dari asuransi kesehatan.
Bukan cuma itu saja , bila Imelda masih bertahan dikota , bagaimana nasib para warga kampung yang sudah bergantung sepenuhnya pada sang suami.
apa mungkin mereka akan maju, apa mungkin kampungnya akan berjaya, bila tidak diarahkan oleh Marwan langsung, karena rata-rata mereka tak berpendidikan tinggi,
nyatanya baru ditinggal kekota, kampung kembali amburadul, pak Anwar tak cukup mampu untuk menghandle semua sendiri.
maafkan Imelda ma, bila kali ini Imelda egois
Hanya kata-kata itulah yang mampu Imelda ucapkan dalam hati.
__ADS_1
" kamu mau kemana?????"
lamunan Imelda buyar , mendengar pertanyaan dari mamanya, ditatapnya wajah mamanya dan piring didepannya seperti belum tersentuh sama sekali.
" Imelda mau kesawah ma, nganterin sarapan untuk A'Marwan, tadi belum sempat sarapan, sekalian metik sayuran buat makan siang nanti"
" kamu mau kesawah????"
" iya, emang kenapa ma?????"
" bukankah di sawah , panas, kotor, banyak hewan menjijikkan, nanti kalau badanmu gatel-gatel , hitam bagaimana????"
Imelda tertawa terbahak-bahak , melihat bagaimana reaksi mamanya bergidik ngeri membayangkan semua yang diucapkan barusan,
" mama berani kan , Imelda tinggal sendirian!???"
" memang nya kamu bakalan lama , pergi ke sawahnya?????"
" Imelda kalau sudah disawah betah ma"
Mamanya membelalakkan matanya makin kaget, secepat itukah putrinya berubah???
" disini ada salon?????"
" untuk apa salon dikampung ma???!"
" untuk perawatan kulitmu"
" hahahaha. .... mama tu aneh-aneh saja, disini serba tradisional ma, belanja saja cuma di pasar, nggak ada salon, swalayan, atau minimarket.
Alhamdulillah ini Imelda masak sudah pakai kompor gas ma ,. warga kampung lainnya masih menggunakan kayu bakar , "
ya Tuhan..... mamanya menepuk jidatnya, tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya memasak menggunakan kayu bakar.
memang kemarin dia lihat , rata-rata rumah warga kampung terbuat dari papan atau anyaman bambu, sangat jarang ada rumah berdinding batu bata seperti rumah menantunya ini. bisa dibilang rumah menantunya paling bagus dari rumah warga yang lain, bahkan rumah kepala desa nya saja cuma terbuat dari papan jati tua.
mamanya Imelda menghela nafas kasar
harus bagaimana lagi, meskipun sulit, dia harus bertahan,
dia tak akan sanggup hidup di kota sendirian, apalagi hidup di kota serba mahal,
tak akan ada orang yang mau memperkerjakan dirinya diusianya saat ini.
paling-paling cuma pembantu rumah tangga
apa bisa dia mengerjakan semua itu
baiklah mama akan berusaha menerima semua ini, meski sulit,
kulihat kau begitu bahagia dengan kehidupan mu sekarang sayang.
air mata mamanya lolos begitu saja menatap punggung putrinya berjalan menjauh meninggalkan dapur
terlihat jelas kebahagiaan terpancar dari raut muka Imelda yang ditangkap dengan jelas oleh mamanya.
padahal kehidupan nya sekarang jauh lebih mengenaskan dari kehidupan nya dikota
tapi justru kebahagiaan Imelda jauh lebih terpancar,
__ADS_1
rupanya harta tak menjamin kebahagiaan seseorang