Skenario Cinta Untuk Restu Ibu

Skenario Cinta Untuk Restu Ibu
082


__ADS_3

" Hoek...... Hoek ....... Hoek........


Rania memuntahkan seluruh isi dalam mulutnya, ketelapak tangah Reyhan.


bukan hanya satu suapan makanan yang baru saja ia coba telan


bahkan lendir bercampur cairan kuning yang terasa sangat pahit ikut keluar .


Ya tadi Reyhan segera mendekat, melihat Rania membekap mulutnya, ingin muntah saat dirayu sang ibu untuk makan .


tanpa rasa jijik , Reyhan segera menadahkan kedua telapak tangannya didepan Rania, agar istrinya muntah ditelapak tangannya .


awalnya memang Rania menggeleng, tapi Reyhan terus memaksa,


Reyhan khawatir Rania akan semakin mual bila diajak muntah ke kamar mandi,


berakhir lemas seperti tadi pagi .


karena pria itu baru saja , membaca artikel tentang ibu hamil dalam ponselnya.


jadi banyak sedikit pria itu sudah paham.


ibu Nasiha menatap heran pada Reyhan


kenapa putranya tidak merasa jijik sama sekali, Dia saja melihat muntahan Rania perutnya terasa eneg, dan sedikit ikut mual .


Tapi Reyhan dengan santainya,


bahkan pria itu kembali mengadakan telapak tangannya , setelah membuang muntahan Rania dan mencuci bersih telapak tangannya.


ibu Nasiha lebih memilih pergi menjauh, duduk di sofa yang dari tadi di duduki putranya.


bila masih ditempat itu, bisa dipastikan dirinya ikut muntah.


" lagi?????"


Rania menggeleng, Reyhan segera menyodorkan segelas air putih kepada Rania, pelan-pelan membantu istrinya minum.


" kamu ingin makan apa hem?????"


Rania kembali menggeleng,


" kamu harus makan sayang, kasian bayi kita"


Reyhan mengusap lembut perut istrinya


" ayo dicoba lagi"


Reyhan menyodorkan sesuap makanan yang tadi dipegang ibunya .


Rania menggeleng, khawatir dia akan berakhir muntah ditelapak tangan suaminya seperti tadi, dia sendiri saja sangat jijik dengan muntahannya apalagi orang lain.

__ADS_1


Tapi Reyhan tetap menyodorkan sendok tersebut didepan mulut Rania yang masih terkunci rapat.


meski ragu , Rania mencoba memakannya


anehnya, makanan itu terasa nikmat, rasa mual tadi hilang dalam sekejap.


Reyhan Terus mengulangi kegiatannya, sampai satu piring makanan ditangannya ludes tak tersisa , masuk kedalam perut istrinya.


Setelah selesai makan, Reyhan menyodorkan obat dan vitamin dari Rumah sakit untuk diminum istrinya


dan semua kegiatan itu tak luput dari perhatian ibu Nasiha.


wanita paruh baya tersebut hanya menggeleng


wanita hamil memang tidak bisa disalahkan


mereka memang sesuka hati membuat jengkel orang terdekatnya.


drrrr. ........


drrrrr...........


ponsel Reyhan bergetar, dilihatnya satu panggilah masuk dari Tio


dan 10 panggilan tak terjawab dari yang lain


. pria itu sungguh lupa memberi kabar


meninggalkan ruang meeting begitu saja


" ............"


" kau urus dulu.


Rania di RS"


" ..........."


" iya saya akan segera kesana"


Reyhan mengakhiri panggilannya.


memasukkan kembali ponselnya dalam saku celana, seulas senyum terpatri di bibir


menatap Rania yang saat itu juga menatapnya cemberut.


" ada masalah mas????"


" sedikit. ......"


Rania menunduk, seperti tidak rela bila suaminya akan pergi meninggalkan nya.

__ADS_1


mereka saja baru bertemu setelah sekian lama rasa rindu menggunung


dan sekarang kenapa suaminya harus pergi.


" aku harus kembali ke kantor sayang"


Reyhan mengusap lembut rambut Rania.


gadis itu mendongak, menatap Reyhan dan noda darah yang masih menempel di baju suaminya.


tanpa bertanya pun Rania sudah tahu kalau itu darah miliknya


meski Ragu, akhirnya gadis itu mengangguk.


masa iya suaminya harus memakai baju kotor terkena noda darah dan terciprat muntahannya tadi.


apalagi sekarang sudah masuk jam sholat dhuhur, bukankah suaminya harus menjalankan kewajiban nya sebagai muslim


tak mungkin juga , Reyhan harus sholat dengan memakai baju kotor, terkena najis darah dan cipratan muntahannya tadi


" nanti aku pasti kembali"


ucapnya sebelum melangkah pergi, tak lupa pria itu mencium kening istrinya.


Rania memeluk suaminya manja sebelum dia meninggalkan ruangan.


jangan kan ditinggal lama, satu detik pun rasanya sangat berat ditinggal pergi.


memang rasanya Rania tidak ingin berpisah dengan Reyhan. ingin selalu disampingnya


entah itu benar-benar dirinya atau bawaan orok, alias Bawaan cabang bayi????


Reyhan juga tak lupa pamit pada ibunya,


mencium punggung tangan ibu Nasiha yang duduk santai di sofa sambil menonton acara televisi.


meski agak canggung, ibu Nasiha tetap menerima uluran tangan putranya untuk mencium punggung tangannya


" Bu nitip Rania, Reyhan harus kembali ke kantor"


ibu Nasiha mengangguk, wanita paruh baya tersebut memang sendari tadi membuang muka, enggan menatap putranya yang berdiri tepat dihadapannya.


Ada rasa nyeri Juga dalam ulu hati Reyhan,


melihat sikap ibu padanya


tapi bagaimana lagi????


ini pelajaran berharga bagi dirinya, agar tidak menyia-nyiakan kesempatan .


jangan pernah mengabaikan kebaikan orang lain.

__ADS_1


dan kali ini dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga.


tidak ingin kekecewaan kembali dirasakan dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya


__ADS_2