Skenario Cinta Untuk Restu Ibu

Skenario Cinta Untuk Restu Ibu
096


__ADS_3

" sayang berhenti, kamu mau kemana?????"


Teriak ibu Nasiha, sambil berlari mengejar Rania. nafasnya ngos-ngosan. keringat bercucuran membasahi jilbab dan bajunya.


Sedikitpun orang yang dikejar tidak peduli, Rania masih tetap berlari , mengabaikan rasa nyeri dalam perutnya.


saking kencangnya Rania berlari, sampai langka lebar pak Tio tidak bisa mengejarnya.


" sebaiknya nyonya besar istirahat saja , biar nona Rania saya yang mengejar"


Memang ibu Nasiha sudah tidak kuat, wanita paruh baya tersebut lebih memilih duduk dipinggiran jalan, tak peduli gamisnya kotor terkena debu dan tanah basah.


Pak Tio masih terus mengejar, mulutnya juga ikut berteriak memanggil istri tuannya.


sampai mereka menjadi tontonan orang-orang sekitar.


wanita hamil besar berlari dikejar-kejar lelaki bertubuh kekar.


orang-orang pasti berfikiran negatif tentang keadaan seperti itu.


tapi keduanya tidak peduli.


Rania tetap berlari ingin cepat sampai , menghampiri seseorang yang dilihatnya dilokasi kontruksi


sementara Tio masih mengejar berharap nonanya berhenti,


selain karena ingin tahu, apa yang menyebabkan nona Rania berlari keluar mobil


pak Tio juga khawatir akan kondisi nona Rania.


orang sudah pembukaan akan melahirkan kenapa berlari sekencang itu.


Sampai ditempat, semua mata tertuju pada Rania dan pak Tio yang tertinggal jauh dibelakang Rania.


gadis itu memang berlari seperti melayang, tak tahu juga kenapa dia bisa berlari sekencang itu?¿????


sedikitpun tidak memperdulikan rasa nyeri dalam perutnya. tidak khawatir sedikitpun akan kondisi janin di rahimnya.


yang ia ingin tahu orang didepannya saat ini


Rania membalikkan tubuh kekar didepannya


memakai pakaian kusut , kotor bau keringat,


matanya membelalak kaget, seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


" mas Rey......"


, meskipun basah dan bau keringat Rania tetap memeluk tubuh kekar suaminya


rasa rindunya seakan membuat Indra penciumannya tidak berfungsi dengan normal


Rania melepas pelukannya, ditatanya lekat-lekat wajah sang suami.


penampilannya, kumal, kumis jambangnya tumbuh lebat dan memanjang , kulitnya jauh lebih hitam dari terakhir mereka bertemu.

__ADS_1


" massssssss ........ "


ucapnya menahan nyeri, sembari memegang perut buncitnya.


" sayang......"


Reyhan terlihat khawatir,


" mas perutku sakit......."


Darah segar mengalir disela-sela kedua kakinya.


tanpa ba-bi-bu Reyhan segera mengangkat tubuh Rania, meninggalkan lokasi proyek tanpa izin.


Reyhan segera melangkah menggendong tubuh berat istrinya,


pak Tio mengarahkan langkah kaki bosnya menuju mobil.


membukakan pintu belakang, setelah menyusul ibu Nasiha yang duduk dipinggir jalan sendirian.


sampai dirumah sakit, Reyhan kembali menggendong istrinya, dibawanya masuk, tidak sabar menunggu Tio memanggil suster agar membawakan brangkas untuk membaringkan Rania.


Bahkan Reyhan menggendong istrinya sampai diruang persalinan.


Tak lama dokter spesialis kandungan yang biasanya memeriksa kandungan Rania tiap bulan datang.


" siapakah alat-alatnya, kita mulai pembukaannya sudah lengkap"


ucapnya pada perawat disampingnya.


dokter wanita berusia 30 tahunan mulai memberi instruksi pada Rania.


" ayo terus ibu......"


" aaaaaaaaaaaaaa....... sakit mas Rey......."


Rania justru menjambak rambut suaminya.


membuat kepala sang empunya mengikuti tiap tarikan tangan Rania


" ak...u....... be....nci..... ka....mu ..... ta...hu.... , da......sar...... su.....ami....... ngg.....ak pe....ka


....su....dah......ta.....u......is.,...tri.....mu......ma ....u.....me.......la .....hir ......kan.......ma......la....h.....per. ......gi....... aaaaaaaaaaaaaa.............. saaa.......kiit ........ massssssss........


Rania terus meracau ditengah-tengah usahanya melahirkan bayi


jemarinya masih setia menjambak rambut suaminya sampai rambut Reyhan banyak yang rontok , berjatuhan dilantai rumah sakit.


"ka .........Muuuuuuuu.......Je......lle......kk. ...uda........h ......ITE. .....m......ba.......u......ke. .....RI......ngat. ....... aaaaaaaaaaaaaa.......ya....... Allah........sa.......kkiiiiiit .......... maaaaasssss


a.........ku.........sa.........ya......Ng........ka.......mu......... massssssss........Re.......y........ja.......Ng......an.........ti........Ng........ga........Li.......n........a......ku......la.........gi...........


ma. .......AF.....ka......n......Ra......ni......aaaaaa. ....ma.....s.........


" ayo terus nyonya sedikit lagi..... bayinya akan keluar......

__ADS_1


ayo..... tarik napas..... hembuskan perlahan"


Ruangan persalinan sungguh sangat ramai


selain teriakkan Rania, sang dokter terus mengintruksikan Rania agar kuat selama proses melahirkan cabang bayi


oek.....oek......oek......


Dengan sekali tarikan , bayi berjenis kelamin perempuan akhirnya lahir.


sang dokter segera meletakkan bayi yang masih merah diatas dada Rania


melakukan IMD.


Tangis bayi perempuan menggema, memenuhi seluruh ruangan


Dokter tersebut segera mengangkat bayi yang masih menangis dengan kencang kepada Reyhan agar segera diadzani


Dengan tubuh gemetar , Reyhan mengankat bayinya, pelan-pelan ia mulai mengadzani bayinya. Rasa syukur ia panjatkan bersama setiap lafal kumandang adzan yang keluar dari mulutnya.


🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️


Ibu Nasiha menimang cucu pertamanya, ada rasa menyesal dulu pernah meminta Rania menggugurkan bayinya.


tangis kebahagiaan terpancar


diciumnya berulang kali, bayi yang tertidur nyaman dalam bedongan.


Rania dan Reyhan hanya menatap sambil tersenyum, melihat kebahagiaan ibunya menimang cucu pertamanya


" mas kamu kenapa dulu pergi????


Reyhan mengalihkan pandangannya pada Rania yang bersandar nyaman pada dada bidangnya.


pria itu sudah mandi dan berganti baju setelan diambilkan oleh Jemy.


Reyhan hanya mengulas senyum, enggan menjawab pertanyaan istrinya.


memang saat kepergiannya tidak ada maksud lain, hanya emosi mendengar Rania mengatakan kalau dirinya takut miskin


cuma ingin membuktikan meski mempunyai ijazah S2 pria itu tidak malu bila harus bekerja menjadi buruh bangunan.


ya selama pergi Reyhan menjadi buruh bangunan, berpanas-panasan


nyatanya ia masih bisa bertahan hidup, bisa mengumpulkan uang, meski harus berkotor-kotoran dan Bermandi keringat.


selain itu, ingin membuat ia lebih menghargai orang kecil, biasanya dia tinggal perintah


dan saat itu dia diperintah, dimarahi bila pekerjaannya tidak sesuai.


" ingin kalian kasih nama siapa????"


Rania menatap ibunya dan Reyhan bergantian


" Risya Annida Bu"

__ADS_1


Rania tersenyum menatap suaminya, kepalanya mengangguk tanda setuju dengan nama yang dipilih suaminya


__ADS_2