
tepat pukul sebelas siang, Reyhan dan Rania berpamitan pulang, awalnya Rania menolak keras, tapi Reyhan memang ada janji makan siang dengan clean, jadi mau tak mau keduanya harus pamit.
" mas kenapa ngajakin aku????"
Rania mengerucut kan bibir , kedua tangannya ia letakkan diperut,
gadis itu jengkel karena dipaksa oleh Reyhan untuk ikut makan siang bersama clean nya
padahal Rania sudah membujuk , akan menunggu dirumah mama Irma
" biar Bu bos memantau langsung pekerjaanku"
Rania tidak menjawab, gadis itu membuang muka keluar jendela
alasan yang diucapkan Reyhan tidak masuk akal sama sekali, membuat nya semakin jengkel dibuatnya.
sepanjang perjalanan hanya suara deru mesin mobil yang terdengar, Reyhan yang fokus akan jalanan sementara Rania menatap keluar jendela, masih merasa jengkel pada sang suami.
Mobil Reyhan berhenti disalah satu Restoran ternama. dihalaman parkiran, Tio sudah menunggu, pria itu segera membukakan pintu untuk Rania.
" makasih......!!!!!!!!"
Rania nyengir, pada pak Tio, pria itu hanya membungkukkan badannya,
" apa pak Candra sudah datang??????"
Reyhan bertanya pada Tio, sembari menggandeng jemari istrinya, diajaknya berjalan memasuki Restoran, agar segera sampai ruangan yang telah di boking.
" belum tuan......."
jawab Tio sopan .
pria itu berjalan dibelakang Reyhan.
Sampai diruangan VIP , tangan Tio segera menarik kursi untuk diduduki Rania,
" makasih...... pak Tio...... perhatian banget dari tadi sama aku????"
Reyhan bedehem.....
tatapan nya menatap Tio, tak suka istrinya malah memuji pria lain
Tio hanya menunduk, tak berani menatap Balik pada bosnya.
" massssssss..... ini sama ini enakan yang mana mas?!????"
Rania berusaha mengalihkan tatapan Reyhan pada sang sekertaris yang menundukkan kepala.
Reyhan segera mengikuti arah telunjuk yang ditunjuk istrinya pada buku menu yang diberikan pelayanan saat ketiganya baru saja mendudukkan tubuhnya dikursi masing-masing
" pesan saja semuanya "
" massssssss..........!!!!!!"
" iya...... ada apa sayang.......????"
__ADS_1
Tangan Reyhan mengusap lembut kepala Rania yang tertutup hijab.
" maaf apa kalian sudah menunggu lama?????"
perhatian mereka teralihkan pada pria paruh baya yang baru saja datang.
" oh .... pak Candra,.... silahkan duduk pak"
" terima kasih......"
mereka saling berjabat tangan, namun mata Candra tiba-tiba terfokus pada gadis yang duduk disebelah Reyhan.
" kenalkan ini Rania, istri saya"
Rania menangkupkan kedua telapak tangannya. badannya ia bungkukan.
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
acara makan siang pun berlangsung
disusul dengan membahas mengenai proyek kerjasama antar kedua perusahaan.
Rania nampak bosan, karena gadis itu tidak mengerti dengan apa yang diobrolkan para pria didepannya.
tepat setengah dua siang, mereka mengakhiri acara tersebut.
" senang bisa bekerja sama dengan anda"
Reyhan dan pak Candra saling berjabat tangan, sebagai akhir pertemuan mereka
Reyhan, Rania dan Tio berhenti di mushola dalam Restoran tersebut.
ketiganya langsung menjalankan sholat dhuhur,
setelah sholat dhuhur, barulah mereka berpisah
Tio kembali ke Perusahaan, sementara Reyhan dan Rania pergi ke rumah sakit untuk menjenguk anak mbak Narti.
setelah melakukan perjalanan beberapa menit di dalam mobil , akhirnya mereka sampai tujuan.
Rumah sakit tempat anak dari Narti sahabat Rania dirawat
keduanya berjalan melewati setiap lorong , mencari ruangan , kamar rawat anak Narti berada.
sampai lah didepan ruangan cukup luas, mungkin terdapat 10 pasien sekaligus dalam ruangan tersebut
terbukti terdapat ranjang berjajar rapi , dan ramainya orang didalamnya.
Rania celingukan mencari sahabat nya berada, setahunya memang diruangan ini pasien dirawat inap,
tapi setelah dicek beberapa kali mata Rania belum juga menemukan yang ia cari sendari tadi
" kamu tak salah kamar?????"
tanya Reyhan yang melihat istrinya mulai kelelahan , mencari sahabatnya berada.
__ADS_1
Rania hanya mengangguk kan kepala sebagai tanda mengiyakan atas pertanyaan dari sang suami
Dengan malas , gadis itu menyeret langkahnya keluar ruangan,
entahlah dia sudah putus asa, tidak bisa menemukan sahabat nya dalam ruangan tersebut.
" Rania.... .!!!!!!!"
Gadis itu menoleh , mencari asal suara.
matanya mengedar ,
suara tadi sangat familiar ditelinga Rania.
Mata gadis itu berbinar melihat sosok yang sendari tadi dicarinya .
dengan berlari kecil, langkah kaki Rania terus mendekat .
Rania dan Narti langsung tenggelam dalam obrolan, Rania duduk di tepi ranjang pasien , tempat anak Narti duduk santai
sementara Narti duduk di kursi
Reyhan berdiri disamping istrinya, matanya mengedar , melihat betapa ramainya rumah sakit ini . pandangan nya kembali terfokus kepada istri dan sahabatnya, keduanya asyik ngerumpi hingga mengabaikan keberadaan nya sendari tadi
bahkan anak berusia 9 tahun itu, sedikitpun tidak terganggu akan hebohnya orang-orang sekitar, terutama istri dan sahabatnya.
anak itu asyik bermain game dalam ponselnya.
meski tangannya terpasang infus, sedikitpun anak itu tidak terganggu.
lima menit ........ sepuluh menit. ...... hingga seperempat jam, .....
lama kelamaan pegal juga berdiri, kedua wanita didepannya benar-benar mengabaikan keberadaan nya.
Reyhan bersandar pada ranjang , tempat anak Narti dan istrinya duduk.
Tapi ranjang itu malah bergeser, membuat ketiga manusia yang dari tadi mengabaikan keberadaan Reyhan , menatap Reyhan sungkan.
Narti seketika berdiri, menggeser kursi yang ia duduki kearah Reyhan .
" silahkan duduk tuan......"
Narti cengengesan , merasa bersalah.
untungnya tiba-tiba ponsel Reyhan berdering.
jadi dia punya alasan untuk bisa pergi dari keramaian kamar rawat pasien , menengah kebawah .
" Aku tunggu didepan ya????
nanti hubungi aku"
Reyhan segera melangkah pergi, sembari mengangkat ponselnya.
sampai didepan rumah sakit, pria itu duduk disalah satu kursi , lumayan jauh dari yang lain, sembari mengobrol dengan orang disebrang telefon, Reyhan mengeluarkan rokok dan korek api. untuk menemaninya
__ADS_1