
tok.....
tok......
tok......
" Rania.......!!!!!!"
" Rania.......!!!!!"
Berulang kali, ibu Nasiha mengetuk pintu kamar Rania sambil berulang kali pula memanggil namanya.
padahal pintu itu tidak terkunci, hanya tertutup rapat.
tapi ibu Nasiha enggan untuk membukanya langsung, lebih memilih memanggil nama menantu kesayangan nya dari luar kamar.
Mendengar ketukan pintu beberapa kali. Reyhan terjaga dari tidurnya.
ya memang tadi pagi dia dan Rania mengobrol sampai tak ingat waktu, bahkan Rania sampai tidak sarapan.
lebih memilih membaringkan tubuhnya disamping Reyhan berbaring
dan berakhir tidur diranjang yang Sama karena semalaman tidak tidur.
mata Reyhan menatap gadis dalam pelukannya masih tertidur nyenyak.
dibelainya rambut Rania pelan
" sayang......"
" yang........"
" Rania......"
hingga panggilah ketiga kalinya Rania baru memberinya respon ,
" hmmmm......"
" Rania......"
" nanti sajalah mas, Rania masih ngantuk"
Rania makin mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar suaminya.
" dipanggil ibu tu"......
seketika mata Rania terbuka , memasang telinga agar mendengar , apa yang diucapkan suaminya tadi.
Rania segera beranjak bangun, menghalau rasa kantuk yang sendari tadi hinggap pada kedua kelopak matanya yang ingin terpejam kembali,
" iya Bu ......"
jawabannya sembari membuka pintu.
ibu Nasiha menatap sinis pada sosok pria yang masih terbaring diatas ranjang, juga menatapnya sayu.
__ADS_1
" mulai malam ini kamu tidur sama ibu, sampai pria itu pergi dari rumah ini"
Rania membelalakkan matanya kaget akan ucapan ibu mertuanya barusan.
berbicara dengan tegas, tanpa ada senyuman yang biasa menghiasi bibirnya
Rasa tak percaya jelas hadir dalam benak Rania, tapi tetap saja , dia tak berani membantah ibu mertuanya.
ibu Nasiha langsung melangkah pergi meninggalkan Rania yang menundukkan kepalanya, sesekali matanya melirik Reyhan diatas ranjang.
faham akan maksud istrinya Reyhan hanya menganggukkan kepalanya tanda mengizinkan.
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
Malam harinya. ......
ibu Nasiha memeluk tubuh Rania, setelah keduanya membaringkan tubuh mereka diatas ranjang,
sesekali telapak ibu Nasiha membelai rambut Rania, menatanya agar tidak berantakan, atau sekedar menyelipkan anak-anak rambut yang menutupi wajah Rania kebelakang telinga.
seperti ibu yang menina bobokan anaknya
mulut ibu Nasiha tak henti melantunkan sholawat agar anak dalam dekapannya terlelap dalam tidur nyenyaknya.
sementara mata Rania sudah terpejam. sendari tadi, ia sedikitpun tak peduli, lebih memilih mengarungi samudera mimpi yang indah.
mungkin karena balas dendam semalaman tidak tidur
bukankah balas dendam tidur lebih lama ketimbang hutang tidurnya???.
Dikamar sebelah.....
ingatannya Melayang mengingat kata-kata ibunya tadi siang.
meskipun sudah mengizinkan ia tinggal, tapi tetap saja ibunya masih mendiamkan nya.
bahkan seharian, sedikitpun ia tak diajak bicara oleh ibunya.
jangan kan mengajaknya bicara, ditanya saja tidak menjawab.
Dia lebih memilih mengurung diri didalam kamar, selain karena tubuhnya yang masih lemas dan demam, Reyhan tak akan sanggup melihat ibu kandungnya acuh padanya.
sementara Rania dia masuk hanya saat mengambil baju untuk mandi dan mengantarkan makanan untuknya.
tidak ada acara suap-suapan seperti tadi pagi
obrolan hangat juga tidak terjadi.
tapi ya sudahlah setidaknya dia masih bersyukur karena Rania tidak ikutan marah, kepadanya.
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
Ditempat lain
Rumah sakit tempat ibu kandung Imelda dirawat.
__ADS_1
tangis kebahagiaan Imelda tak dapat ia sembunyikan , bahagia melihat ibunya kembali sadar. bisa tersenyum dan berbicara kepadanya seperti dahulu.
" Mama Imelda bahagia, akhirnya mama sudah bangun"
Imelda memeluk tubuh mamanya yang bersandar diatas ranjang rumah sakit
setelah dokter memastikan kondisi mama dari Imelda semakin membaik.
" Imelda......."
mata ibu dan anak beralih pada sosok pria yang baru saja masuk nyelonong tanpa permisi. nafasnya masih naik turun karena berlarian dari lobi rumah sakit
Ditatap dua wanita berbeda usia Marwan kembali mengatur deru nafasnya agar kembali normal.
ucapnya juga terpotong, melihat sorot mata ibu mertuanya penuh tanda tanya.
pelan-pelan langkah lebar Marwan mendekat
diambilnya punggung tangan ibu mertuanya dan segera dia cium , sebagai wujud penghormatan, kepada yang lebih tua.
" mama maafkan Imelda....."
Imelda menundukkan kepalanya,
rasa penyesalan nampak jelas terpatri diwajah cantiknya.
" kenalkan ini A'Marwan , suami Imelda"
mama Imelda menatap anak dan seorang pria yang baru saja masuk, secara bergantian.
tak ada kata yang terlontar dari mulutnya,
tapi tanda tanya masih berputar-putar dalam pikirannya.
akhirnya Imelda menceritakan secara detail, kisahnya, dari mamanya yang jatuh dari tangga berakhir koma
pemaksaan papanya agar Imelda menaruh obat perangsang diminuman Jonathan,
gagalnya rencana, hingga bagaimana kisah terjadinya pertemuan Imelda dengan Marwan dan bersatu dalam ikatan pernikahan.
" lalu ..... bagaimana papamu nak?????"
mama Imelda masih menangis , hatinya sedih mendengar cerita anak semata wayangnya.
ibu mana yang tidak sedih , mendengar anaknya diperlukan seperti itu oleh ayah kandungnya sendiri hanya demi harta.
" maafkan Imelda mama, ..... papa sekarang berada dipenjara."
mama Imelda bernafas lega, akhirnya anak perempuan nya bisa terbebas dari ayahnya yang jahat .
" Alhamdulillah, papa merestui pernikahan kami, papa juga yang menjadi wali nikah saat aku menikah, walaupun AQat Nikah kami dilangsungkan secara tertutup dan di lokasi kantor polisi, tapi Imelda tetap bahagia dan bersyukur mama"
Imelda memeluk tubuh mamanya
tangisnya pecah dalam dekapan sang ibu.
__ADS_1
mama Imelda hanya bisa menghela nafas panjang.. entah ia tak tahu harus bagaimana
ia sudah pasrah akan jalan hidup yang sudah dituliskan oleh sang pencipta