
" dokter....... suster....... tolong istri saya......"
Teriakkan Reyhan menggema , di lobi rumah sakit, hingga banyak pasang mata , menatap Reyhan.
tak lama beberapa suster datang mendekat, membawa brangkas untuk membaringkan tubuh Rania.
Brangkas segera didorong, ibu Nasiha, Reyhan dan beberapa suster segera berlari sambil mendorong brangkas menuju ruang UGD.
jemari Rania terus menggenggam tangan Reyhan, menatapnya sayu. menahan rasa sakit dalam perutnya.
sampai didepan ruang UGD, ibu Nasiha dan Reyhan dilarang masuk
keduanya menunggu didepan ruangan.
Reyhan duduk dilantai, kepalanya tertunduk menghadap lantai, kedua matanya terpejam, sembari menjambak rambut bagian belakang.
ibu Nasiha mondar mandir, sesekali matanya melirik ke arah putra semata wayangnya.
ada rasa kasian melihat betapa putranya mengkhawatirkan istrinya.
Cukup lama keduanya menunggu, sampai seorang pria paruh baya keluar dari dalam ruangan.
ibu Nasiha buru-buru mendekat.
" bagaimana kondisi putri saya dok????"
" bisa kita bicara diruangan saya?????"
Reyhan dan ibu Nasiha segera mengikuti langkah kaki dokter tersebut menuju ruangannya. Reyhan dan ibu Nasiha segera duduk setelah dipersilahkan.
" bagaimana kondisi putri saya dok????".
ibu Nasiha mengulangi pertanyaannya,
" ada kabar bahagia, juga memprihatinkan"
" maksudnya dok?????"
ibu Nasiha sudah tidak sabar akan jawaban dokter paruh baya didepannya.
" selamat Bu, putri anda posisi hamil"
Reyhan tersenyum bahagia, akhirnya, istrinya hamil, dia akan menjadi seorang ayah
semoga dengan hadirnya buah hatinya, ibunya bisa luluh merestui hubungannya dengan Rania , seperti dahulu.
Berbeda dengan ibu Nasiha.
wanita paruh baya tersebut, nampak kaget
bagaimana mungkin putrinya bisa hamil,???
hamil anak siapa???
setahunya Rania tidak dekat dengan pria manapun, bahkan anaknya sendiri , ia larang untuk mendekati sang putri.
" tapi kondisi ibu dan janinnya sangat lemah, ditambah sepertinya nona Rania sudah lama tidak mendapatkan asupan makanan.
__ADS_1
dan hal itu membuat lambungnya terluka"
apa Pasien sangat tertekan????"
Deg.......
ibu Nasiha terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan sang dokter.
" memang hamil di trimester pertama sangat rentan keguguran, di masa seperti ini harusnya pasien dibuat serileks mungkin, dilarang kecapean, dan berfikiran terlalu berat
mungkin pasien sangat tertekan hingga menyebabkan beliau mengalami Pandarahan.
untungnya cepat segera ditangani , kalau tidak bisa dipastikan pasien akan keguguran"
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
sepanjang perjalanan menuju ruangan dimana Rania dirawat, karena Rania sudah dipindahkan ke kamar rawat , ibu Nasiha hanya terdiam. kata kata sang dokter terus terngiang difikiranya.
Sampai didalam ruangan VVIP.
ibu Nasiha menatap putrinya yang tersenyum melihat kedatanganya dan Reyhan.
ibu Nasiha mendudukkan tubuh rentanya dikursi samping Rania berbaring.
" anak siapa yang kau kandung?????"
pertanyaan itu lolos begitu saja, Rasa penasaran sudah menguasai hati dan fikiran ibu Nasiha
Rania menatap ibunya kaget, dan refleks memegang perutnya yang masih rata, senyumnya mengembang.
" Rania beneran hamil??????"
" Alhamdulillah.... Bu akhirnya ibu akan menjadi seorang nenek"
" kenapa kamu justru bahagia?????
sebenarnya anak siapa itu?????"
" Astagfirullah ibu..... ini cucu ibu, darah daging ibu , Rania kan punya suami, jadi wajar bukan Rania hamil, cucu ibu"
ibu Nasiha menatap tajam kearah Reyhan, bagaimana mungkin, Rania bisa hamil, sementara dia selalu melarang anaknya mendekati putrinya.
" gugurkan bayi itu ......."
Deg.......
jantung Reyhan dan Rania seakan berhenti berdetak, bagaimana mungkin ibunya bisa berucap seperti itu, seperti tidak percaya.
" tidak ibu, Rania akan mempertahankan anak ini, meski sesulit apapun, ini darah daging Rania ibu"
Rania memeluk perutnya, air matanya sudah mengalir dengan deras.
" ibu tak ingin melihatmu semakin menderita sayang"
" justru Rania akan menderita , bila anak ini pergi, "
" apa kamu siap menanggung penderitaan????
__ADS_1
kamu tahu sendiri, siapa pemilik hati seorang yang kau anggap suamimu itu?????"
Reyhan duduk bersimpuh di kaki ibunya,
" Bu kali ini percayalah dengan Reyhan ibu,
Reyhan sangat mencintai Rania, Reyhan sudah tak memiliki hubungan apapun dengan Rosellyn, izinkan Reyhan bahagia bersama Rania"
ibu Nasiha berdiri, menatap tajam ke arah putra semata wayangnya.
" mudah sekali kau bicara seperti itu????
setelah kau meniduri Rosellyn, dengan gampangnya kau bilang cinta pada Rania?"
" Ya Allah ibu, waktu itu Reyhan dijebak, Reyhan tidak sadar jadi......."
ucapan Reyhan terpotong akan bentakan ibunya
" jadi kau sangat menikmatinya, dan sekarang kau ingin membuat Rania menderita, dengan ucapan cinta palsumu itu???????"
Rania segera turun dari ranjang, meski sangat kesulitan , dia memaksa turun , ikut bersimpuh dikaki ibunya.
tak perduli dengan kondisi tubuhnya yang masih lemas , dan darah sudah naik di selang infus yang terpasang di punggung tangannya.
" Rania kau apa-apaan????"
ibu Nasiha mencoba membantu Rania berdiri
tapi Rania Terus menolak.
" tidak ibu, Rania akan terus seperti ini , sampai ibu merestui hubungan kami"
" izinkan kami bersama ibu, kasian cucu ibu , bila lahir tanpa didampingi seorang ayah"
ibu Nasiha menatap Reyhan dan Rania .
keduanya masih bersimpuh dikakinya
haruskah, percaya???? memberi restu????
apakah Reyhan benar-benar mencintai Rania???? atau hanya akal-akalan semata???
" baiklah, ibu akan memberi kesempatan terakhir untukmu Reyhan"
Reyhan dan Rania bahagia, keduanya segera mencium kaki ibunya.
akhirnya mereka bisa bersama, tanpa harus tersiksa oleh rindu.
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
Rania membekap mulutnya, kepalanya menggeleng makanan yang masuk ke dalam mulutnya , rasanya ingin keluar, meski dipaksa, tetap saja makanan itu memaksa untuk keluar.
" ayo sekali lagi"
ibu masih berusaha merayu putrinya, agar perutnya terisi asupan nutrisi yang baik untuk tumbuh kembang janin yang ada dalam perut Rania saat ini.
Baru saja satu suapan, makanan yang disediakan rumah sakit , sedikitpun tak mau masuk,. perut Rania makin mual
__ADS_1
padahal dirinya harus segera minum obat