
Suasana hening menyelimuti Taxi yang ditumpangi oleh Marwan, Imelda dan mamanya, . Hanya suara deru mesin mobil yang menggema mengisi kesunyian yang tercipta.
Perjalanan panjang dari kota , tempat Imelda dilahirkan dan tumbuh besar , menuju kampung halaman Marwan,
Awalnya Marwan ingin membuat kejutan untuk sang istri tercinta , memberi hadiah rumah impian sesuai dengan keinginan Imelda dulu , Rumah minimalis penuh dengan bunga-bunga yang menghiasi halaman.
Tapi semuanya gagal total, saat tak sengaja Imelda mendengar obrolan Marwan via telepon dengan mandor yang menangani langsung pembangunan rumahnya.
Memang saat ditinggal Marwan kekota untuk menemani mertuanya yang masih terbaring koma, Marwan mulai membangun rumah minimalis , rancangan sang istri saat mereka ngobrol beberapa hari sebelum merencanakan pergi ke kota.
memang Imelda tak minta neko-neko hanya rumah minimalis satu lantai , yang penuh akan bunga dihalaman rumah nya , agar terasa sejuk, dan damai, tidak seperti di kota dengan pemandangan polusi asap udara memenuhi penglihatan mata.
Belum sempat keinginan itu terwujud, Imelda sudah merengek meminta pulang kembali ke kampung , tempat lahirnya Marwan dengan berbagai alasan.
padahal rumah belum 💯% jadi total. dinding nya masih terlihat bata merah, belum selesai diplester dan dicat agar menarik dan lebih bersih, lantainya pun masih tanah padas.
terdapat batu , dan bekas adukan pasir dan semen yang mengotori setiap sudut.
meski, sudah diberi atap , genting dan pintu sudah dipasang, tapi tetap saja Marwan tidak enak hati.
mengetahui kalau sang istri sendari bayi hidup berkecukupan , ditempat yang bersih, aman dan damai,
Dan lihatlah sekarang, sang istri harus tinggal dirumah yang belum selesai direnovasi.
Berbeda dengan orang asli kampung tempat tinggal Marwan.
sudah menjadi hal lumrah, rumah yang belum selesai dibangun sudah ditempati,
__ADS_1
yang terpenting sudah terpasang pintu , atap, kamar tidur, kamar mandi, dan dapur.
kadang jendela hanya akan ditutup dengan papan kotor , penuh dengan adonan pasir dan semen yang sudah mengering.
pelan-pelan akan diperbaiki , sambil menunggu perjalanan waktu dan tabungan yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit tiap bekerja.
Terkadang anak-anak mereka sudah tumbuh dewasa, rumah mereka baru selesai, direnovasi. malah ada juga yang membiarkan rumah mereka tetap seperti itu, sampai mereka mempunyai cucu.
sangat jarang ada rumah berdinding batu bata dikampung halaman Marwan
lebih banyak dari papan atau anyaman bambu
hanya orang-orang tertentu yang memiliki rumah berdinding bata
" mama maafkan Marwan , bila di kampung nanti mama kurang nyaman , karena tempat yang kotor dan terpencil"
melihat dua wanita berbeda usia yang hanya terdiam melihat ke luar jendela dengan pikiran masing-masing .
keduanya mengalihkan perhatian mereka pada pria yang duduk disamping sopir.
terlihat jelas kekhawatiran yang ditangkap kedua wanita berbeda usia tersebut, dari raut wajah yang ditunjukkan Marwan kepada mereka
mama Imelda mengulas senyum, menetralkan kekhawatiran yang dirasakan sang menantu padanya .
dia sudah bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang akan mereka jalani nanti
tapi inilah kehidupan, jalan takdir yang sudah digariskan oleh sang pencipta.
__ADS_1
harta tak menjamin kehidupan seseorang akan bahagia, terbukti kehidupan mereka dulu
mungkin akan sangat berat, hidup dalam kekurangan ekonomi , yang terbiasa bergelimang harta, segalanya tinggal perintah, tanpa perlu susah-susah mengerjakan tiap tugas.
Dan mulai hari ini , segalanya harus dikerjakan sendiri , tanpa ada pembantu yang akan membantu mengerjakan segala tugas rumah tangga.
tapi harus bagaimana lagi tak ada pilihan
melihat kebahagiaan sang putri lebih menyenangkan daripada harus memikirkan bagaimana kehidupan nya nanti.
dia lebih memilih hidup dalam kekurangan ekonomi , dari pada bergelimang harta tapi anak semata wayangnya menjadi boneka yang dikendalikan, tak bisa memilih kebahagiaan nya sendiri.
" tidak apa-apa, yang penting Imelda bahagia"
mendengar namanya disebut, Imelda menggenggam tangan mamanya, hatinya terenyuh, akan ucapan mamanya barusan.
air matanya mengalir tak diminta, membasahi pipi wajah Imelda yang tertutup Mike up natural.
mamanya menggelengkan kepalanya, sebagai tanda tak mengizinkan Imelda menangis, sembari mengusap lembut air mata yang membasahi kedua pipi Imelda.
" maafkan Imelda , dan A'Marwan ma
bila nanti dikampung kehidupan kita tak seenak saat tinggal dikota"
" yang penting kamu bahagia sayang, sudah lebih dari cukup untuk kebahagiaan mama"
Imelda memeluk mamanya erat, tangisnya makin pecah,
__ADS_1
dia bahagia, mendengar ucapan mamanya.