
Mata tajam Reyhan menatap Rania dari kejauhan . melihat gadis itu yang berkeliling membawa keranjang berisi penuh jajanan yang siap ia jual ditawarkan pada setiap orang yang dilihatnya.
Dia tetap diam duduk dibalik kemudi melihat gadis yang masih sah menjadi istrinya sedang kesusahan membawa dagangan. peluh dan capek terlihat jelas dari raut mukanya,
meski hatinya ada rasa rindu, ingin dia peluk dan ***** bibir yang sudah menjadi candunya .
tapi emosi dan segala ucapan Rosellyn terus berputar dalam benaknya .
yang dia inginkan hanya ibunya tak lebih.
dia masih bingung menentukan hati pada istrinya. apakah cinta atau hanya kebutuhan biologis semata.
kaki Rania mulai berjalan mendekat ke arah mobil yang ditumpangi Reyhan, Rania tak menyadari sendari tadi ada mata yang terus mengawasi setiap gerakan nya.
" jajan jajan, berbagai jenis, .....
silahkan Bu. ....
kaki Rania berhenti didepan ibu-ibu yang sedang berkumpul. ingin membeli dagangan yang ia jajahkan.
" makasih Bu......"
ucapnya berlalu pergi , setelah memberikan apa yang dibeli ibu tersebut.
" Mbk....."
ucap Reyhan singkat, saat kaki Rania tepat melintas disamping mobilnya, Rania benar-benar tak tahu kalau itu adalah suaminya.
" iya om.... mau beli, silahkan, beli apa, ini ada berbagai jenis, ada kue lupis , pisang crispy, onde-onde, . bisa dicoba dulu kalau anda berminat."
Rania terus menawarkan seluruh dagangan nya, kedua matanya tertuju pada dagangan dalam keranjang, sesekali tangannya terangkat menunjukkan tiap kue tersebut.
" jadi mau beli yang mana om, yang in......
mas Reyhan. ......"
__ADS_1
ucapnya terpotong tatkala mata mereka bertemu.
seulas senyum terukir dibibir mungil Rania.
rasa rindu, akibat beberapa hari tak bertemu membuat nya ingin sekali memeluk tubuh sang suami.
" mas Rey...,. gimana kabarnya?????"
akhirnya hanya Kata itulah yang keluar dari mulutnya.
Reyhan membuang muka, tak mau menatap Rania , tekatnya sudah bulat, tak ingin goyah akan tatapan gadis yang sangat ia rindukan.
" buruk....."
" maafkan aku mas"
" bagus pergilah..... tinggalkan ibuku"
Rania menyipitkan matanya
" Ibu Nasiha ibuku, dan dia meninggalkan ku demi kau. jadi kuharap kau sadar , siapa kamu, dan kuharap kau tau apa yang aku inginkan. sebelum aku sendiri yang akan menyeretmu pergi sejauh mungkin."
" jadi mas Rey mengusirku.....???"
" ya....!!!!!"
" baiklah aku akan pergi, setelah mengembalikan ini pada ibu"
" tak perlu, tinggal kan saja disitu,"
Rania mengangguk , dan segera melangkah pergi, tanpa tahu arah dan tujuan, tak membawa uang dan pakaian.
Reyhan benar-benar membuang muka, rasa tak tega menggelayut dalam sanubarinya. tapi kembali lagi, dia hanya ingin ibunya, kembali ke sisi kehidupan seorang Reyhan Alvaro.
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
__ADS_1
" ibu........"
panggil Reyhan melihat ibunya duduk seorang diri didalam tokoh.
ibunya membuang muka, dia masih kecewa akan Apa yang dilakukan anak semata wayangnya. yang tega membohongi dirinya.
" Bu maafkan Reyhan......"
Reyhan bersimpuh di kaki ibunya, berharap kata maaf ia dapatkan. tapi dugaannya salah, justru ibu melangkah pergi meninggalkan Reyhan seorang diri dengan berjuta kekecewaan dalam sanubarinya.
ibu menutup pintu rumahnya rapat, mengurung diri di dalam kamar, enggan untuk bertemu dengan Reyhan.
Waktu terus berputar, tak terasa malam datang menjelang.
ibu Nasiha benar-benar meninggalkan tokonya, tak peduli akan ada orang yang datang membeli dagangannya.
Sehabis Magrib , ibu baru sadar bahwa Rania tak kunjung pulang, rasa khawatir datang menyapa. Dimana Rania berada ,??? tak biasanya sampai magrib belum pulang.
Dibukanya pintu lebar-lebar menunggu menantu kesayangan nya diambang pintu berharap cepat datang kembali pulang.
tapi sampai jam 10 orang yang ditunggu tak kunjung datang. rasa kantuk sudah datang menyerang, tapi Ranianya belum juga kembali
Matanya tertuju pada mobil yang terparkir dihalaman rumah nya, penasaran siapa malam-malam datang bertamu.
dilihatnya dua orang berpakaian hitam seluruh mukanya ditutup hanya memperlihatkan kedua bola matanya saja.
tanpa permisi keduanya mengangkat tubuh renta ibu Nasiha, ditempelkan nya sapu tangan yang sudah dibius. agar ibu Nasiha pingsan dan mudah untuk dibawa. tanpa teriakan yang menggangu kerja keduanya.
setelah membaringkan tubuh ibu Nasiha dijog belakang .
mobil melaju pelan meninggalkan rumah kontrakan tempat ibu Nasiha tinggal beberapa hari ini bersama Rania.
" semua beres bos......"
ucap salah satu orang yang membawa ibu Nasiha . kepada seseorang disebrang telefon.
__ADS_1