
Rania masih membekap mulutnya,. wajahnya sudah merah kebiruan , air mata mengalir dengan deras, dia mendorong pelan sendok berisi nasi tepat didepan mulutnya.
yang disodorkan Irma.
" sayang.......!!!!!!"
panggil Irma pelan, bingung juga khawatir melihat wajah Rania sekarang.
disodorkan gelas air putih, Rania hanya menggeleng lemas
ibu Nasiha memeluk tubuh Rania, mengusap punggungnya pelan.
memberikan ketenangan. sesekali membalurkan minyak kayu putih ke tubuh Rania
" mau muntah??????. ayo mama bantu ke kamar mandi"
Irma masih setia menawarkan bantuan pada Rania, wajarlah melihat sendari tadi Rania hanya membekap mulut. rasa khawatir pasti datang menghampiri Irma
ibu Nasiha bingung , bagaimana menjelaskan kondisi Rania saat ini.
Rania hanya butuh Reyhan.
tapi tak juga bisa mengutarakan langsung,
Jonathan datang mendekat, tanpa permisi pria itu mengankat tubuh Rania, dibawanya menuju kamar mandi,
disusul Irma yang selalu setia memegang cairan infus yang masih menggantung
ibu Nasiha kaget, ia menepuk keningnya pelan, tak tahu harus berbuat apa.
ditatapnya pintu kamar yang masih tertutup rapat. berharap putranya segera kembali dan kondisi menantunya kembali stabil.
Dikamar mandi Rania masih berusaha memuntahkan seluruh isi dalam perutnya rasa mual, enek masih menguasai . tapi sampai seperempat jam
Muntaha itu tak kunjung keluar.
wajahnya sudah merah kebiruan, seperti orang yang menahan nafas terlalu lama, keringat dingin membanjiri, air mata tak henti-hentinya keluar
Hoek. .. hoek..... Hoek......
__ADS_1
sedikitpun tak keluar apapun. tubuhnya semakin lemas .
Rania menunjuk Ranjang, ingin kembali
berharap kondisinya segera membaik setelah berada diatas ranjang.
Jonathan yang masih berada disamping Rania , dengan sigap mengankat tubuh mungil adik angkatnya .
Irma semakin khawatir, sebenarnya ada apa???? kenapa dengan Rania????
ditatapnya sayu wajah mengenaskan Rania. kondisinya semakin memprihatinkan.
Belum sempat Jonathan sampai ranjang , Rania meminta turun.
gadis itu seperti kebingungan, telapak tangannya masih setia membekap mulut.
mencium aroma Jonathan semakin membuatnya mual
Hati-hati Jonathan menurunkan Rania, memberi isyarat agar pria itu menjauh,
faham dengan apa yang dimaksud Rania
Irma meminta agar Jonathan kembali duduk.
seakan tulang dalam kaki menghilang seketika, membuatnya tiba-tiba merosot terduduk dilantai .
Karena kaget dan tidak siap .
selang infus yang menancap di punggung tangan Rania terlepas, darah segar mengalir
Irma berteriak histeris.
semua orang dalam ruangan kebingungan
Bastian berlari keluar, memacari dokter atau suster, padahal pria itu bisa saja memencet tombol disamping ranjang Rania untuk meminta para medis datang.
Jonathan kembali mendekat ingin membopong Rania kembali ke ranjang,
tapi lagi-lagi Rania menolak dengan mengangkat tangan.
__ADS_1
Rania masih merasa mual , pusing, lemas.
bisa kalian bayangkan sendiri, bagaimana rasanya , perut mual , enek , pusing lemas.
rasanya isi dalam perut ingin segera keluar.
tapi nyatanya tak kunjung bisa dikeluarkan.
padahal sudah berulang kali mencoba , ingin muntah , agar perut segera terasa nyaman, tapi nyatanya tetap saja cairan dalam perutnya tak kunjung bisa dikeluarkan.
ibu Nasiha dan Irma mencoba mengangkat tubuh Rania, yang terkulai lemas dilantai dengan darah mengalir hingga sebagian menetes mengotori lantai berwarna putih.
tangan keduanya juga tak henti hentinya memijit Tengkuk dan punggung Rania agar kondisinya lebih baik.
meski ibu Nasiha tahu , kondisi Rania bisa membaik hanya setelah Reyhan datang.
tapi wanita paruh baya tersebut tetap mencoba dan berusaha.
Mylea menyodorkan kantor kresek hitam, untuk digunakan Rania muntah
karena sendari tadi memang Rania terus membekap mulutnya.
susah payah mencoba muntah tapi tetap tidak bisa.
pandangan ibu Nasiha sesekali melirik ke arah pintu, berharap putranya segera kembali
tapi nyatanya yang datang malah
Dua orang perawat , disusul Bastian membuntuti nya dari belakang.
Dengan sigap dua perawan mengobati luka di punggung tangan Rania.
" suster kenapa dengan putriku????"
Irma melontarkan pertanyaan , karena tak tega melihat kondisi Rania
" Tuan Reyhan belum kembali nyonya????"
justru perawat tersebut Balik bertanya pada ibu Nasiha.
__ADS_1
perawat itu sudah paham dan hafal, bila terjadi seperti ini , hanya Reyhan lah yang bisa menolong.
memang aneh, tapi kenyataannya memang begitu.