Skenario Cinta Untuk Restu Ibu

Skenario Cinta Untuk Restu Ibu
067


__ADS_3

Tak terasa waktu berputar begitu cepat, siang berganti malam, dan malam kembali siang menerbitkan matahari dari ufuk timur , memancarkan cahaya yang terang benderang , menerangi bumi .


Begitu pula dengan keadaan Reyhan yang semakin membaik, meski masih terasa lemas, paling tidak kondisi tubuhnya jauh lebih baik,


dia juga sudah diantar Tio kerumah sakit, agar kondisinya cepat membaik dan kembali mengerjakan tugas dikantor yang sudah menumpuk.


pagi itu Reyhan baru saja keluar dari kamar mandi. hal pertama yang ditangkap oleh penglihatannya adalah sosok sang istri yang sedang sibuk dengan cobeknya.


Reyhan mengedarkan pandangan, dilihatnya hanya mereka berdua.


mungkin ibunya sedang sibuk ditoko depan,


hingga matanya tertuju pada keranjang berisi pakaian kotor.


salah satunya ada juga pakaian kotor miliknya


diangkatnya keranjang tersebut akan dimasukkan kemesin cuci tak jauh dari jangkauan nya.


" mas letakkan saja,. biar Rania yang mencucinya nanti"


mata Reyhan menatap asal suara, Rania berbicara tanpa menatapnya.


kedua matanya fokus pada sambal tomat diatas cobek yang berusaha ingin dia haluskan.


mau tak mau , Reyhan meletakkan kembali keranjang tersebut, niatnya hanya ingin membantu, rupanya Rania tak mengizinkannya melakukan pekerjaan tersebut.


Tangan kekar Reyhan melingkar pada perut rata sang istri, diciumnya leher jenjang yang terekspos sempurna.


karena Rania menyanggul rambut panjangnya asal-asalan , hingga memperlihatkan seluruh leher putih miliknya.


" massssssss..... jangan gini...... Rania kesusahan ngulek sambalnya"


rengek Rania manja, merasa tak nyaman akan tingkah suaminya.


Reyhan seakan tak perduli , dia tetap melancarkan aksinya, terus menciumi leher sang istri hingga meninggal kan beberapa tanda merah menghiasi leher putih Rania.


tentu saja Rania jengkel, diangkatnya uleg-uleg sampai tepat didepan muka Reyhan.


kedua mata Rania melotot , menunjukkan ketidak sukaan dengan apa yang dilakukan suaminya.


" minggir tidak......????? atau mau aku uleg sekalian?????

__ADS_1


Reyhan terkekeh mendengar ancaman sang istri, sedikitpun ia tak takut, malah rasanya ia ingin semakin membuat Rania jengkel padanya, karena menurutnya melihat wajah cemberut sang istri adalah hiburan menggemaskan untuknya.


" nanti , bisa kamu makan, masuk disini"


ucap Reyhan , sembari menyusupkan telapak tangannya masuk kedalam kaos yang dikenakan Rania, mengusap lembut perut ratanya , tanpa penghalang.


" ih...........!!!!!!!!!!!"


Rania membalikkan tubuhnya, kedua matanya masih setia melotot pada sang suami.


Reyhan semakin mengembangkan senyumnya, melihat wajah menggemaskan Rania didepan matanya.


" ehemmmmmm..........!!!!!!!


Baru saja Reyhan ingin ******* habis bibir Rania , keduanya dikejutkan akan deheman dari ibu Nasiha yang berdiri tak jauh dari keduanya.


" maaf Bu......."


ucap Rania spontan, gadis itu hanya nyengir kuda sebagai pengalihan rasa tak enak hati pada sang mertua.


Rania cukup paham apa yang akan dilakukan Reyhan padanya barusan,


ingin menciumnya, tak perduli walau saat ini dia bau masakan dan berkeringat.


Mundur beberapa langkah, memberi jalan pada ibunya untuk lewat mendekati sang menantu.


" gimana didepan Bu??????"


Rania melontarkan pertanyaan pada ibu mertuanya ,


ibu Nasiha hanya tersenyum, kedua matanya menatap sang menantu yang kembali sibuk akan kegiatannya.


" Alhamdulillah semua kue-kuenya sudah habis,


kalau sudah selesai , buruan mandi, kita sarapan"


Rania mengangguk, dan segera memindahkan sambal tomat yang sudah halus kedalam wadah kecil.


menatanya dengan rapi.


Tak ada menu istimewa, hanya sambal tomat, telur goreng, dan lalapan ketimun .

__ADS_1


jauh dari menu mewah, yang sering disantap nya saat masih tinggal dirumah besar.


🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️


Setelah selesai mandi, Rania menata semua masakan yang ia masak barusan dimeja ruang tamu.


tak ada meja makan yang tersedia dikontrakkan tersebut.


mereka seringkali makan didepan televisi, diruang tamu .


sambil diselingi obrolan ditemani suara televisi yang entah sengaja atau tidak, sering mereka abaikan.


lebih memilih mengobrol , bercanda , seakan televisi tersebut diminta untuk menonton mereka yang sedang makan sambil mengobrol.


Ada yang berbeda dari sarapan pagi ini.


Reyhan ikut duduk di salah satu kursi ruang tamu , disamping Rania duduk, ikut sarapan bersama tak seperti


biasanya sarapan sendiri di dalam kamar.


yang sudah disiapkan Rania , termasuk obat dari rumah sakit yang harus dikonsumsi oleh Reyhan agar kondisinya semakin membaik.


" segini mas??????"


Tanya Rania , saat mengambil nasi keatas piring setelah mengambilkan ibu Nasiha


Reyhan hanya mengangguk, sebagai jawaban nya pada Rania .


Setelah ibu dan suaminya menyantap makanan dipiring masing-masing, barulah Rania mengambil nasi untuknya sendiri.


Kali ini hanya keheningan ,


suara televisilah yang memenuhi ruangan.


tidak ada obrolan seperti biasa


mungkin rasa canggung masih menguasai antara ibu dan anak.


Meski berulang kali Rania memancing obrolan ringan, agar keduanya kembali akur seperti dahulu.


tetap saja keheningan kembali menguasai.

__ADS_1


Rania hanya bisa menghela nafas panjang.


ya sudah lah yang penting sudah usaha.


__ADS_2