
Rania menatap Reyhan, dibalik jendela, dia tetap duduk diteras rumah, setelah diseret paksa ibu Nasiha keluar rumah.
Rania tak berani membantah melihat kemarahan ibunya , nyalinya sudah menciut .
" jangan biarkan pria itu masuk tanpa seizinku
itulah kata-kata ibu sebelum mengunci diri masuk kedalam kamarnya,
hanya samar-samar terdengar tangisan lirih yang menyayat relung jiwa.
menggambarkan begitu dalam goresan luka akibat sayatan benda tajam.
Langit yang awalnya terang benderang , kini berubah menjadi hitam.
awan hitam pekat, siap menumpahkan hujan,
terbukti tak lama, hujan turun begitu derasnya membasahi bumi dengan air yang mengalir dari langit.
seakan ikut merasakan penderita hati.
berliter-liter air hujan mengalir, menciptakan bunyi gemerincing diatas genting esbes.
hawa dingin merasuk,
tak membuat niat seorang Reyhan Alvaro beranjak dari tempatnya.
dia tetap anteng duduk diteras rumah, menatap pintu, berharap ibunya memaafkannya.
sungguh hanya Kata-kata maaf yang ingin Reyhan dapatkan dari ibunya.
melupakan rasa dingin yang semakin lama merasuk hingga kedalam tulangnya.
kilatan cahaya petir, bunyi menggelegar , yang bersahut-sahutan tak membuatnya takut.
padahal orang-orang sekitar , memilih mengurung diri didalam rumah,
tapi Reyhan tetap duduk hingga berjam-jam, dia pergi hanya untuk menjalankan kewajiban sebagai muslim sholat lima waktu di mushola terdekat. dan kembali lagi ketempat semula diteras rumah kontrakan ibu Nasiha.
jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi hujan tak kunjung reda.
gerimis rintik-rintik masih setia turun dari langit. hawa dingin masih terasa menusuk-nusuk kesetiap pori-pori kulit.
Reyhan masih tetap bertahan .
dibalik jendela ruang tamu, Rania masih setia berdiri menatap iba sang suami, demi kata maaf rela menunggu berjam-jam, padahal sudah diingatkan Rania berulang kali, agar Reyhan pulang dahulu, mengingat cuaca hujan dan dingin.
khawatir kesehatan suaminya terganggu.
__ADS_1
yang akan menjadikan nya demam.
Tapi Reyhan masih tetap bertahan diposisnya
tak beranjak, walau tubuhnya sudah menggigil kedinginan.
" ibu..... izinkan mas Rey masuk Bu..... diluar dingin, bagaimana bila mas Rey demam??"
tak tega, akhirnya Rania memberanikan diri mengetuk pintu kamar ibunya, mengemis meminta izin agar suaminya diizinkan masuk.
tapi sampai jam 1 malam tak ada jawaban dari ibunya. ibu Nasiha tetap diam didalam kamar tak memberinya izin.
" mas Rey masuk saja yuk????
diluar dingin, nanti kalau demam gimana???"
Rania menarik lengan suaminya, ingin diajaknya masuk kedalam rumah.
Reyhan hanya menggeleng, sembari tersenyum, wajahnya sudah pucat kedinginan
" istirahat lah jangan pedulikan aku, aku tak berani masuk tanpa seizin ibu"
Reyhan mengusap rambut Rania sayang.
memang Rania , bila dirumah tidak memakai jilbabnya. hanya saat keluar rumah ia akan memakai jilbabnya kembali.
Rania menyerahkan selimut tebal kepada suaminya.
Reyhan hanya mengulas -senyumnya
Entahlah Rania tidak tenang, ia tidak bisa tidur
berjam-jam hanya mondar mandir diruang tamu, sesekali matanya mengintip melihat keadaan suaminya diteras rumah.
rasa kantuknya hilang, padahal jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari.
biasanya jam segini ia sudah terlelap, tapi kini kantuknya menghilang.
khawatir dengan keadaan suaminya.
Adzan subuh berkumandang, Rania terbangun kaget , ketiduran dengan posisi yang tak nyaman.
tidur sambil berdiri bersandar jendela.
Rania segera kekamar mandi mengambil air wudhu untuk mengerjakan sholat subuh.
saat Rania mengerjakan sholat barulah ibu Nasiha masuk kekamar mandi untuk bergantian mengambil air wudhu.
__ADS_1
selesai mengerjakan sholat langkah Rania dibawanya kembali kedepan, melihat suaminya yang masih setia diposisnya.
Rasa khawatir Rania makin bertambah. dilihatnya wajah Reyhan bertambah pucat, bibirnya berwarna putih pucat,
suhu badannya panas, sangat panas menurut Rania,
" mas.......!!!!!!!"
panggilannya , digenggamnya jemari sang suami. selimut tebal yang ia berikan semalam juga masih terlipat rapi disamping nya.
Reyhan membuka matanya , dipaksakan bibirnya untuk tersenyum.
tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
dua hari Perutnya tak kemasukan apapun, jangankan nasi, air putih pun tidak, ditambah semalaman berada diluar, membuat kondisi tubuhnya menurun.
Reyhan benar-benar menghukum dirinya sendiri,
Rania panik, buru-buru dia berlari masuk kedalam rumah, mata indahnya menatap sang mertua yang masih khusyuk dalam sujud-Nya.
berdiri diambang pintu, menggigit kuku-kuku jemarinya. menunggu sang ibu mertua selesai mengerjakan sholat .
" ada apa Ran?????"
tanyanya setelah salam, melihat menantunya seperti kebingungan.
" ibu..... Rania mohon, izinkan mas Rey masuk, dia demam"
Rania bersimpuh dipangkuan ibu mertuanya. air matanya mengalir membasahi mekena yang dipakai ibu Nasiha, bahkan air mata itu berani menetes membasahi telapak tangan ibu mertuanya .
ibu Nasiha sempat membelalakkan matanya kaget, tapi buru-buru dirubahnya kembali mukanya kembali datar.
" ibu Rania mohon"
Rania menangkupkan kedua telapak tangannya. seperti hujan yang turun semalam.
air mata itu mengalir dengan derasnya.
tak tega , akhirnya ibu Nasiha menganggukkan kepalanya. memberinya izin.
senyum bahagia terukir indah di bibir Rania.
" makasih Bu...."
Rania mencium telapak tangan ibu mertuanya
kembali dilangkahkan kakinya menghampiri Reyhan diteras rumah.
__ADS_1