
" kamu kenapa sih Rey"
Rosellyn menatap sebal kekasihnya, sudah 20 menit mereka bersama , makan malam romantis berdua tanpa adanya gangguan. tapi hanya keheningan yang tercipta diantara keduanya. Reyhan hanya diam seperti malas.
" ibu pergi Rose"
" bagus dong, malah kita bisa segera menikah"
Reyhan menatap tajam Rosellyn, tak suka akan apa yang diucapkan nya barusan.
tau perubahan air muka kekasihnya Rosellyn gelagapan.
" em..... maksudku, kenapa ibu mu pergi????"
" dia dah tau hubungan Kita, saat Rania marah-marah, ibu mendengar nya"
" kenapa tak bocah tengil itu saja yang pergi?"
'" awalnya Juga dia yang akan pergi, tapi ibu memaksa ikut"
" gue curiga deh Rey, kenapa ibumu tiba-tiba memilih ikut orang yang baru saja dikenalnya.
Reyhan hanya mengangkat bahu, tak tahu harus menjawab apa.
" kamu marahi saja , bocah tengil itu Rey, kamu minta dia pergi menjauh sejauh mungkin, kalau perlu kamu kasih uang ke dia , buat seolah-olah gadis tengil itu yang meninggalkan ibumu, setelah itu baru kamu bawa paksa ibumu balik kerumah "
Reyhan manggut-manggut tanda mengerti, sepertinya ide Rose kali ini brilian, musti dicoba, yang penting ibuku balik.
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
Imelda pergi ke pengungsian, diantar Marwan, Mawar dan Roni ayah Mawar.
didalam mobil bocah 5 tahun itu tak mau diam,. bercerita banyak hal.
Marwan dan Roni yang duduk di jok depan sampai geleng-geleng kepala, melihat Mawar yang ceriwis dengan cerita-cerita khayalannya.
padahal baru saja mengenal Imelda tapi bocah itu sudah akrab,
__ADS_1
ditambah Imelda yang terkadang ikut menimpali , seakan mendukung semua cerita khayalan gadis 5 tahun itu.
" Bulek.... bulek bulek menikah saja sama pakde Awang ( panggilan Mawar pada Marwan karena masih cadel ).
jangan pegi , tinggal cama Mawal cada"
Mawar merengek menangis tersedu-sedu saat mobil sudah sampai di lokasi pengungsian.
Marwan dan Rony kaget mendengar nya
" sayang, dari mana kamu tahu bahasa menikah?? emang Mawar tahu menikah itu apa!???"
" Mawal tahu bulek,. kata mamak ( ibunya )
menitah itu tinggal belsama seperti papak cama mamak , teyus bisa punya dedek bayi kayak dek Dimas"
Marwan melotot kaget pada keponakan nya
kenapa bocah ini bicara sampai sejauh itu.
" dari pada pakde menitah cama bulek galak mending Bulek saja yang menitah cama Pakde, potoknya buyek jangan pedi"
Marwan dan Imelda memang masih terlihat canggung, keduanya berjalan beriringan menuju para anggota kepolisian dan relawan yang berada di lokasi pengungsian.
Setelah Marwan memberi tahukan maksud dan tujuan mereka datang, para anggota polisi yang berjaga mempersilahkan mereka masuk untuk melihat sekitar.
" maaf untuk saat ini kami masih kesulitan untuk mendata para korban yang selamat dan telah meninggal. karena masih banyaknya korban yang belum bisa ditemukan .
jadi , silahkan anda kelokasi berkumpulnya para pengungsi lain, siapa tahu ada keluarga anda yang masih selamat."
ucap salah satu anggota polisi menjelaskan. kepada Marwan dan Imelda,
tapi mata Imelda justru tertuju pada layar televisi yang menyiarkan berita. tentang kasus penangkapan pengusaha oleh KPK yang terlibat korupsi hingga milyaran rupiah.
Imelda diam terpaku, pikirannya Melayang. dia berjalan beriringan dengan Marwan ke lokasi , tapi pikiran nya entah kemana.
Sampai lokasi , matanya melihat orang-orang berkumpul, matanya terfokus pada anak kecil yang menagis dalam gendongan sang ibu, ayahnya berusaha ikut menenangkan nya.
__ADS_1
Ingatannya kembali kemasan lalu ,dimana dia pernah menagis. papa dan mamanya berusaha menenangkan dia, Dulu keluarga nya sangat harmonis, kasih sayang tak pernah kekurangan, walau ekonomi rendah, dan sang mama tak bisa memberikan dia seorang adik. tapi kehidupan Imelda sangat bahagia.
Tapi sekarang , keluarga nya hancur, dia seperti robot yang terus dikendalikan oleh sang papa. harus menuruti semua keinginan papanya , termasuk ambisi dalam mengambil harta dari keluarga Bastian .
Imelda memegang kepalanya terasa tersumbat semua khayalan indah dan pahit menjadi satu, tangisnya tak terbendung, bersama jeritan bocah balita didepan matanya. entah apa yang ditangisi bocah itu dalam gendongan ibunya .
papa mama maafkan Imelda,
ucapnya lirih hampir tak terdengar, tubuh Imelda merosot , terduduk diatas tanah , tanpa memperdulikan bajunya sudah kotor terkena tahah basah dibawanya.
aaaaaaaaaaaaaa ......
Teriaknya histeris, matanya terpejam rapat. kedua jemarinya menjabak rambutnya sendiri
emosinya menggebu,. kenapa hidupnya musti seperti ini, ia rindu keluarga nya yang dulu .
Marwan yang berdiri disampingnya , berusaha membatunya berdiri.
menarik kedua tangan Imelda agar tak menyakiti diri sendiri.
karena gadis disebelah nya sudah menjadi tontonan para pengungsi.
Mendapat sentuhan, tanpa peduli Imelda memeluk tubuh kekar Marwan. dia butuh pelukan, dia butuh ketenangan. untuk menghalau segala emosi yang tersumbat dalam otaknya.
Dipukulnya berulang kali punggung kekar dalam dekapan nya.
cengkraman dan cakaran jemari Imelda juga tak henti-hentinya menyakiti punggung tersebut.
Marwan hanya diam mendapat kan perlakuan semua itu, diusapnya lembut kepala Imelda agar emosinya sedikit berkurang, dan bisa lebih tenang.
" kenapa semua jahat padaku,???? apa salahku pada mereka???? semua tak mempercayai ku.
papa...... mama...... maafkan aku....."
Imelda terus meracau, ......
dari kejauhan mata lentik Mawar melihat tangisan Imelda , ia turun dari gendongan Rony, segera berlari ikut memeluk Imelda dan Marwah yang sedang berpelukan .
__ADS_1
mereka seperti keluarga.