Skenario Cinta Untuk Restu Ibu

Skenario Cinta Untuk Restu Ibu
048


__ADS_3

sehabis subuh Imelda menyapu halaman rumah ibu Munawaroh. suasana yang masih terlihat gelap tak menyurutkan niatnya.


jujur saja ini pertama kalinya bagi Imelda mengerjakan pekerjaan rumah, biasanya pembantu rumah tangga nya yang setia mengerjakan segalanya.


meski terlihat kaku Imelda tetap mengerjakan nya. dia tak mungkin hanya berpangku tangan, sudah diberi tempat tinggal, makan , masa dia dengan tega hanya tidura dikamar.


kehidupannya berubah total. dulu ia bergelimang harta, selalu memakai pakaian branded, perhiasan mahal dia beli tiap minggunya. kemanapun naik mobil.


Dan sekarang, jangankan perhiasan atau barang-barang branded. uang saja tak punya.


tiap hari pergi kesawah. makanya pun hasil dari sawah. mencari keong sawah, kadang bayam atau kangkung yang tumbuh liar diarea persawahan.


namun dia justru bahagia, inilah kehidupan, keluarga yang hangat, tak ada yang membeda-bedakan , semua sama.


" makde danis......"


panggil sicade Mawar. Imelda menoleh mengerutkan kening , heran , kenapa bocah ini sudah kelayapan menaiki sepedanya.


" makde.....?????"


" kan makde Danis mau menitah cama pakde awang jadi ya awar panggilnya makde"


ibu Munawaroh yang tak sengaja mendengar, saat menyapu teras rumah tertawa terpingkal-pingkal mendengar cucu pertamanya , kenapa bocah ini bicara seperti itu, tau apa dia tentang menikah????


" makde...... sepedaan yu..... teliling tampung"


" tapi tante..... "


" makde bukan Tante. no no no......"


" ah..... oh iya ...... Mak.....de...... nggak punya sepeda sayang, Mawar mau boncengin em.... Mak. .....de..,... pakai sepeda ini?????


Imelda terlihat kaku juga tak nyaman akan panggilan bocah berusia 5 tahun tersebut.


dia cuma tak enak bila dianggap terlalu berharap. bukan berarti tak mau. menurutnya malah Marwan pemuda paling ganteng sekampung itu, tapi kembali lagi ke Marwan, kata ibu Waroh dia tipe lelaki yang selektif dalam memilih pasangan. terbukti sampai usia 30 tahun masih betah menyendiri.


" no no no...... Awar tak tuwat , makde .


awar dah biyang cama papak, pindam cepedanya buat makde Danis cepedaan


ayo........."


Mawar menarik lengan Imelda agar mengikutinya, menariknya kerumah sebelah rumahnya ibu Munawaroh tinggal.


" nanti dulu sayang. em..... tan..... em....Mak.....de...... mau buang sampah-sampah ini dulu, biar tak kembali berserakan.


Mawar sayang sepedaan nya sama papak Mawar saja ya???? atau ngajak pakde "

__ADS_1


"iya nanti Awar biyang cama Pakde, buat cepedaan belcama, dadi tita beltida"


Mawar menunjukkan lima jarinya karena belum terlalu bisa melipat jari dengan benar,


Imelda membantu melipat kan jari Mawar menjadi dua ✌️.


tidak sayang em.... Mak ......de..... nggak bisa ikut. mau bantuin simbahnya Mawar beres-beres rumah. biar bersih. karena kebersihan sebagian dari iman."


Mawar mengerucut kan bibirnya, awan kelabu datang menghadang, bendungan segera jebol tak sanggup menampung debit air. dan


"aaaaaaaaaaaaaa......"


Mawar menangis guling-guling ditanah basah akibat embun pagi,


Imelda kebingungan, menggendongnya dengan paksa meski tubuhnya harus kesakitan menerima pukulan dan amukan Mawar, yang meronta-ronta, sampai orang-orang sekitar yang berlalu lalang akan berangkat kesawah menatap nya heran .


ibu Munawaroh tergopoh-gopoh datang mendekat, melihat Mawar cucu pertamanya ngamuk , karena keinginan yang tidak terwujud,


" sudah lah Ganis kamu turuti saja, "


" tapi Mak......"


" sudah nggak papa , dari pada seperti itu, nanti sampai sore masih ngamuk ni bocah"


Imelda menggendong Mawar menuju rumahnya.


sebelumnya janji sama Mawar akan diajak kesawah nyemprot, tanaman, rupanya Mawar ketiduran, alhasil malamnya nangis menagih janji nya.


🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️


" Lo Mawar ,. kenapa bajunya kotor????


tanya Novita ibunya Mawar , melihat baju anaknya penuh dengan tanah , dan masih menangis sesenggukan.


" mamak...... makde nggak mau cepedaan cama Awar dan pakde"


Mawar turun dari gendongan Imelda, berlari memeluk kaki ibunya yang sedang menggendong Dimas, bocah berusia 5 bulan.


Novita hanya diam , tak tahu harus menjawab apa , mendengar anak pertamanya mengadu padanya tetang gadis yang ditemukan beberapa hari yang lalu oleh kakak laki-lakinya.


dia paham pasti Rengganis tak enak hati, apalagi melihat kakaknya yang juga susah dekat dengan lawan jenis .


Novita sendiri bingung , kenapa anaknya terus menempel pada Rengganis, Mawar hampir tak pernah tidur dirumah setelah kedatangan Rengganis, anaknya tiap malam tidur dirumah neneknya bersama Rengganis.


" sama. em... bulek saja ya????"


Imelda tetap merayu mawar, tapi justru Mawar menangis makin keras hingga terdengar jelas sampai rumah tetangga.

__ADS_1


" mamak .... ,makde Danis, ndak mau dipanggil Makde, hayusnya mau, Tan hayus menitah cama pakde Awang."


Novita justru tertawa terbahak-bahak mendengarnya. anaknya malah aneh.


sementara Imelda menahan malu. karena disitu juga ada Rony dan Marwah.


" ya sudah ayo sama pakde,"


Marwan berdiri mendekati keponakan nakalnya.


" tapi hayus cama makde Danis"


" iya sama makde Ganis juga, tapi ganti baju dulu, bajumu kotor kan????'


Mawar mengangguk, sambil mengusap air matanya.


" kamu juga Nis, ganti celana training, jangan pake rok saat naik sepeda"


Imelda tersenyum canggung, lebih baik dia segera pergi , pulang kerumah Mak Waroh segera mengganti baju sebelum sicadel Mawar kembali mengamuk.


Sampai kamar yang ditempatinya dirumah mak Waroh , Imelda menatap seluruh baju yang tetata rapi didalam lemari.


ia tidak menyangka, seumur-umur baru kali ini ia memakai pakaian bekas orang lain.


ya semenjak ia tinggal dirumah bapak Anwar sang kepala desa, semua pakaian yang ia kenakan , pakaian bekas Novita adik dari Marwan , anak kedua ibu Munawaroh dan bapak Anwar.


pakaiannya dulu sebelum hamil Mawar.


dulu tubuh Novita kecil seperti Imelda, tapi setelah hamil berat badannya terus bertambah. semua koleksi pakaian kesukaannya ia simpan rapih, berharap berat badannya turun setelah melahirkan,


Tapi justru dia semakin gemuk, 11 12 bila dibanding dengan ibu Waroh.


alhasil dia hanya bisa menatap semua baju kesukaannya dipakai Imelda, ada rasa tidak rela , tapi bagaimana lagi. dia juga tidak akan muat memakainya lagi.


bukan hanya pakaian , kamar yang ditempati Imelda Juga kamarnya dulu , sebelum mempunyai rumah sendiri .


Imelda keluar memakai celana training dan kaos panjang, rambut sepunggung nya ia ikat ekor kuda , memperlihatkan leher jenjang miliknya, terekspos sempurna.


susah payah Marwan menelan ludahnya sendiri, biar bagaimanapun dia lelaki normal. melihat gadis cantik didepannya dia sungguh tergoda.


" sudah siap......?????"


" ciap..... pakde ......!!!!!"


" ayo...... lest...... go.......


Mereka bertiga mengayuh sepedanya keluar halaman rumah bapak Anwar.

__ADS_1


__ADS_2