
Rosellyn berjalan dengan angkuh memasuki gedung perkantoran Armada company,
berjalan dengan santainya seakan menunjukkan pada semua orang , bos diperusahaan ini adalah calon suaminya.
" dimana ruangan Reyhan Alvaro?????"
Tanya Rosellyn pada bagian resepsionis. dengan pandangan merendahkan
" maaf dengan siapa????"
" bilang saja, dilantai mana ruangannya"
Bentaknya , telapak tangannya menggebrak meja bagian resepsionis.
" maaf jangan buat keributan, atau saya panggilkan satpam?????"
" kau berani mengancam ku?????"
" bila anda membuat keributan disini , dengan terpaksa kami meminta anda keluar dengan paksa"
" kau tak tahu siapa aku????"
"..........." sang resepsionis hanya saling pandang, seakan bertanya siapa perempuan ini pada temannya?????
" saya adalah calon istri dari bos kalian, berani kalian padaku????
saya akan pastikan kalian semua dipecat"
Rosellyn menunjuk satu persatu semua orang yang berdiri dibalik meja resepsionis, mereka hanya diam terpaku tanpa berani berbicara sepatah katapun.
" Rosellyn....,. ngapain kamu disini??????"
suara Tio mengalihkan perhatian mereka dari Rosellyn pada pak Tio.
" Tio ..... aku ingin kau memecat orang-orang ini"
Ucap Rosellyn menunjuk para karyawan resepsionis, mereka hanya menunduk ketakutan, khawatir mereka akan dipecat.
" punya hak apa kau menyuruhku memecat mereka????"
" mereka semua kurang ajar padaku????"
" bukanya dari tadi , kamu yang kurang ajar pada mereka?????"
" kau juga berani kurang ajar pada ku,????"
kupastikan aku akan bilang pada Reyhan untuk memecat kalian semua"
__ADS_1
emosi Rosellyn terus menggebu, menatap nyalang pada seluruh karyawan yang menatapnya.
" tunggu ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu"
" akhirnya kau lebih menyayangi pekerjaan mu juga"
Rosellyn tertawa meremehkan.
" terserahlah....... ikuti aku ......."
Rosellyn mengikuti langkah Tio sampai kedalaman ruangannya.
" kau tahu, pasti sebentar lagi aku dan Reyhan akan segera menikah. kami sudah melakukan beberapa kali, mungkin saja sudah ada baby didalam perutku"
ucap Rosellyn bangga, setelah masuk kedalam ruangan Tio.
senyumnya mengembang sembari mengusap-usap perut ratanya membayangkan dia dan Reyhan menikah.
Tio menatap Rosellyn jenggah, dia lemparkan amplop tepat didepan Rosellyn.
" apa itu?????"
tanyanya bingung.
" bacalah......"
" kau tidak akan mungkin bisa hamil, karena kau sudah dinyatakan positif mandul, jadi aman rumah tangga pak Reyhan dan ibu Rania,"
sungguh Rosellyn kaget , bagaimana mungkin orang didepannya bisa mengetahui rahasia yang tersimpan rapi , bahkan keluarga dan suaminya sendiri tak mengetahui semua itu
" asal kau tahu Rosellyn, perusahaan ini atas nama ibu Rania, perusahaan peninggalan orang tuanya. jadi pasti pak Reyhan tidak akan mau hidup susah denganmu yang tak mempunyai apapun"
Rosellyn semakin bungkam, selama ini dia rupanya memperjuangkan lelaki miskin yang tak punya apapun.
Akhirnya Rosellyn lebih memilih melangkahkan kakinya pergi menjauh
" tunggu Rosellyn, jangan pernah kau ganggu rumah tangga pak Reyhan dan ibu Rania"
Rosellyn tak menggubris , dia kecewa dengan apa yang ia dengar barusan.
dipikirannya, bagaimana cara memperbaiki hubungannya dengan Daniel,
karena mereka sempat bertengkar hebat, saat Rosellyn meminta bercerai.
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
Imelda dan Marwan pindah ke kota setelah satu Minggu dikampung.
__ADS_1
mereka menyewa rumah minimalis untuk ditinggali.
walaupun cuma untuk menyimpan barang, karena seringnya Imelda berada disamping mamanya dirumah sakit
seperti saat ini Imelda menggenggam telapak tangan mamanya yang masih setia memejamkan mata.
rasa sedih masih bergelayut manja dalam sanubarinya,
papanya masuk penjara, mamanya masih terbaring koma.
dia duduk seorang diri, menatap mamanya tak berkedip,
Sementara Marwan suaminya, bekerja disalah satu kantor ternama dikota ini.
Ingatkah, jika Marwan memiliki kemampuan, IQ tinggi, jadi tak perlu susah untuk mencari pekerjaan untuknya.
memang rencananya mereka akan tinggal dikota sampai Mamanya Imelda sembuh.
setelahnya baru Marwan akan memboyong keluarganya kembali ke kampung halaman, dimana ia dilahirkan.
Imelda juga menyetujui rencana Marwan suaminya. dia sudah nyaman hidup sederhana, menjadi dirinya sendiri tanpa memakai topeng.
Apalagi melihat sicadel Mawar, seakan menjadi hiburan tersendiri untuknya.
dia ingat kemarin saat akan pergi ke kota Mawar sampai mengamuk tak mau ditinggal.
dan saat sendirian seperti ini dia akan teringat oleh canda tawa Mawar.
sungguh Imelda juga merindukan bocah cadelnya.
" mama cepatlah bangun, buka matamu.
Imelda rindu mama"
Imelda menangis sesenggukan ,
ia sembunyikan air matanya ditelapak tangan mamanya yang ia genggam.
setetes demi setetes air mata Imelda membasahi telapak tangan mamanya.
Pelan dan pasti tangan mama Imelda bergerak, pelan-pelan ia buka mata menyesuaikan cahaya yang masuk dalam kornea mata nya.
" maaaamaaaa..... kau sudah bangun?????"
Imelda memeluk mamanya , tangisnya makin pecah , rasa syukur bahagia tak henti-hentinya ia curahkan.
__ADS_1