
Rencananya Reyhan dan Rania akan menginap di hotel pinggir pantai selama seminggu, menghabiskan waktu hanya berdua tanpa ada gangguan dari orang lain.
mumpung ibu sedang pergi berziarah keliling pulau Jawa, sekalian Reyhan dan Rania pergi keliling menuju pulau asmara, merengkuh nikmatnya cinta , surga dunia yang telah halal dan mendapat Ridho-Nya.
Benar ucapan Reyhan beberapa hari yang lalu, bila sudah berulang kali rasa sakit itu akan hilang, digantikan kenikmatan yang tiada Tara, pantas saja banyak orang sampai berbuat Zina,
karena nikmatnya sungguh luar biasa.
Apalagi pengantin baru, kondisi tubuh masih fresh-freshnya , jiwa muda masih menguasai.
membuat mereka betah berlama lama didalam kamar,. memadu kasih, sebelum ada gangguan dari sang baby akibat pergelutan nikmat yang mereka lakukan.
contohnya Reyhan dan Rania saat ini, entah sudah berapa kali mereka berhubungan, bukan cuma malam, siang pun jadi sasaran, yang penting kepuasan maksimal yang mereka dapatkan.
memadu kasih, bulan madu yang tertunda???
terserah lah yang penting mereka senang.
Saking nikmatnya, deringan ponsel atau ketukan pintu tak pernah dihiraukan, sebelum keduanya puas
Seperti siang ini, udara diluar sedang panas.
terik matahari , sinar ultraviolet.
tidak mereka pedulikan.
begitu juga kamar yang ditempati Reyhan dan Rania, hawa panas, menguasai keduanya, keringat bercucuran membasahi tubuh.
pendingin ruangan, seakan tak berfungsi,
Bahkan deringan ponsel sendari tadi berbunyi tak dihiraukan.
Barulah setelah keduanya mencapai kepuasan, Reyhan segera bangkit,
dilihatnya ponsel Rania berdering
menampilkan nama. _ibu_ dipanggilan tersebut,
Jemari Reyhan akan menyentuh tombol warna hijau, ingin mengangkat panggilan dari ibunya, tapi buru-buru tangan Rania merebut.
Tak putus asa , Reyhan segera mendudukkan pantatnya disamping Rania, agar wajahnya ikut terlihat dilayar ponsel.
" sono mas, jangan ganggu aku"
Mata Rania melotot, melarang suaminya duduk disampingnya,
Rania masih belum siap , bila ibunya tahu hubungannya dengan Reyhan sudah membaik.
apalagi posisi ibunya yang sedang jauh,
khawatir , pikiran ibunya tak tenang , dan akan menggangu ibadah, dan kondisi tubuhnya.
__ADS_1
" Assalamualaikum..... ibu......"
ucap Rania setelah menggeser tombol hijau, menampilkan wajah ibunya , yang sedang kelelahan,
" Wa'alaikum salam......"
mata ibunya memicing, melihat ruangan tempat Rania berada, seperti bukan dirumah.
" kamu dimana???? sepertinya bukan dirumah????
ibu mulai mengintrogasi, khawatir dengan keadaan putrinya, meski bukan putri kandung, ibu Nasiha sangat menyayangi Rania seperti putrinya sendiri, dia pun orang pertama yang tak rela , Rania disakiti Reyhan.
Rania gelagapan, bingung harus menjawab apa, gadis itu menggigit jemarinya , sembari berfikir, jawaban apa yang tepat , agar ibunya percaya, tak mungkin juga dia bilang sejujurnya, kalau saat ini dia sedang bersama putranya, yang ada ibunya akan marah besar.
" kamu baik-baik saja kan sayang???????"
" iya Bu , Rania baik"
" kenapa penampilan mu acak-acakan sayang,???
kamu sedang tidak pakai baju?????
kamu dimana?????"
Rania menyadari penampilan nya sekarang,
dia memang masih polos, tanpa sehelai benang, rambutnya juga acak-acakan.
gadis itu menunduk kan kepala.
ibu semakin penasaran, akan keberadaan putrinya, apalagi sekarang putrinya Sulit untuk dihubungi.
" kamu dimana sayang?????"
ibu Nasiha semakin khawatir,
padahal tubuhnya terasa capek, baru saja dari makam sunan Muria, turun dengan jalan kaki bersama rombongan, sambil melihat penjual yang berjajar rapi di kanan kiri.
saat berangkat memang seluruh rombongan naik ojek, melewati jalan berliku disamping jurang, dan setelah ziarah, mereka memutuskan untuk berjalan kaki menuruni tangga yang terbuat dari batu.
berpuluh-puluh anak tangga mereka lalui.
dan sekarang , ibu Nasiha sudah sampai dibawah, istirahat sembari menunggu rombongan lain yang belum datang,
mereka masih dianak tangga,
sekedar istirahat, atau memborong oleh-oleh khas dari sunan Muria.
" ibu maafkan Rania, selama ibu pergi , Rania tidak jualan, Rania pergi ke tempat mama, dan teman Rania yang bernama Mbak Narti,
karena anaknya dirawat dirumah sakit"
__ADS_1
Rania tak berani menatap ibunya,
ibu Nasiha bernafas lega,
" berarti sekarang kamu di rumah Irma????"
" maaf Bu, Rania baru akan mandi,"
" hemmmmmmmm...... kamu pasti sibuk , masak, main sama baby Boy sampai lupa ponsel mu????"
Rania hanya nyengir, menunjukkan deretan gigi-giginya.
" ya sudah sambung lain kali . ini sudah mau berangkat busnya.
assalamualaikum sayang,"
" Wa'alaikum salam ibu, hati-hati jaga kesehatan"
sambungan telepon terputus. Nasiha menggeleng menatap ponselnya , difikiranya ponsel Rania ,di mode diam, khawatir bunyinya akan menggangu si kecil boy, kalau sudah menangis akan sulit ditenangkan . dan gadis itu kelupaan karena asyiknya masak-masak dengan Irma.
Dia sudah faham bagaimana Irma, hobi memasak , selalu ingin mencoba masakan baru, tapi selalu gagal.
pasti Irma sangat bahagia, ada temannya . apalagi setelah tahu kalau Rania sudah mewarisi keahlian nya dalam membuat kue.
ibu Nasiha juga tidak menghubungi Irma,
biasalah , setelah lahirnya Boy, anak dari Jonathan, Irma seakan tidak peduli dengan ponselnya, kadang ponselnya dibiarkan sampai kehabisan baterai, atau lupa menaruhnya.
karena terlalu asyik dengan cucu barunya.
Ibu Nasiha menghela nafas panjang, menatap langit melalui jendela kaca dalam bus yang mulai bergerak meninggalkan area parkir .
andai saja putranya sudah mencintai Rania
ingin rasanya ia juga merasakan punya cucu.
bermain bersama, kejar-kejaran.
ibu Nasiha bisa membayangkan bagaimana bahagia nya Irma dengan cucunya.
hampir setiap hari cucunya selalu ia timang-timang, ikut bergadang dimalam hari
apalagi sekarang baby Boy sudah bisa melihat, pasti kebahagiaan Irma bertambah
karena cucunya sudah bisa diajak bicara, memperhatikan setiap gerakan dan benda.
ya Allah.......
Hanya kalimat itu yang bisa Ibu Nasiha ucapkan dalam hati, sebagai ketenangan atas keinginannya barusan
meminta yang terbaik untuk kedepannya.
__ADS_1