Skenario Cinta Untuk Restu Ibu

Skenario Cinta Untuk Restu Ibu
095


__ADS_3

Reyhan berjalan pelan , merangkai kata untuk bisa merayu kembali istrinya.


dicarinya ke setiap sudut rumah.


matanya belum juga melihat tanda-tanda keberadaan Rania.


Ibunya juga tidak ada


kemana mereka bersembunyi???!!


para Art yang biasanya ada di dapur atau berseliweran untuk bersih-bersih pun tak ia jumpai.


Setelah mengelilingi rumah, pandangannya tertuju pada segerombol wanita yang berkumpul di taman belakang.


entah apa yang mereka bicarakan.


begitu serius sampai tak menghiraukan keadaan sekitar.


Reyhan melangkahkan kakinya terus mendekat.


sadar akan kedatangan majikannya.


para Art segera membubarkan diri, kembali ke pekerjaan sebelumnya.


Meninggalkan ibu Nasiha dan Rania yang membuang muka


enggan menatap Reyhan yang kini duduk bersimpuh dihadapan Rania.


" sayang......"


ucapnya lembut, karena Rania tak kunjung menatapnya.


"kalau kamu ingin kembali pada Rosellyn , kembalilah, aku juga bisa hidup tanpa dirimu"


Jemari Reyhan terulur menghapus air mata yang membanjiri wajah istrinya.


sementara ibu Nasiha membuang muka, ingin tahu, bagaimana tegasnya seorang Rania menyikapi masalah rumah tangganya


" sttttt..... bicara apa kamu??????


pasti aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kita sayang, apalagi sebentar lagi akan ada princess hadir di tengah-tengah kita"


" eleh..... syok bicara begitu, bilang aja mas Rey takut jatuh miskin, karena perusahaan sudah atas nama aku"


" terserah apa pendapatmu, tentangku sayang"


Reyhan menggenggam jemari Rania sembari mengusap perut buncit istrinya dengan jemarinya pelan , tetes-tetes air mata Rania jatuh membasahi telapak tangan Reyhan.

__ADS_1


" aku minta maaf sayang , kalau selama ini aku banyak salah, padamu,


tolong percayalah padaku, aku sangat menyayangi dan mencintai dirimu sepenuh hati, aku rela meninggalkan segala hanya demi dirimu"


Ketiganya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


merasa tidak ada kata dimaafkan dari istri dan ibunya, Reyhan beranjak berdiri.


" maaf sayang, aku pasti akan sangat merindukan dirimu, "


Reyhan ingin mencium kening Rania, tapi gadis itu menghindar.


akhirnya Reyhan hanya mengusap kepala Rania sekilas dan mencium perut buncit Rania lama


sebelum melangkahkan kakinya pergi.


Ada rasa sedih , saat melihat kepergian suaminya, tapi egonya lebih tinggi.


Rania masih duduk anteng di kursi taman, tanpa sedikitpun beranjak untuk menyusul suaminya pergi.


Reyhan memang tak main-main akan ucapannya, pria itu benar-benar pergi meninggalkan Rumah.


Rania pikir suaminya akan pergi sebentar


tapi sampai seminggu berlalu suaminya tak kunjung kembali.


Hal itu membuat Rania menderita, sudah beberapa hari ini Rania tidak bisa tidur, tiap hari hanya menangis merindukan suaminya.


kemana suaminya pergi????


padahal Tio sudah mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan bosnya, Tapi sampai kehamilan Rania yang memasuki usia ke 9 bulan suaminya tak kunjung ditemukan.


Rania mengusap perutnya lembut, air matanya tak henti hentinya mengalir


kenangan indah sili berganti, bagaikan rekaman video.


" sayang,.... dimana ayahmu berada nak????


bunda rindu sangat rindu pada ayahmu , padahal sebentar lagi kamu akan melihat dunia, tapi ayahmu tak kunjung ditemukan.


dimana ayahmu berada nak???"


Rania merasakan perutnya nyeri.


Memang dari subuh, dia sudah mendapatkan tanda-tanda akan melahirkan.


mendapatkan lendir bercampur darah yang terdapat di celana dalamnya saat Rania ingin buang air kecil sebelum mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat subuh.

__ADS_1


Tangisnya makin terdengar lirih.


Haruskah ia melahirkan tanpa didampingi suaminya???? , haruskah anaknya lahir tanpa didampingi seorang ayah.????


Lama-lama rasa sakit dalam perutnya semakin menjadi,


awalnya yang hanya terkadang, kini semakin sering, dipikirannya mungkin pembukaan sudah bertambah .


Memang sendari subuh Rania tidak keluar kamar, sarapannya pun diantarkan Mery ke kamarnya, dia juga tidak bilang pada ibu Nasiha bila akan melahirkan.


Dia tetap berjalan mondar mandir mengelilingi kamar tidurnya, sembari sesekali mengusap lembut, perur buncitnya tatkala nyeri itu semakin menjadi.


Lama-kelamaan Rania tidak kuat.


diambilnya ponsel untuk menghubungi pak Tio, beruntunnya Pak Tio sedang berada dirumahnya untuk meminta tanda tangan Rania


" pak Tio , apa mas Rey sudah ketemu????"


tanya Rania sembari menahan nyeri dalam perutnya yang semakin menjadi. ketika keduanya didalam mobil , perjalanan ke rumah sakit terdekat,


pak Tio hanya diam , tak tahu harus menjawab apa????


memang dirinya belum bisa menemukan dimana Reyhan berada


Tio memang terlihat biasa saja tidak ada kepanikan , dalam mengemudikan mobil membawa wanita yang akan melahirkan, pengalamannya dahulu saat Jenny melahirkan, membuatnya lebih terlihat tenang.


Rania masih terus menahan nyeri dalam perutnya.


sesekali pandangan matanya menatap keluar jendela, telinganya sendari tadi mendengar ucapan-ucapan ibu Nasiha disampingnya


" Tarik nafas dalam-dalam sayang, hembuskan secara perlahan,


banyak-banyaklah beristighfar"


kini pandangan Rania tertuju pada proyek konstruksi. tak jauh dari lampu merah.


saat mobil yang dikemudikan pak Tio berhenti di lampu merah.


sambil menunggu lampu berubah menjadi warna hijau.


pandangan Rania menyipit, memastikan seseorang yang dilihatnya dari kejauhan.


Tanpa permisi Rania segera turun, berlari sambil menahan nyeri, menghampiri seseorang yang dilihatnya sendari tadi.


Hal itu membuat pak Tio dan ibu Nasiha kaget.


keduanya ikut turun , setelah memarkirkan mobilnya dipingir jalan.

__ADS_1


mengikuti kemana langkah Rania berlari sambil memegangi perut buncitnya


__ADS_2