Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 99


__ADS_3

"Paman, apakah kamu sudah melihat Bibi? Terakhir aku melihatnya, dia terlihat sangat kecewa padamu."


Andre tidak menyangka Natha akan menyebutkan Sonia tiba-tiba. Andre sendiri sudah menyelidiki bahwa istrinya itu tidak sepenuhnya gila. Jadi ia tidak terkejut saat Natha mengatakan itu. Hanya saja, punggung Andre mendingin dengan meningkatkan kewaspadaannya. "Sonia.. dia.. apa yang dia katakan padamu?"


"Bibi menceritakan masa lalunya. Menurut paman, apakah paman tahu apa yang terjadi saat itu?" Natha tersenyum, namun tidak sampai ke matanya. Kata-kata yang di ucapkannya sangat mematikan.


"Ah, m-asa lalu?" Andre gelagapan. "Ap-a yang terjadi?"


"Kata bibi, dia menyukai ayah kandungku saat itu. Untuk ayahku, dia membuat masalah dengan ibu kandungku. Aku merasa aneh karena sesama saudara perempuan yang berhubungan baik malah berselisih hanya karena cinta, dan pada akhirnya mereka menjadi pembunuh.." Natha berhenti dan menatap Andre dengan mata dalam.


Andre tiba-tiba menoleh dan menatap Natha dengan tidak percaya. "Ti-dak! Tidak mungkin! Dia berbicara omong kosong.. dia.. dia tidak mungkin mengatakan hal-hal ini! Bibimu berbohong.."


Di bandingkan dengan kepanikan Andre, Natha jauh lebih tenang. "Paman, jangan khawatir. Berbicaralah perlahan. Bibiku juga memberitahuku banyak hal-hal yang tidak di ketahui sebelumnya. Hari ini aku mempunyai banyak waktu. Paman bisa menjelaskan semuanya dengan pelan kepadaku."


Dalam waktu singkat, Andre menjadi tenang. Ia menyesuaikan suasana hatinya. Andre berkata. "Penjelasan apa yang harus paman jelaskan? Itu semua tidak masuk akal. Bibimu sengaja menipumu dan membuatmu kesal."


"Begitukah?" Natha menatap Andre dengan seksama. "Kalau begitu, jika paman menemui bibi suatu hari nanti, ingatlah untuk menjelaskan dengan jelas kepada bibi. Bagaimanapun, membunuh orang saat di dalam mobil, walaupun cerita itu di buat-buat, sangat mudah bagi orang untuk percaya."


Mendengar nada bicara Natha tanpa emosi, Andre menduga bahwa Natha telah memastikan semuanya. Andre membuang muka.


Benar saja, ia masih memiliki hati nurani yang bersalah. Cahaya dingin melintas di mata Natha. 


Natha mengubah topik pembicaraan. "Paman datang kepadaku hari ini, apakah ada sesuatu yang ingin paman bicarakan?"


"Ya." Andre menegakkan duduknya. Dengan sedikit sanjungan dalam nadanya, Andre berkata. "Natha.. paman ingin kembali ke Lexandra.."


Natha mengangkat alis terkejut. "Ah? Bukankah paman memegang saham Lexandra? Paman bisa kembali kapan saja!"


Andre berkata malu. "Sebelum paman meninggalkan kota ini, paman menjual semua saham Lexandra. Saat ini, paman tidak memilikinya."


"Apa?" Natha bukanlah orang yang pintar berakting, namun ia ingin bermain penuh dengan Andre.


"Paman hanya merasa bingung dan malah memilih jalan yang salah." Andre tidak memperhatikan ketidakwajaran Natha. Andre melanjutkan. "Paman dan kamu berselisih saat itu. Paman hanya merasa marah sampai berpikir untuk meninggalkan Lexandra. Sekarang paman menoleh ke belakang dan memikirkannya. Paman pikir, paman terlalu impulsif saat itu.."


"Kalau begitu, kenapa paman tidak membeli kembali sahamnya?"


Andre menundukkan kepalanya. "Paman.. paman tidak punya uang."


Tidak punya uang? Andre benar-benar mempermainkannya sebagai orang bodoh. Natha mencibir dalam hati. Baru saja akan berbicara, telepon berdering di sakunya.


Natha melirik Andre dan menekan tombol jawab. "Hallo, Abyan?"


Mendengar nama Abyan, Andre menyusut dan diam-diam mundur. Andre menyimpulkan bahwa Natha tidak mengetahui gerakannya, tapi ia tidak tahu apakah Abyan tahu tentang kembalinya ia. Jika Abyan tahu, Andre tidak yakin apakah dia bisa menemui Natha seperti hari ini.

__ADS_1


"Beraninya kamu menyebut namaku?! Panggil aku sayang! Akan ku hukum kamu nanti! Di mana kamu sekarang?! Aku mencarimu di kantormu."


Natha agak menjauhkan teleponnya karena suara Abyan yang keras. Ia sengaja menyebut nama Abyan untuk melihat ekspresi Andre. Benar saja, wajah Andre terlihat cemas dan panik. Untungnya tidak mendengar suara Abyan.


"Aku tidak di perusahaan. Aku di kedai Kopi."


"Kedai kopi?! Dengan siapa?! Apakah kamu bersama pria lain?!" Suara Abyan terdengar cemas dan marah.


Natha merasa kewalahan dengan sikap Abyan yang lebih sensitif akhir-akhir ini. Ia menghela nafas sabar. "Ya. Aku--"


"Apa?! Bersama siapa?! Pria mana?! Beraninya kamu! Apakah kamu mencoba berselingkuh dar--"


Natha memotongnya dengan jengkel. "Pamanku."


Natha melihat Andre menegang dengan tangan memegang erat gelas kaca di tangannya. Ia tersenyum dalam diam.


"Oh.. kalau begitu aku akan ke sana sekarang!"


"Ya, ya.."


Natha menutup teleponnya. Tiba-tiba Natha berkata. "Apakah paman ingin kembali ke Lexandra?"


Wajah suram Andre langsung mencerah. Ia mengangguk cepat. "Tentu saja!"


Natha tersenyum. "Baiklah. Aku akan memberikan beberapa persen sahamku kepada paman, agar posisi paman tidak terlalu memalukan jika kembali ke Lexandra. Tapi dengan satu syarat."


Natha mengangkat sudut mulutnya dengan sinis, tapi Andre yang tengah di landa kebahagiaan tidak memperhatikannya.


"Aku ingin paman jujur tentang bagaimana kematian kedua orang tuaku."


Ekspresi Andre berubah drastis.


***


"Mau apa kau ke sini lagi, hah?!"


Natha menutup matanya saat teriakan Sonia menusuk telinganya. Saat ia membuka matanya kembali, itu terlihat begitu dingin membuat Sonia agak mundur dengan ekspresi terkejut.


Natha sengaja mengunjungi Sonia lagi untuk kedua kalinya, karena sebelumnya Andre benar-benar tidak jujur dan lebih baik menolak tawaran emas yang ia berikan.


Apa yang Natha katakan kepada Andre tentang Sonia saat itu, tidaklah benar. Natha tentu saja mengetahui Sonia menyukai ayahnya dari kehidupannya dulu, bukan dari Sonia sendiri.


"Ma-mau apa kau ke sini?" Suara Sonia menjadi agak pelan dengan ekspresi terlihat hati-hati.

__ADS_1


Natha menatap ke dua perawat yang menyekal Sonia. Ia berkata dingin. "Kalian pergi."


Kedua perawat itu saling pandang. Salah-satunya menatap Sonia yang diam. Lalu menatap Natha tidak enak. "Tap-pi, Nyonya.."


Atensi Natha beralih pada Sonia. "Tidak apa-apa. Dia tidak akan menyakitiku."


Kedua perawat itu mengangguk kaku dan melepaskan Sonia. Mereka terlihat mengancam dengan matanya terlebih dahulu kepada Sonia, lalu pergi.


"Bibi, duduk." Natha berkata datar.


Sonia merasakan aura Natha berbeda dan lebih dingin. Karena biasanya Natha selalu tenang dan tersenyum di permukaan, namun saat ini pandangannya pun membuat nyali Sonia menciut. Ia duduk di kursi depan Natha dengan patuh.


Hanya mereka berdua di ruangan itu.


"Aku ingin bibi menceritakan kematian kedua orang tuaku dengan jujur," pinta Natha to the poin.


Mata Sonia terbelalak. Ekspresinya menegang. Ia menggeleng panik.


Melihat itu, Natha tersenyum dingin. "Tidak mau?"


Sonia diam tidak berani menatapnya.


"Coba bibi pikirkan, paman di luar bebas, sedangkan bibi harus terkurung di sini. Apakah bibi tidak merasa kesal? Kemarin aku bertemu dengannya. Dia sama sekali tidak menanyakanmu, tapi dia malah menginginkan Lexandra kembali. Aku pikir dia begitu tega kepada bibi, karena hanya harta yang dia pikirkan, bukan dirimu ataupun putrimu. Jika bibi memberitahukan semuanya, paman akan berada di penjara. Dan bibi akan tetap di sini. Kalian sama-sama terkurung. Adil, kan?"


Entah kenapa Natha lebih menyeramkan sekarang, namun yang pasti Sonia langsung terpancing dan berpikir semua itu masuk akal. Ekspresinya langsung terlihat suram, tinjunya terkepal. Tanpa Sonia sadari, perkataan Natha memang seakan tahu semuanya hanya dengan kalimat 'penjara'. Karena memang Natha hanya menginginkan bukti.


Natha tersenyum miring dan mendekat seraya berbisik. "Bibi berpikir tidak terlibat 'kan, akan itu? Jadi bibi tidak perlu merasa bersalah dan bibi bisa menceritakan semuanya. Bagaimana?"


Sonia mengangkat kepalanya menatap mata Natha yang meyakinkan. Lalu ia mengangguk seakan terhipnotis.


Natha terkekeh, namun itu terdengar seram. Ia mengeluarkan ponselnya untuk merekam.


"Baik. Sekarang bibi bisa menceritakan semuanya dari awal."


Sonia membuka suara dan menceritakan dari awal rencananya. Namun semua kesalahan tertuju pada Andre, ia hanya menceritakan dirinya sebagai korban yang di paksa.


Hanya membutuhkan lebih dari tiga puluh menit. Setelah semuanya selesai, Natha tersenyum hangat kepada Sonia. "Terima kasih, Bibi. Akan aku pastikan, paman tidak akan bebas dan terkurung di penjara."


Sonia malah tersenyum cerah dan bertepuk tangan seperti anak kecil. "Baik. Kabari aku jika bajingan itu sudah di masukan ke penjara!"


Natha mengangguk dan berpamitan. Sonia di antarkan kembali ke kamarnya oleh perawat sebelumnya.


Setelah keluar, senyuman ramah ramah Natha luntur di gantikan senyuman miring.

__ADS_1


Natha sampai di mobil dan masuk. Lalu ia mengambil ponsel dan mencari nama seseorang. Setelah di temukan, Natha meneleponnya.


Setelah terangkat dan sebelum pihak lain berbicara, Natha berkata terlebih dahulu. "Paman, aku sudah mendapatkan rekaman sebagai bukti pembunuhan kedua orang tuaku. Bersiaplah, polisi mengincarmu."


__ADS_2