Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 98


__ADS_3

"Apa rencanamu hari ini? Apakah kamu ingin berjalan-jalan keluar?"


"Aku tidak mau. Aku hanya ingin tinggal di rumah." Natha menjawab pertanyaan Abyan.


Mereka terkadang akan keluar jika di akhir pekan, namun sepertinya sekarang tidak. Abyan merasa istrinya itu menjadi pemalas dan sikapnya terlihat lebih lembut dari biasanya.


"Bagaimana jika menonton film bersama?" Abyan menawarkan.


"Oke." Natha setuju asal tidak keluar rumah.


Dengan itu, acara akhir pekan mereka tidak keluar, tetapi duduk si sofa ruang tamu menonton film.


Pada awalnya, postur duduk Natha sangat tegak, tidak terlalu dekat dengan Abyan. Namun Abyan yang sengaja memilih film hantu, Natha diam-diam memindahkan posisinya berada dekat dengan Abyan.


Natha tidak takut dengan film hantu, tetapi ia sangat tidak menyukai musik di dalamnya. Natha selalu menciptakan ilusi bahwa bahaya yang tidak dapat di ketahui akan muncul di sebelahnya.


Sedari tadi, Abyan sama sekali tidak melihat ke layar. Matanya memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi Natha. Melihatnya menyusut dan bergerak ke arahnya, Abyan mengangkat sudut mulutnya. Lalu ia membuka tangan untuk memeluknya.


Jatuh ke pelukan Abyan, Natha semakin menyusut dan bersandar di bahunya. Saat isi film akan mencapai *******, diiringi dengan suara musik horor, Natha meraih tangan Abyan dan menutupi telinganya.


Melihat tindakan Natha yang lucu, Abyan merasa geli. Dia tidak menarik tangannya, tetapi meningkatkan kekuatannya menutupi telinga Natha sekencang mungkin. Hanya saja, Abyan melihat mata Natha terbuka lebar saat melihat layar.


Abyan bingung, apakah dia ketakutan atau tidak? Natha tidak berteriak atau menutup mata, tapi hanya telinga saja yang di tutup. Apakah karena suaranya?


"Dear? Kamu tidak takut?" Abyan tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Natha mendongak dan membuka telinganya yang di tutup. "Hah?"


Melihat ekspresinya yang agak lucu, Abyan menyentuh pipinya dan mengulangi pertanyaan. "Kamu tidak takut?"


Mata Natha kembali pada layar seraya menggeleng. "Tidak. Aku hanya takut suara--Ahh!"


Natha mengambil tangan Abyan kembali dan buru-buru menutup telinganya saat suara musik film itu datang.


"Jangan bertanya! Aku tidak bisa mendengarmu!" Natha menggerutu.


Abyan tercengang. Lalu ia tertawa melihat tingkahnya. Abyan menaruh dagunya di kepala Natha dengan kedua tangan masih Natha genggam untuk menutupi telinganya. "Kamu sangat aneh. Aku sengaja memilih film horor agar kamu ketakutan dan memelukku, tapi ternyata hanya suara musiknya saja."


Ucapan Abyan di jawab suara di film itu. Abyan menunduk karena tidak mendapat jawaban. Yang ia lihat mata Natha yang terfokus dengan serius ke layar. Sepertinya tidak mendengar ucapannya.


Abyan yang di abaikan merasa kesal. "Dear.."


Tidak ada jawaban.


Abyan mencoba melepaskan tangannya dan membuka telinga Natha yang tertutupi tangannya, namun Natha dengan erat menutupinya.


"Sayang.."


Karena tidak mendapatkan jawaban lagi, Abyan mendengus. Dia menundukkan kepala dan membenamkan Wajahnya di lehernya. Ia dengan sengaja menggigitnya.

__ADS_1


"Ah!"


Natha meringis geli. Ia langsung melepaskan tangan Abyan. Untung saja film nya selesai.


"Jangan menggigitnya!" Natha menggerutu jengkel.


Abyan mengangkat kepala dan tersenyum tanpa bersalah. Saat melihat leher Natha yang memerah, Abyan tersenyum lebih lebar.


Natha menatapnya curiga, lalu ia menyentuh lehernya yang Abyan gigit. Natha cemberut. "Pasti memerah."


Abyan menyengir memperlihatkan giginya. "Hanya satu. Ingin lagi?"


Melihatnya menunduk ke lehernya, Natha langsung beranjak menjauh dan memelototinya.


Abyan cemberut. Ia merentangkan tangan. "Sayang.. peluk."


Natha berdiri sembari bersedekap dada. "Tidak mau! Nanti kamu menggigitku lagi."


"Tidak akan. Tapi tidak janji." Rentangan tangannya masih terbuka lebar.


Natha mengembungkan pipinya dengan mulut tertekuk ke bawah.


Abyan mengatupkan mulutnya seraya mengumpat dalam hati. Sial, istriku sangat imut. Aku ingin menelannya.


Abyan membuat ekspresi memelas di wajahnya. "Sayang, aku ingin kamu memelukku. Nanti kamu boleh menggigitku."


Mata Natha langsung berbinar. Natha dengan cepat masuk ke dalam pelukannya.


Abyan menggigit bagian dalam pipinya karena merasa gemas.


"Bolehkah aku menggigit?" tanya Natha dengan suara seperti anak kecil.


Abyan ingin menelannya. Bolehkah?


"Iya, Sayang. Boleh. Apa yang ingin kamu gigit?" balas Abyan lembut.


Natha terkikik. Lalu memerintah dengan serius. "Kamu mendongak."


Abyan menatapnya curiga.


"Cepat!" Natha berkata dengan tidak sabar.


Abyan dengan patuh mendongak menatap langit-langit ruang tamu.


Yang ingin Natha sentuh adalah jakunnya. Dia dengan sengaja mengusapnya. Terasa keras.


"Dear.." Suara rendah Abyan datang.


Natha tidak peduli. Ia masih asik dengan mainannya. Ia bertanya polos. "Kenapa benda ini sangat menonjol?"

__ADS_1


Saat jakun Abyan bergerak ke atas dan ke bawah, Natha berseru kagum.


"Sayang.." panggil Abyan dengan suara serak. Nadanya terdengar mengancam.


Natha meringis pelan saat Abyan mencengkeram pinggangnya. Natha mendongak dan bertemu dengan tatapannya matanya yang gelap.


"Kamu.. bermain-main denganku.." Abyan berujar dengan suara menggeram.


Natha mengerjap polos. "Aku tidak.. aku hanya ingin melihat benda di lehermu.."


Abyan mendekatkan wajahnya. Natha yang sudah tahu niatnya, mendongak ke atas dan berseru. "Wah! Ada cicak raksasa!"


Abyan ikut mendongak. Natha langsung menggigit benda menonjol di bawah dagu Abyan.


Abyan menegang. Sebelum ia bereaksi, pelakunya sudah beranjak dan berlari kabur.


Abyan menatap kepergiannya dengan tangan menyentuh jakunnya yang basah karena air liur. Ia mengumpat. "****!"


Abyan berdiri dan berteriak. "Sayang.. kamu tidak akan aku lepaskan!"


"Tangkap saja!" Natha berteriak dari arah kamar.


Abyan menggeram. "Awas kamu!"


"Wlee.. aku tidak peduli."


Abyan menatap pintu yang tertutup dengan mata gelap. "Aku benar-benar ingin menelannya ke perutku."


***


"Natha, apa kabarmu? Aku sudah lama tidak melihatmu, dan kamu sudah lebih cakap!"


Natha tidak menjawab. Ia mengangkat kelopak matanya dan memandang lurus ke arah Andre dengan mata menyipit.


Saat ia bekerja di kantor, Natha tidak berharap akan kedatangannya tamu. Apalagi tamu itu adalah pamannya. Ia sudah mendengar tentang perusahaan baru Andre, namun karena dia dan Abyan yang bekerjasama dengan pendukung Andre di belakang, akhirnya perusahaan Andre kacau balau dan bangkrut.


Natha tidak menolak dengan keinginan Andre untuk bertemu dengannya. Saat ini mereka tengah berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari perusahaan Lexandra.


Senyum Andre tidak berubah melihat Natha tidak menjawab. Ia menghela nafas dengan mata bernostalgia. "Paman selalu ingat ketika kamu masih bayi saat ibumu menyerahkanmu kepada kami. Saat itu, paman benar-benar menganggapmu sebagai putri dan menyayangimu. Selama bertahun-tahun, paman juga berpikir bahwa kamu lebih baik dari putri paman sendiri. Paman hanya tidak menyangka, kita akan menjadi seperti ini dan pergi ke jalan yang aneh."


Natha masih tidak berbicara. Ia hanya menunggu Andre melanjutkan dan ingin tahu perkataannya selanjutnya.


"Natha, Paman mengakui bahwa Paman salah karena telah menikahkanmu dan menggantikan Nhita. Tetapi banyak hal yang telah berlalu dan Paman harus membalas budi kepadamu dan telah melunasinya. Lihatlah keluarga kita sekarang, awalnya hangat dan harmonis, tapi sekarang bibimu dan sepupumu berada di rumah sakit jiwa. Paman tidak tahu kenapa menjadi seperti ini.." Andre menggelengkan kepalanya dengan senyum pahit.


Jika Natha tidak mengalami penghianatan sebelumnya, mungkin sekarang ia mempercayai ucapan penuh emosi Andre. Terlepas dari apakah itu kasih sayang atau kepalsuan, Natha tidak bisa menyangkal bahwa ia memang di perlakukan lebih baik di keluarga Lumian selama bertahun-tahun. Setidaknya di permukaan.


Namun bagaimana dengan Natha yang sudah pernah mengalami pengkhianatan berkali-kali, mempercayai ucapan Andre begitu saja?


Dengan dingin Natha menatapnya. Ia membuka suara dengan tenang. "Paman, apakah kamu sudah melihat Bibi? Terakhir kali aku melihatnya, dia terlihat sangat kecewa padamu."

__ADS_1


Andre tidak menyangka Natha akan menyebutkan Sonia tiba-tiba.


__ADS_2