
"Selamat malam, Tuan Albert."
Albert mengangguk formal membalas sapaannya.
Mata Ginanjar beralih pada Abyan. Senyumnya tidak berubah, "Selamat malam, Tuan muda Abyan. Semoga Anda di sehatkan selalu."
Abyan tersenyum, namun matanya tidak, "Terima kasih."
Melihat Galen di belakang Ginanjar, Abyan langsung mengambil dan menarik lembut lengan Natha yang berada di pegangan kursi roda di belakang, sehingga Natha tertarik ke depan dan langsung berada di sampingnya. Sedangkan, si empu hanya mengikuti dengan patuh.
"Perkenalkan, Dia Vernatha, ISTRIKU. Mungkin tuan Dirgantara sudah mengenal Natha sebelumnya. Tapi, sekarang saya perkenalkan sebagai Nyonya Grissham." Nada suara Abyan seakan sedang memamerkan harta berharganya.
Kata penuh penekanan pada 'istriku', sudah jelas--itu berarti miliknya. Tidak ada yang bisa mengambil Natha darinya. Selain itu, 'Nyonya Grissham' yang Abyan lontarkan bermaksud agar semua orang tahu identitas Natha sebenarnya. Mereka harus menghormati gadis berusia 17 tahun itu.
Ginanjar yang mendengar nada sombong Abyan membuat senyum sopannya menjadi kaku dan canggung. Sedangkan, Galen yang berada di belakang ayahnya terlihat bermuka masam. Apalagi, saat dia mengatakan 'istriku', mata Abyan yang berkilat sinis dan arogan bertemu dengan tatapannya.
Ketika mendengar Abyan memperkenalkannya, Natha mengangguk dan tersenyum sopan kepada Ginanjar yang di balas anggukan kembali.
Semua perhatian tertuju pada kelompok orang di mana Natha berada. karena protagonis pesta berada di sana. Mereka diam-diam menajamkan pendengaran, sehingga semua orang dengan jelas mendengar fakta mengejutkan. Gadis yang berada di belakang Abyan membuat mereka bertanya-tanya, tentang keberadaannya. Siapa dia?
Dan sekarang, pernyataan Abyan menuntaskan keingintahuan di pikiran mereka.
Mereka tentu tahu bagaimana sikap dingin Abyan yang tidak pernah dekat dengan gadis manapun. Gadis-gadis di kalangan atas yang tercantik pun, Abyan tidak tergerak.
Bagi yang tidak tahu pernikahan itu, perkenalan sekaligus identitas Natha, membuat gadis-gadis yang datang dengan penampilan terbaik mereka langsung kecewa.
Tidak memerhatikan di sekitarnya dan bahkan mengabaikan Ginanjar yang masih ingin berbicara, Abyan melihat istrinya sudah memegang sebuah minuman yang ia duga dari pelayan.
Abyan mengerutkan kening dan langsung mengambil minuman itu dari tangannya, sehingga Natha sedikit menunduk menatapnya heran.
Abyan terlihat tengah memeriksa dengan mencium aroma minuman itu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Natha bingung.
Setelah memastikan, kerutan di keningnya semakin dalam. Lalu Abyan menoleh ke arah Natha seraya tersenyum, "Ini sampanye, kamu tidak boleh meminumnya. Lebih baik meminum jus yang baik untuk kesehatanmu."
Natha sedikit terkejut. Ia hanya mengambil asal tanpa tahu minuman apa itu. Ia tak pernah meminum minuman seperti itu sebelumnya. Dan tidak akan pernah mau.
Natha mengangguk patuh membalas senyumannya.
Abyan mengusap tangan Natha yang senantiasa berada di genggamannya. Senyuman hangatnya di tujukan untuk Natha. Tanpa ia sadari, itu membuat para gadis yang melihatnya menjerit tertahan. Sekali lagi, mereka terkejut dengan hubungan baik keduanya. Tidak menyangka, pria dingin itu menjadi sehangat matahari jika bersama istrinya.
"Siapa yang menawarimu ini?" tanya Abyan sambil mengangkat minuman itu.
Walaupun bingung, Natha menjawabnya setelah melihat seorang pelayan wanita, "Dia," tunjuknya.
Abyan mengikuti pandangan Natha. Pelayan itu berada tiga meter darinya. Lalu Abyan memanggil, "Kau... Ke sini!"
Wanita dengan usia sekitar berkepala tiga itu langsung menoleh mendengar nada dingin tuannya. Setelah memulihkan keterkejutannya, ia langsung menghampiri dengan nampan tertata minuman di tangannya.
Abyan menaruh kembali minuman itu. Lalu, menatap pelayan itu dingin. Ia menyuruhnya sedikit mendekat yang di turuti gugup oleh wanita itu.
"Lain kali, jangan tawarkan minuman beralkohol kepada istriku. Atau... Kau ku pecat dan tidak akan pernah di terima kerja di manapun!" Ancaman dingin Abyan membuat pelayan itu menggigil ketakutan, sehingga semua minuman di tangannya ikut bergetar hampir tumpah.
Tapi, ia tetap menahannya. Badannya sedikir mundur, dengan kaki seperti jelly dan gemetar, wanita itu, masih mempertahankan tundukan hormatnya.
Natha tidak mendengar ancaman Abyan kepada pelayan itu, karena volume suaranya sangat kecil. Tapi, tatapannya menuju Abyan dan pelayan itu. Natha merasa aneh saat melihat respon pelayan setelah Abyan mengatakan sesuatu.
"Ma-afkan s-aya, Tuan!" Suaranya terdengar putus asa, namun sangat pelan. Dengan kepala menunduk, wanita itu hampir menangis.
"Ambilkan jus," titahnya dingin
Pelayan itu mengangguk tergesa dan langsung pergi memenuhi perintahnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan kepadanya?" tanya Natha penasaran dengan pandangan melihat punggung pelayan itu yang berjalan tergopoh-gopoh.
Wajah dingin Abyan langsung mencair, pria itu tersenyum lembut seraya mencium tangan mungil di genggamannya. Ia berbicara lembut, "Tidak ada. Aku hanya menyuruhnya mengambilkan minuman sehat untukmu."
Natha tersipu. Walaupun hanya mencium tangan, tetap saja sangat malu! Banyak orang di tempat itu. Natha menoleh kanan-kiri. Benar saja, hampir semua mata menuju ke arahnya dan Abyan. Banyak tatapan iri dari para gadis membuat Natha entah kenapa bangga dan beruntung Abyan menjadi miliknya--suaminya.
"Ada apa, hmm?" Melihat tingkah istrinya, Abyan merasa gemas.
Natha menggeleng tanpa menatapnya. Abyan hanya geleng-geleng kepala sambil terkekeh. Ia tidak bertanya lagi.
Malam semakin larut. Acara perjamuan pun di mulai setelah Albert berpidato.
Selama perjamuan itu, kedua protagonis pesta selalu menjadi perhatian. Keuwuan pengantin baru itu menjadi tontonan romantis di perjamuan makan.
Di sisi lain, Natha terlihat sangat malu dengan kemauan Abyan yang tak tahu malu. Bagaimana tidak? Di hadapan semua orang, pria itu ingin di suapi olehnya. Mungkin karena terbiasa jika makan di suapi hampir setiap harinya. Jadi, Natha hanya pasrah.
Selain itu, Setelah bayi besarnya selesai makan. Natha sedikit kewalahan dengannya. pria itu terus-menerus menambahkan lauk-pauk ke piringnya, hampir menggunung. Katanya, tidak peduli jika Natha gemuk, asal dirinya selalu sehat dan akan tetap cantik di matanya.
Perhatian sekecilpun membuat Natha terbiasa. Namun, selalu bisa membuat hatinya menghangat. Sejak pernikahan resmi itu, ia menjadi lebih terbuka kepada Abyan. Selain itu, Abyan semakin protektif dan posesif kepadanya. Tapi, Natha tidak keberatan. Hatinya sudah menerima Abyan, kepercayaannya sudah ia taruh pada pria berstatus suaminya itu.
Di tengah makan malam tenang itu, Tiba-tiba pintu utama terbuka dan muncul ketiga orang yang datang dengan tidak tahu malunya.
Melihat itu, ekspresi-ekspresi keluarga Grissham berubah.
Semua orang menghentikan gerakannya sambil mengerutkan kening menatap mereka. Namun, diam-diam mereka ingin menonton pertunjukan bagus.
Ekspresi keluarga Dirgantara terlihat memalukan. Apalagi, Galen terlihat sangat jelek.
Natha geleng-geleng kepala, dengan ketidakmaluan mereka.
Abyan mengernyit tidak suka. Memikirkan sesuatu, kernyitannya hilang dan tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Mohon maaf atas keterlambatan kami."