
Nhita benar-benar tidak di beri ampun, keempat pengawal Abyan langsung mengangkat Nhita ke kursi rodanya dengan gerakan kasar. Siapapun akan merasa iba dan simpati akan keadaannya jika saja mereka tidak melihat Nhita melempar pisau dengan kejam kepada Natha.
Setelah mereka pergi, atensi Abyan langsung tertuju Natha. Gadis itu masih terdiam linglung dengan pandangan ke arah Nhita yang di seret pengawalnya pergi.
Kemarahannya langsung meluap, matanya melembut. Seakan mempunyai kepribadian ganda, Abyan yang sekarang begitu lembut. Pria itu langsung mendekat dan duduk di sampingnya. Ia menangkup pipi yang tidak terluka dan melihat luka di pipinya yang lain dengan hati-hati.
Lalu tanpa jijiknya ia menyeka darahnya yang hampir mengalir ke arah dagu. Gerakannya sangat lembut. Lalu pandangan gugupnya menatap mata Natha, "Apakah itu sakit? Apakah kamu mempunyai luka lain? Kenapa kamu keluar ruangan? Kenapa kamu bicara dengan wanita sialan itu? Maaf! Aku tidak menemanimu hari ini! Jika saja aku ada di sampingmu, pasti kamu tidak akan terluka. Aku sangat cemas, Dear. Aku sang--"
Natha meletakan telunjuknya di bibir pria itu yang terus-menerus mengoceh. Ia menatap kedua bola mata Abyan yang penuh kekhawatiran, kepanikan, dan rasa bersalah, "Sst. Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil. Kamu sama sekali tidak salah, kamu tidak terlambat untuk mencegah pisau itu melukaiku. Jadi jangan merasa bersalah."
Abyan langsung mendekapnya erat membuat Natha terkejut dengan pelukan mendadak itu.
"Maafkan aku.." ucap Abyan dengan suara rendah dan serak.
Natha merasa lehernya basah dengan gumaman maaf yang terus-menerus terlontar di bibirnya.
Apakah dia menangis?
Natha mendesah tidak berdaya. Ia membalas pelukannya, "Aku baik-baik saja. Luka ini akan langsung sembuh, jadi kamu tidak perlu khawatir."
Natha menenangkannya selama beberapa menit seakan Abyan sendiri yang berada di posisi Natha saat tadi.
Melihat banyak orang yang berkumpul di sekitarnya, Natha langsung menyadari. Ia merasa malu. Ia melepaskan pelukannya ketika Abyan tidak mengeluh lagi.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya seorang wanita tua dengan wajah cemas mewakili beberapa orang di sampingnya yang sedari tadi menyaksikan kejadian.
"Aku sangat baik-baik saja." Natha tersenyum, melihat perhatian orang-orang menuju wajahnya tidak lain pipinya, ia menyentuh pipinya yang terluka, "Ini hanya luka ringan."
Kecemasan di wajah wanita tua itu tidak memudar. Tapi mengusulkan dengan lembut, "Kamu harus segera mengobatinya, Nak."
Padahal mereka belum saling kenal, tapi melihat kekhawatiran di wajah mereka, Natha merasa hangat di hatinya, "Baik, terima kasih atas perhatianmu, Nek."
Wanita tua itu tersenyum hangat.
"Gadis itu sangat jahat. Aku kira dia akan meminta tolong dengan tulus, ternyata dia seorang pembunuh." Seorang wanita dengan tubuh gemuk, berbicara dengan jijik.
"Ya, untung gadis yang di lempari pisau tidak apa-apa."
"Ternyata ibunya sama-sama pembunuh, memang benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."
"Sayang sekali dia masih sangat muda, namun hatinya sangat kejam."
__ADS_1
Para ibu-ibu yang menyaksikan semuanya berkumpul dan bergosip.
Natha acuh tak acuh karena itu bukan urusannya. Ia menatap Abyan yang sedang menatapnya diam, "Ayo kembali."
"Lukamu.."
Natha tersenyum menenangkan, "Ya, nanti kamu obati, oke?"
Abyan mengangguk patuh.
***
"Berikan tanganmu."
Natha memberikan tangannya dengan patuh.
Abyan dengan teliti memeriksanya. Bahkan jari-jarinya ia lihat dengan membolak-balikannya.
Natha geleng-geleng kepala melihat tingkahnya, "Tanganku sudah sembuh sepenuhnya, jadi tidak perlu memeriksanya lagi."
Sebulan lebih berlalu setelah kejadian tangan Natha yang terluka, dan sudah sebulan lalu setelah Nhita di dekam paksa di rumah sakit jiwa.
Tentu saja tangan Natha sudah kembali mulus tanpa bekas luka sedikit pun. Sebelum tidur, Abyan selalu memeriksanya dengan melepaskan perban dan melihat setiap inci tangan Natha untuk memastikan luka benar-benar sembuh. Begitu pula pipinya.
Setelah memeriksanya, seperti biasa sekarang Abyan beralih pada pipi Natha
"Aku ba--"
Abyan langsung menarik Natha duduk di pangkuannya, "Diam."
Natha dengan pasrah dan patuh duduk diam. Apalagi posisinya sangat tidak baik untuk jantungnya.
Abyan menyapu pipi Natha dengan jarinya. Pipinya sudah kembali mulus. Saat itu, hanya butuh waktu beberapa hari untuk kembali semula. Tapi tetap saja, Abyan harus memastikan agar tidak lecet atau ada bekas luka sedikitpun.
"Sudah tidak apa-apa, kan?" tanya Natha dengan bosan tanpa menatapnya.
Mata Abyan beralih mata matanya. Karena posisinya terlalu dekat, Abyan bisa melihat bulu matanya yang begitu lentik.
Cup
Abyan mengecup pipinya itu. Lalu tersenyum seraya berbisik di telinganya, "Ya, sudah terlihat baik."
__ADS_1
Natha menganga dan langsung menoleh melihatnya wajah tampannya yang penuh dengan senyuman.
Walaupun sudah lama bersamanya, jantungnya selalu berdebar seolah-olah jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah menggosok telinganya yang gatal karena bisikan pria itu, Natha memalingkan wajah dengan ekspresi malu.
Abyan yang melihat tingkahnya, langsung memeluknya gemas, "Kenapa istriku sangat imut.."
Natha merasa pengap karena pelukannya begitu erat. Dengan pipi memerah, ia menggerutu, "Huh! Lepaskan! Aku merasa sesak!"
Abyan tertawa rendah terdengar enak di dengar di telinga Natha.
"Oh, baiklah.." Abyan melonggarkannya tanpa melepaskan.
"A-ku mau turun.." Walaupun merasa sangat nyaman, Natha merasa malu duduk di pangkuannya.
Bukannya menurunkannya, Abyan mengangkat kakinya ke ranjang dan bersandar di kepala tempat tidur tanpa melepaskan Natha, "Tidak boleh."
Kecupan terus-menerus menghujani kepalanya. Natha merasa kupu-kupu berterbangan di perutnya membuatnya senang dan geli. Jadi dengan patuh dia tidak menolak kasih sayangnya. Natha bersandar di dadanya dengan nyaman.
Abyan tersenyum. Matanya yang hangat menatap orang di pelukannya yang bisa ia lihat hanya bagian rambutnya saja.
Terpikir sesuatu, Abyan merasa sekarang waktu yang tepat untuk memberitahunya.
"Dear.."
"Hmm." Natha menjawab tanpa mengangkat kepalanya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Kita akan pindah rumah."
"Pindah rumah.." Natha bergumam belum bereaksi. Setelah sadar, Natha langsung mengangkat kepala menatapnya dengan mata melebar lucu, "Hah?! Pindah rumah?!"
Abyan tersenyum geli menatap ekspresinya. Ia sudah menduga reaksi Natha. Tapi ia hanya mengangguk santai, "Ya."
Pikiran Natha kosong. Ia bergumam pelan, "... Apakah kamu serius?"
"Tentu saja," jawab Abyan lugas. Sedetik kemudian wajahnya berubah sedih, "Apakah kamu tidak mau?"
Natha langsung menggeleng, "A-ah! Bukan begitu..tapi kenapa kita pindah rumah?"
__ADS_1
"Karena kita akan hidup berdua." Abyan menarik kepala dan pinggangnya dan memeluknya kembali ke dadanya. Lalu senyuman paling hangat muncul di sudut mulutnya, "Ah, tidak hanya itu, tapi kita akan membangun keluarga kecil di rumah baru bersama anak-anak kita di masa depan."
***