
"Hei.. aku baik-baik saja.." Natha memeluk kepalanya dengan tangan yang tidak terluka ke bahunya. Ia berbisik menghiburnya, "Sst. Jangan bicara lagi. Ini bukanlah salahmu. Jika saja Sonia bukanlah bibiku sekaligus musuhku, kamu tidak akan terlibat akan hal ini yang membuatmu terancam dan terkorbankan. Aku tidak pernah menyesalinya. Aku akan lebih sakit jika kamu terluka. Aku juga tidak lebih baik dari mati jika melihatmu tertidur seperti saat pertama kali kita bertemu. Jadi lupakan. Jangan khawatir, aku baik-baik saja."
Hatinya sedikit mengendur mendengar suara lembutnya. Dengan wajah yang terkubur di lehernya, pelukan Abyan mengerat. Natha tidak bisa melihat ekspresinya.
Natha menghela nafas. Luka di tangannya sebenarnya tidak terlalu menyakitkan, karena ia sudah terbiasa dengan luka. Namun hanya sakit di awal karena ia belum lagi merasakan rasa sakit seperti kehidupannya dulu.
"Kita tak perlu ke ru--"
"Perlu," potong Abyan cepat dengan suara teredam, namun sangat lugas.
"Kita bisa menggunakan a--"
"Natha, jangan membantah," tekannya dengan nada yang tidak bisa di bantah sekalipun.
Natha akhirnya diam dengan pasrah.
Waktu berlalu, mereka sampai di rumah sakit. Abyan langsung keluar dari mobil dan menggendong Natha ala bridal style, Natha ingin memperotes, melihat wajahnya yang suram ia menutup mulutnya kembali. Padahal tangannya yang terluka, bukan kakinya, kenapa pria itu menggendongnya seakan dia barang rapuh?
Tanpa peduli pandangan orang lain, Abyan sampai di ruangan dan memanggil dokter untuk memeriksa Natha.
Setelah semuanya selesai. Tangan Natha sudah terobati dan di perban, dokter menyatakan kondisinya, "Tangan istri Anda terluka lumayan dalam hampir mencapai tulang telapak tangan dan jarinya. Tapi untungnya tidak mencapai titik vital atau nadinya. Perban bisa di ganti dalam waktu tertentu yang akan saya tulis beserta resep obatnya."
Rahang Abyan mengeras saat mendengar kondisi lukanya. Ia tak akan pernah memaafkan Sonia jika pisau itu terkena titik vital Natha. Ia akan menghancurkannya.
Abyan memasuki ruang pribadi yang sudah di siapkan olehnya dengan cepat. Gadis itu tengah tertidur terlihat lelah. Abyan menghampiri dan duduk di sampingnya. Tangannya sudah bersih dan di perban cukup tebal.
Sebenarnya Natha bisa langsung pulang dan menjalani penyembuhan di rumah, tapi Abyan menahannya. Ia ingin Natha di rawat di rumah sakit semaksimal mungkin.
__ADS_1
Keluarganya sudah di hubungi. Mereka akan datang berkunjung tidak lama lagi. Briyan langsung mengurus kasus itu.
Abyan mengamati wajahnya yang terlihat tenang. Ia mengambil tangan kirinya yang tidak terluka. Ia menggenggam dan menciumnya lembut, "Kamu jangan pernah melakukan ini lagi untukku, Dear. Aku sakit, hatiku sangat sakit melihatmu terluka."
Bisikan lembutnya di balas dengan dengkuran halus dari Natha. Tidurnya terlihat sangat lelap. Abyan tersenyum, namun senyumannya sangat sendu dengan matanya yang dalam, "Sudah cukup dengan pengorbananmu membuatku bangun, membuatku sembuh dan kembali berjalan. Kenapa kamu masih berkorban untukku? Tolong, jangan lagi. Sudah cukup. Giliranku yang seharusnya mendapatkan tugas ini. Kamu tidak akan pernah aku izinkan menyakiti dirimu-sendiri untukku, Dear. Kamu harus mematuhiku.."
Abyan mengusap pipinya. Ia berdiri dan membungkuk mencium kedua pipinya dan terakhir keningnya cukup lama.
Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Natha, "Jangan terluka lagi, kamu adalah matahariku. Cahayaku dalam kegelapan dan kesuraman hidupku. Kamu adalah anugrah yang Tuhan berikan padaku. Jika kamu pergi, hidupku akan kembali gelap. Aku akan pergi ke manapun kamu pergi. Asal kamu tahu.."
"... Aku kembali jatuh cinta untuk kesekian banyak kalinya kepada orang yang sama. Yaitu kamu, Dear."
***
Keesokan harinya, Abyan membiarkan Natha istirahat yang di setujui dengan enggan oleh gadis itu. Abyan yang sudah memastikan Natha tertidur kembali, ia pergi keluar dan mengobrol dengan Briyan yang baru pagi itu berkunjung.
Mereka berdua duduk di sebuah bangku yang tidak jauh dari kamar pribadi Natha.
"Tadi malam Nhita datang dengan keadaan kacau dan berteriak untuk membebaskan Sonia. Walaupun aku sudah menunjukan buktinya, ia tidak peduli. Malah menyalahkan kakak ipar. Saat kami akan mengusirnya, dia hampir memotong pergelangan tangannya dengan pisau buah yang terdapat di sana. Tapi hanya setengah jalan dan dia pingsan. Aku tidak habis pikir dengannya," jelas Briyan dengan geram.
Ekspresi Abyan tidak berubah, ia hanya mengangkat alis dengan santai. Lalu bertanya singkat, "Hukuman?"
"Dia terancam hukuman 20 tahun karena rencana pembunuhan. Aku memperkuatnya menjadi seumur hidup. Tapi.." gantung Briyan dengan tekspresi heran, aneh dan sedikit ngeri.
Abyan menyatukan alisnya, "Tapi, apa?"
Briyan mengangkat kepalanya menatap kakaknya, "Tadi pagi sekali pihak polisi mengatakan bahwa Sonia di nyatakan mengalami gangguan jiwa. Wanita itu terus menerus ketakutan dan berteriak 'pergi' dengan menyebutkan 'Sania' yang aku tahu merupakan nama ibu kakak ipar."
__ADS_1
Abyan terkejut dengan pikiran rumit.
***
Sudah satu minggu Natha di rawat rumah sakit. Walaupun ia sudah sangat baik-baik saja, tetap saja dokter dan Abyan selalu menahannya untuk tidak pulang.
Beberapa hari lalu, Natha sudah memberitahu Abyan bahwa ia bisa sembuh dengan air di kalung. Sepertinya pria itu lupa dan terlalu panik saat malam itu, apalagi Abyan terus memotong ucapannya, jadi dengan pasrah Natha di rawat di rumah sakit.
Setelah seminggu tangannya di basuh dengan air tiga kali sehari, kini setengah lukanya sudah tertutup dan hampir sembuh. Jika saja tanpa air, mungkin luka itu masih menganga.
Menghindari kecurigaan dokter dan suster, dalam pengobatan dari pihak rumah sakit, Abyan melakukannya sendiri untuk mengobati Natha. Setelah itu langsung di balut perban kembali agar tidak ada yang tahu bahwa lukanya begitu cepat sembuh.
Menyaksikan bagaimana penyembuhannya begitu cepat, Abyan memperbolehkan Natha pulang dua hari lagi. Selain karena menghindari kecurigaan, Natha sangat tidak betah berada di rumah sakit.
Kedua temannya di sekolah--Theresa dan Aksa, mengunjunginya satu kali pada hari ke tiganya di rumah sakit. Ia jarang ke sekolah. Jadi mereka bertemu hanya melepas rindu sekaligus berkunjung.
Kakek Albert sudah dua kali berkunjung. Alice dan Briyan sudah tiga kali selama seminggu ini, walaupun mereka menawarkan untuk menjaganya, Abyan menolak. Ia bilang ia sendiri yang akan menemaninya. Adapun pengawal, Abyan memerintahkan mereka menunggu di luar.
Pada satu hari setelah malam kejadian itu, Abyan menceritakan tentang keadaan Sonia kepadanya.
Natha tentu kaget dengan apa yang ia dengar. Ia tidak menyangka Sonia akan menjadi gila. Pada malam itu juga, Natha menyadari ada keanehan pada ekspresi Sonia saat melihatnya setelah ia berhasil menahan pisaunya.
Tapi.. Sonia gila karena melihat ibunya? Apakah itu ilusinya? Natha tidak tahu. Mungkin ia mengira ibunya tidak terima ia di sakiti oleh Sonia. Ibu mana rela melihat itu? Walaupun ibunya sudah meninggal, mungkin jiwanya masih ada di sisinya, melindunginya. Tidak ada yang mustahil, apalagi setelah mengalami kehidupan kedua, Natha merasa tidak aneh lagi dengan hal di luar nalar seperti itu.
Natha memejamkan matanya untuk menutupi kesedihan di dalamnya.
"Terima kasih, Ibu. Aku sudah baik-baik saja saat ini. Aku menyayangimu.."
__ADS_1
***
Cerita ini memang terlalu banyak narasi daripada dialog, jadi maaf jika tidak nyaman.