Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 50 (18+)


__ADS_3

Natha menatap pintu kamar mandi dengan jantung berpacu cepat. Dia seakan tengah mengalami malam pertama dengan suaminya yang tengah mandi.


Walaupun hanya ciuman, Natha tetap malu. Sangat tidak adil, dia hanya belanja beberapa jam, tapi kenapa bayarannya mahal sekali? Apalagi, setiap bagian yang ia cium harus beberapa kali. Terlebih lagi, bagian bibir. Jika membayangkan itu, Natha bergidik. Apa aku berpura-pura tidur?


Senyum Natha terbit. Dengan gerakan tergesa, Natha membaringkan tubuhnya sebelum Abyan menyelesaikan mandinya dan keluar.


Jam menunjukan pukul 20.30, waktu yang pas untuk tidur. Dengan cepat, Natha berbaring dengan posisi membelakangi tempat Abyan tidur. Lalu, ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Menutup mata dan bernafas dengan setenang mungkin. Di keheningan, jantungnya yang berdegup kencang sangat terdengar jelas.


Di sisi lain, Abyan menyelesaikan mandinya dengan tubuh segar. Dia keluar dari kamar mandi dengan senyuman di sudut mulutnya.


Melihat seseorang di atas ranjang yang terbaring seperti kepompong, membuat senyumnya melebar dengan mata gelap yang menyipit.


Abyan menjalankan kursi rodanya menuju kasur dengan gerakan pelan agar lebih mendebarkan.


Lalu, dengan agak tertatih ia memindahkan tubuhnya ke atas kasur yang kosong di samping Natha.


Abyan mengulum senyum menatap punggung gadis itu yang tertutup selimut tebal putih.


"Dear.."


Tubuh Natha sangat kaku, namun ia berusaha untuk tidak bergerak sedikit pun seperti orang mati, bukan orang tidur.


Abyan membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap bagian belakang kepala Natha. Dia dengan sengaja merapatkan tubuhnya ke punggung Natha.


Abyan bisa merasakannya tubuhnya menegang. Tapi, sepertinya dia berusaha untuk setenang mungkin.


Mata Abyan berkilat nakal. Ia menjulurkan tangannya melingkari pinggang Natha dan semakin merapatkan tubuhnya, sehingga bisa mendengar detak jantung masing-masing.


Abyan berbisik serak dan lembut di telinga Natha. "Dear.."


Melihatnya yang masih kuat bertahan, Abyan tidak menyerah. Tangannya melingkari perut Natha dengan gerakan mengusap serta jari-jarinya yang menggelitik.


Tubuh Natha gemetar. Entah karena geli atau yang lain, yang pasti ia tetap mempertahankan posisinya.


Abyan semakin gencar. Bibirnya mendekati telinganya. Nafas panasnya berembus ke leher Natha yang tertutup selimut. Lalu suara baritonnya yang agak serak terdengar jelas. "Sayang.."


Tangannya masuk ke dalam selimut lalu masuk lagi ke dalam baju Natha mengusap perut rata dan lembutnya.


Natha tidak kuat lagi. Ia langsung bangun dengan mata memelototinya dan wajah galak. "Apa?!"


Abyan sama sekali tidak merubah senyum dan ekspresinya. Melihat wajah garangnya yang imut, senyum di sudut mulutnya memiring. "Kamu belum bayar bayaranmu, Dear."


Natha memejamkan mata dengan pipi memerah. Ia menghela nafas dalam-dalam, lalu menatapnya jengkel. "Oke!"


Abyan menatapnya polos seakan tidak tahu apa-apa dengan posisi masing terbaring.


Hati Natha gelisah. Apakah aku harus datang sendiri? Dia bingung dengan posisi menciumnya.


Melihat keseriusannya dalam berpikir, Abyan terkekeh geli. "Sambil tidur, Dear."


Abyan memejamkan matanya. "Aku siap."


Natha mengerutkan kening. Ucapan Abyan terlalu menjengkelkan, seakan dia akan melakukan sesuatu setelah menunggu pria itu siap.


Namun, Natha sedikit tenang ketika Abyan matanya tertutup. Natha membaringkan kembali tubuhnya lebih dekat dengan Abyan. Dengan pipi merah dan jantung berdegup kencang, Natha mencium keningnya 5 kali, pipi kanan dan kirinya lima kali. Natha menghentikan ciumannya. Dia merasa pegal pada bibirnya.


Merasakan ciuman Natha berhenti, Abyan membuka mata dan menatapnya panas dengan senyuman menggoda. "Kenapa berhenti?"


Natha menatapnya dengan keluhan dan membujuk. "Sudah, ya?"


Bagaimana bisa Abyan membiarkan Natha menyelesaikannya melewati bagian terpenting?


"Tidak. Teruskan."


Natha mengerucutkan bibirnya dengan mata sedih menatapnya.

__ADS_1


Hati Abyan melunak. "Oke, lima kali."


Natha terdiam berpikir. Daripada sepuluh kali kan? Akhirnya mengangguk.


"Tutup mata!" titah Natha menatapnya tersipu.


Abyan tersenyum geli. Lalu menutup matanya.


Natha mengecup bibirnya yang tipis dan hangat. Wajah Natha semakin memerah, namun dia berusaha menyelesaikannya sampai kecupan ke lima. Jantung Natha semakin menggila.


Saat kecupan terakhir Natha menahan napas, tidak menyadari perubahan Abyan.


Cup


Lalu Natha menghela nafas lega. "Sud--"


Abyan membuka matanya yang terlihat sedikit memerah. Tanpa membiarkan gadis di depannya menyelesaikan kalimatnya, ia langsung memegang bagian belakang kepala Natha dan mencium bibirnya erat.


Abyan merasa sangat tidak puas dengan hanya kecupan, ia tidak bisa menahan diri untuk menciumnya. Bibirnya merasa gatal.


Natha terbelalak kaget. Namun, kekuatan tangan Abyan menahan kepalanya tidak memberikan kesempatan untuk melawan. Natha menahan dada Abyan dengan kedua tangannya.


Bibir keduanya menyatu dan menempel. Perlahan-lahan, ciuman itu semakin intens.


Semakin lama, Abyan semakin tidak puas. Seakan merasa dahaga, ciuman lembutnya lebih menuntut dan berlama-lama. Nafasnya mulai memberat. Natha kewalahan, dia memegang baju piyama Abyan, merasa pusing dengan ciuman panas pria itu.


Abyan menekan Natha di bawahnya dengan posisi miring, suhu tubuhnya meningkat, nafasnya memberat. Ciumannya semakin dalam.


Tangan Abyan memegang pinggangnya erat. Nafas panas pria itu memenuhi wajah Natha. Saat ciumannya terlepas, Natha menarik nafas dengan rakus untuk memenuhi paru-parunya. Namun, itu tidak tahan lama, ciuman pria itu turun ke bawah.


Perubahan tubuhnya yang sensitif bisa Abyan rasakan. Bibir pria itu terangkat di sela-sela mencium dan menghisap lehernya.


Natha terengah-engah dengan mata berkaca-kaca, badannya melemas seperti jelly. Ia hanya menahan dada pria itu, namun bukannya tertahan, tangannya membuat reaksi besar pada tubuh Abuan.


"Uhh.."


Abyan melahap bibirnya kembali saat mendengar erangannya.


"Eumm.."


Natha melingkarkan tangannya di leher pria itu untuk menanggapinya. Namun saat Abyan akan berbuat lebih jauh, gerakannya berhenti.


Natha yang masih terengah-engah merasa linglung saat tidak merasakan sentuhannya lagi. Ia membuka matanya yang berkabut, lalu bertemu dengan mata merah penuh nafsu pria itu.


Abyan hanya menatapnya, lalu dia menghela nafas gusar seraya tersenyum getir. Abyan sedikit mundur dan berbaring membawa Natha ke dalam pelukannya.


Abyan mengecup keningnya dan berkata rendah. "Tidurlah."


Entah kenapa, Natha merasa kecewa. Namun, Natha bisa mengerti kenapa pria itu menahannya. Dengan patuh Natha berbaring di lengannya dan menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan hangat suaminya itu. Natha bisa merasakan dada Abyan sangat panas. Saat membalas pelukannya punggung pria itu berkeringat. Dan benda keras di pangkal pahanya masih setia berdiri.


Abyan memeluknya dengan mata kosong. Dia mencium kepalanya beberapa kali seraya menahan keinginan di dalam tubuhnya.


"Kamu pasti sembuh."


Gumaman istrinya membuat senyum hangat pria itu terbit. Abyan memeluknya semakin erat. "Aku tahu."


Senyuman hangat Abyan menjadi senyuman nakal. Lalu ia berbisik di telinga gadis di pelukannya. "Do'akan aku agar cepat sembuh, agar aku bisa berjalan kembali, dan agar aku bisa memakanmu."


Natha meninju dadanya itu dengan kekuatan menggelitik Abyan. Tanpa melihat wajahnya pun Abyan tahu semerah apa wajahnya sekarang.


Abyan tertawa dengan suara rendah. Lalu tawanya menjadi hampa. "Maaf, Natha."


Natha mencubit pinggangnya, merasa jengkel dan sedih. Jika pria itu memanggil namanya, Natha tahu betapa seriusnya dia.


Abyan meringis menunduk melihat mata istrinya yang bermata tajam.

__ADS_1


"Untuk apa kamu meminta maaf? Aku yakin kamu akan sembuh. Aku akan berusaha membuatmu sembuh."


Abyan tersenyum lembut mengecup bibirnya. "Terima kasih, Dear. Tidurlah. Kamu harus sekolah besok."


"Hmm," sahutnya. Tapi matanya tidak tertutup. Natha memainkan kancing-kancing piyama di dada Abyan.


"Tidur, Dear. Jangan membuat masalah," suara berat dan serak Abyan datang dari atas kepala Natha.


"Aku tidak membuat masalah. Dari tadi aku hanya diam," Natha bergumam polos.


Abyan gemas dengannya. Dia menggelitik pinggang Natha.


Tidak kuat dengan kegelian di pinggangnya, Natha menyerah. "Oke! Aku tidur!"


Natha mengangkat kepalanya, dengan berani menggigit jakunnya.


Nafas Abyan semakin berat dan menatapnya dengan mata memerah. "Natha.."


Natha menjulurkan lidahnya, lalu menyusut ke dalam pelukan pria itu seraya terkikik.


Abyan menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk menahannya. Apalagi, sedari tadi gadis di pelukannya tidak bisa diam.


"Kamu semakin nakal, Dear."


"Terserah."


"Segera tidur."


"Badanmu panas..."


"Diam."


"Suamiku.."


"Diam, Dear, sebelum penahananku terlepas."


"Aku tidak peduli."


"Kamu semakin berani."


"Hmm.." Gumaman Natha berangsur-angsur mengecil. Gerakan tangan kecil di dadanya melemas. Tidak lama, nafas Natha teratur.


Abyan menghela nafas lega. Ia ingin mandi air dingin sedari tadi. Tapi istrinya yang nakal di pelukannya tidak membiarkan mereda, malah memanas.


Abyan melepaskan pelukannya dengan pelan. Mencium kening, dan bibirnya. "Selamat malam. My little wife."


Natha bergumam tidak jelas dalam tidurnya. Abyan terkekeh, lalu tertawa sepelan mungkin ketika melihat beberapa tanda merah di lehernya.


"Sepertinya kurang banyak," gumamnya melihat tanda merah di leher Natha yang masih banyak celah.


Memikirkan perilaku Natha sebelum tidur, Abyan tersenyum dengan mata menyipit seperti rubah. "Aku tidak akan melepaskanmu jika aku sembuh, Dear. Aku akan menggertakmu dan tidak akan mengampunimu lain kali."


Alis Natha berkerut seakan mendengar ucapannya. Abyan menggigit pipinya karena gemas.


Natha menampar pipi Abyan seraya bergumam. "Jangan membuat masalah.."


Tamparannya sangat lemas dan pelan dengan ekspresi menegur.


"Kamu membangunkanku lagi," bisik Abyan dengan suara serak.


Natha menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dengan ekspresi berkerut.


Abyan tertawa rendah. Ia menuruni ranjang dan memindahkan tubuhnya ke kursi roda.


Roda berputar menuju kamar mandi. Pria itu bermonolog. "Aku harus mandi air dingin."

__ADS_1


__ADS_2