Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 46


__ADS_3

Di pagi hari menjelang siang, Natha tengah membaca sebuah buku tebal berisi tentang bisnis di kamarnya. Hari ini merupakan hari sabtu, waktu Natha bersantai. Namun, waktu bersantainya selalu kacau dengan adanya Abyan di sekitarnya.


Seperti sekarang, pria itu tengah rebahan dengan paha Natha sebagai bantalan kepalanya. Awalnya, Natha hanya selonjoran santai di atas kasur sambil membaca buku, namun Abyan tiba-tiba saja memindahkan kepalanya ke pahanya. Natha hanya membiarkan. Namun, bagaimana ia fokus? Abyan tidak bisa diam. Ia terus mendusel-dusel hidungnya ke perut Natha membuat ia geli.


Natha menyingkirkan bukunya. Ia menghela nafas dan menunduk menatap Abyan jengkel, "Geli! Tahu tidak?!"


Gerakan Abyan terhenti. Dia sedikit menengadah menatap istri cantiknya dengan mimik polos, "Tidak."


Natha mendengus dan melanjutkan kegiatannya. Kamar menjadi hening. Abyan melakukan hal sama lagi. Namun, Natha tahan dan mencoba untuk tidak peduli.


Abyan kesal sendiri, "Dear.." panggilnya dengan sedikit rengekan.


"Hmm," singkat Natha tanpa menatapnya.


"Sayang.."


"Hmm."


"Istriku.."


"Hmm."


"Natha." Nada suara Abyan menjadi datar.


Natha langsung menatapnya. Sikap tak acuhnya langsung menghilang. Apa lagi jika Abyan sudah memanggil namanya sendiri. Natha gugup sendiri.


"Iya? Ada apa?" sahutnya selembut mungkin.


Abyan tidak menjawab. Pria itu hanya menatap Natha tanpa ekspresi.


Natha semakin cemas. Ia sangat takut jika Abyan marah. Ia tidak terbiasa dengan mimik Abyan sekarang.


Natha menyimpan bukunya di samping. Memerhatikan Abyan sepenuhnya. Tangan kanannya menelusup ke dalam rambut Abyan yang tidak rapi seperti biasanya.


"Kenapa? Aku salah, ya? Maafkan aku," tutur Natha panik.


Abyan mengulum senyum. Ia tidak tahan dengan tatapan lembut Natha. Ia juga tidak tahan dengan berpura-pura bersikap marah kepada Natha. Dengan manja, Abyan memeluk pinggang Natha dengan wajah yang di sembunyikan di perut gadis itu.


"Aku butuh perhatian kamu, Dear.." rengekya dengan suara teredam.


Natha sedikit termangu. Lalu ia menghela nafas melihat sikap normalnya. Ia mengusap rambutnya, "Maaf."


Wangi tubuh Natha, usapan lembut di kepala, serta paha Natha sebagai bantalannya, membuat Abyan sangat nyaman. Ia mengantuk.


"Aku mengantuk." Suara Abyan mengecil


Natha terkekeh seraya melirik jam yang menunjukan pukul 10.30 siang, "Tidur saja."


Keduanya tidak mempunyai kegiatan atau pekerjaan apapun. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama jika hari libur. Keluar rumah pun sangat jarang. Natha lebih memilih melakukan sesuatu yang bermanfaat daripada keluar untuk berbelanja atau semacamnya. Di sisi lain, Abyan juga sama, keadaan kakinya tidak memungkinkan. Walaupun seandainya kakinya normal pun ia tidak suka keluar untuk bersenang-senang. Istrinya--kesenangannya--ada di rumah. Dia bisa bermanja-manja dengannya tanpa harus mencari kesenangan lain di luar sana.


Tok tok


Suara ketukan mengalihkan perhatian Natha. Siapa?


Natha bingung bagaimana membuka pintunya. Ia menunduk melihat Abyan yang sepertinya sudah terlelap.

__ADS_1


Tok tok


Suara ketukan terdengar lagi. Natha menatap bergantian Abyan dan pintu kamar yang di ketuk dari luar. Bagaimana ini?


Natha terpaksa membangunkan Abyan dengan enggan, "Hei.." Dia menepuk lembut pipi pria yang tengah terlelap itu.


Natha sampai sekarang masih bingung panggilan apa yang ia gunakan untuk Abyan. Walaupun Abyan pernah menyuruhnya untuk memanggil 'Suami', Tapi sampai sekarang Natha tidak pernah memanggilnya dengan panggilan itu. Ia hanya menunggu Abyan berbicara terlebih dahulu dengannya.


Sepertinya, sekarang Natha harus mengambil inisiatif. Dia berdehem dengan pipi memanas. Mengambil nafas dan menepuk pipi Abyan kembali. Ia berbisik, "Suami.."


"Suami.." Suara Natha tinggi saat Abyan yang masih bergeming.


"Hm." Abyan menyahut dengan rendah. Namun, matanya masih tertutup.


"Ada yang mengetuk pintu." Natha memberitahunya.


Mata Abyan langsung terbuka lebar menatap Natha dengan mulut menganga, "... Apa?"


Natha bingung dengan reaksinya, "Itu.. ada yang mengetuk pintu. Aku harus membuka--"


Abyan langsung memotongnya, "Bukan itu, Dear. Kamu tadi memanggil aku apa?"


Natha yang mengerti, langsung tersipu. Ia mencicit, "Suami.."


Senyum Abyan melebar. Rasa kantuknya langsung menghilang.


Tok tok


Suara ketukan terdengar kembali. Raut Abyan langsung jengkel, "Siapa?!"


Natha dan Abyan saling pandang, sama-sama mengerutkan kening. Sangat jarang, Alice berinisiatif mengetuk kamar mereka jika ada keperluan. Biasanya, jika mengobrol atau berbicara sesuatu, setelah makan pagi atau malam.


"Masuk saja, Mah! Pintunya tidak di kunci," teriak Abyan tanpa mengubah raut jengkelnya.


Kenop pintu berputar. Setelah terbuka, kepala Alice dengan malu-malu menyembul masuk melihat ke arah kedua sejoli yang terduduk di atas ranjah.


"Mamah ganggu, ya?" Alice tersenyum dengan rasa bersalah.


"Sangat menggangu, Mah," jujur Abyan cemberut.


Alice malah tertawa. Ia sangat tahu sebucin apa putranya terhadap Natha. Ia terkekeh malu, "Maaf, hehe. Mamah pinjam Nathanya, boleh?"


Ekspresi Abyan semakin jelek, "Mau apa, Mah?"


"Mamah mau mengajaknya belanja." Melihat ekspresi putranya semakin jelek, Alice menambahkan, "Natha juga merupakan menantu mamah, Nak. Kamu jangan terlalu serakah.."


Abyan merasa kalah. Ia menatap Natha yang menatap keduanya linglung. Abyan mengerucutkan bibirnya, "Dear? Kamu mau mengikuti ajakan mamah?"


Natha menatap Abyan yang cemberut, lalu mertuanya yang berbinar mengkodenya untuk mengangguk. Dia menggaruk tengkuknya bingung.


"Temani mamah belanja, oke? Please.. kamu tidak pernah ada waktu untuk mamah." Bujukan maut Alice semakin membuat Natha bimbang. Di sisi lain, ia takut Abyan marah.


Mimik Abyan sudah tidak enak di pandang. Natha berpikir, ia memang sangat jarang mengobrol atau menghabiskan waktu dengan mertuanya. Mendengar kata 'belanja' yang sering Theresa ucapkan jika mengajaknya, memang terdengar menarik.


Jika Abyan marah, mungkin ia bisa membujuknya saat pulang?

__ADS_1


Memikirkan itu, Natha menoleh ke arah Alice, "Oke."


Alice bersorak. Menatap Abyan dengan mengejek dan penuh kemenangan.


"Setengah jam lagi! Mamah tunggu di bawah!" semangatnya yang di angguki Natha.


Lalu, wanita itu pergi menutup pintu kembali.


Abyan terus-menerus menatap Natha dengan muram.


Natha tersenyum canggung, "Boleh, ya? Mamah kamu sangat jarang mengajakku belanja. Aku merasa kasian jika menolaknya."


Abyan mengalihkan pandangan tanpa menjawab.


Natha mendekatkan wajahnya menatapnya dengan mata bebinar, "Boleh, kan?"


Telinga Abyan samar-samar merah, Natha dengan jelas melihatnya. Pipi pria itu juga sedikit mengembung. Cara bagaimana dia sedang merajuk tidak sesuai dengan usianya.


Natha terkekeh geli. Sangat langka melihat Abyan yang mengemaskan seperti ini. Natha semakin mendekat.


Cup


Ia mencium pipinya. Membujuk kembali, "Ayolah.. boleh, ya?"


Sekarang, dengan jelas telinga Abyan memerah setelah pria itu tersentak karena ciumannya. Akhirnya, Abyan melirik Natha. Memalingkan muka ke arah berlawanan. Lalu, menunjuk pipinya sendiri dengan telunjuknya, "Satu lagi."


Natha melongo. Lalu tertawa kecil setelah bereaksi.


Cup


Gadis itu menurutinya dan mencium pipi yang satunya lagi.


Abyan langsung melunak, "Iya, boleh. Tapi tidak boleh melewati jam 3 sore!"


Natha mengangguk semringah, "Oke! Terima kasih!" Gadis itu langsung beranjak untuk bersiap-siap.


"Izin aku tidak gratis, Dear." Suara Abyan menghentikan langkah Natha.


Natha langsung menoleh, mengerutkan alis, "Bayarannya apa?"


"Sini," titahnya untuk mendekat.


Natha dengan patuh mendekat.


"Telinga kamu."


Natha dengan bingung mendekatkan telinganya untuk mendengar bisikan Abyan.


Suara rendah suaminya itu terdengar, "Bayarannya, kamu harus mencium pipi kanan aku lima kali, kiri lima kali, kening lima kali, bibir sepuluh kali, terakhir,.. ketika tidur, kamu harus peluk aku sepanjang malam sampai pagi."


Pupil mata Natha membesar. Mulutnya menganga tercengang. Tiba-tiba, Natha merasakan geli dan sedikit sakit di telinganya.


Abyan mengigit telinganya! Natha langsung menjauh dengan wajah masih shock dan memerah. Ia melihat pria itu tersenyum licik.


"Deal?"

__ADS_1


__ADS_2