
Selama rapat penting di kantornya, Abyan merasa rindu dan gelisah karena ingin segera menemui istrinya di rumah sakit. Padahal, baru dua jam berlalu sejak ia menemui Natha.
Dengan wajah suram dan enggan, ia mengikuti rapat itu sampai selesai.
Dua jam kemudian, Abyan langsung keluar ruangan tanpa peduli tamu-tamu pentingnya. Sekretarisnya yang awalnya ingin mencegahnya, langsung diam saat melihat wajahnya yang sangat tidak enak di pandang.
Langkah Abyan berhenti membuat sekretarisnya yang merupakan seorang pria yang lebih tua dua tahun dari Abyan itu, langsung mengembangkan senyumnya karena Abyan tidak jadi pergi. Namun kata berikutnya melunturkan senyumnya.
"Urus mereka."
Abyan langsung keluar dari perusahaannya tanpa peduli sapaan-sapaan karyawannya. Ia langsung memasuki mobil dan pergi ke rumah sakit.
Saat sampai di sana, Abyan langsung berlari ke ruangan Natha. Hatinya merasa tidak tenang. Dan wajahnya langsung panik dengan hati tegang saat tidak mendapati Natha di sana.
Melihat sebagian pengawalnya yang terdiam di luar dengan tenang, Abyan yakin Natha baik-baik saja. Tapi ia masih merasakan tidak enak.
"Di mana istriku?" tanya Abyan dingin.
Baru menyadari kedatangan Abyan, mereka langsung berdiri tegak dan menunduk. Salah satu dari mereka menjawab, "Nyonya di taman, Tuan."
Abyan mengangguk singkat dan langsung bergegas pergi ke sana. Langkahnya terburu-buru dengan ekspresi tegang tanpa sadar, wajahnya kembali suram dan dingin. Firasatnya tidak salah. Ia mendapati Nhita di sana.
Sebelum terlambat, Abyan berlari ke arah mereka saat menyadari gerak-gerik Nhita. Melihat sebuah benda di tangan Nhita yang seminggu lalu membuat Natha terluka, Abyan merasa jantungnya melonjak, pupilnya menyusut, rahangnya mengeras dengan gigi bergemelatuk. Abyan benar-benar tidak bisa menahan ketegangannya, apalagi semua pengawalnya berjarak jauh dari Natha dan tengah lengah.
__ADS_1
Tepat lengan Nhita berayun akan melempar, langkah Abyan sudah mendekat dan ia langsung menendang kursi roda Nhita dengan keras dan kuat sehingga pisau itu melesat ke samping, kursi roda Nhita langsung goyah dan terjatuh.
Bruk!
Nhita langsung tersungkur keras. Abyan terengah-engah menatap Nhita sedingin es. Ia mengangkat kepalanya menatap Natha yang baik-baik saja. Ia tidak tahu, bagian tubuh Natha yang mana yang terkena pisau jika saja ia tidak mencegahnya. Yang pasti, Abyan akan menghancurkan semua yang ada di hadapannya.
Namun sebelum ia bernafas lega, Abyan langsung terkejut saat mendapati setetes darah mengalir di pipi istrinya itu. Ia kira pisau itu melesat sepenuhnya.
Abyan merasa darahnya mendidih dengan kemarahan yang semakin melonjak. Ia langsung menampar, lebih tepatnya memukul wajah Nhita dengan kuat membuat Nhita langsung tersungkur keras kembali, setelahnya Abyan membungkuk dan langsung mengulurkan tangan menjambak rambut Nhita, "JANGAN SAKITI ISTRIKU SIALAN!"
Natha yang masih linglung langsung menarik pikirannya saat mendengar suara penuh kemarahan itu, matanya terbelalak. Abyan yang Natha lihat saat ini seakan bukan dia, karena amarahnya benar-benar sangat menyeramkan. Dan baru kali ini Natha melihatnya kehilangan kendali. Dan itu karena.. dia yang sedikit terluka?
Jantung Natha berdegup kencang karena suatu alasan. Ia merasa terharu dan begitu terlindungi olehnya.
Natha menurunkan pandangannya melihat Nhita yang terlihat kesakitan karena jambakan Abyan. Sebuah ingatan langsung terlintas.
Di sisi lain, wajah Nhita terlihat pucat pasi, sudut bibirnya berdarah, pipinya bengkak dan merah dengan cetakan lima jari, keadaannya acak-acakan dan kacau. Nhita merasa sangat menyesal di bandingkan saat ia mengikuti rencana ibunya sehingga membuat ia lumpuh. Wajahnya berkerut kesakitan karena jambakan Abyan. Kulit kepalanya terasa perih seakan semua rambutnya akan di cabut langsung saat ini juga, semua tubuhnya gemetar karena rasa takut dan rasa sakit. Apalagi, kakinya yang mulai merasa sakit dan tangannya yang tergores bebatuan karena tersungkur.
Mata Nitha mulai memerah. Ia melirih, "Ab-yan.."
Jambakan Abyan mengerat, "Aku akan langsung membunuhmu jika saja pisau itu berhasil mengenainya! Kau sangat keji seperti ibumu! Sikap kalian yang rakus dan serakah akan harta membuat hati memburuk dan malah menyakiti orang lain! Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti istriku lagi! Tidak untuk kedua kalinya! Bahkan hidupmu sekarang tidak cukup menderita di bandingkan penderitaan Natha!"
Abyan dengan kasar melepas jambakannya sehingga Nhita berpaling ke samping dan terjatuh ke tanah.
__ADS_1
Kata-kata terakhir Abyan tidak bisa Nhita mengerti karena mengandung makna terlalu dalam. Namun tentu ia mengerti bagaimana menusuknya dan terhinanya kata-kata itu. Bukan hanya menyakiti hatinya, tapi fisiknya sudah terkoyak sakit saat ini.
Kenapa hidupnya seperti ini?
Nhita mengangkat kepalanya menatap Natha yang menatap dia dan Abyan tanpa emosi dan ekspresi apapun di wajahnya.
Apakah karena dia? Nhita mencoba menekan kebencian di hatinya. Karena ia tahu, semua terjadi karena dirinya sendiri yang memulai. Walaupun ia menyesal sekarang, semuanya sudah sangat terlambat dengan ucapan Abyan berikutnya.
Mata Abyan yang tanpa suhu dan tajam, beralih pada keempat pengawalnya yang menunduk. Ia menunjuk mereka dengan telunjuknya, "Kalian masih ku maafkan kali ini! Pergi! Dan bawa dia ke tempat yang sama dengan ibunya! Buatlah dia bernasib sama dengan ibunya!"
Atas kalimat pertama Abyan, mereka bersyukur. Dan pada perintah Abyan, mereka langsung mengangguk dengan sungguh-sungguh.
Mata Nhita terbelalak. Ia menggeleng keras dengan ekspresi panik menatap Abyan berlinang air mata, "Ti-dak! Aku tidak gila, Ab-yan! Maafkan aku! Hiks, tolong.."
Abyan mengangkat mulutnya dengan sinis dan merendahkan, "Kamu memang tidak gila, tapi akan ku buat kau gila dengan bergaul dengan ibumu yang sudah kehilangan akalnya. Dan, apa? 'Maaf'? Semudah itukah kamu meminta maaf? Apakah kamu begitu tidak tahu malu? Apakah kamu mendadak Amnesia karena melupakan semua rencana jahatmu untuk mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan dan bahkan dengan menyakiti istriku?"
Nhita menggeleng dengan brutal. Ekspresinya benar-benar putus asa dan menyedihkan, "Ti-dak.. tolong.. maafkan aku.. maaf, maaf.."
Nhita mencoba meraih kaki Abyan, namun pria itu dengan kejam menendangnya sehingga Nhita jatuh dengan keras kembali.
Tidak mempunyai harapan, Nhita menoleh menatap Natha yang diam seperti patung, "Natha.. tolong maafkan aku! Aku menyesal! Tolong.. hiks, aku akan melakukan apapun untukmu, hiks, tolong maafkan aku.. jangan bawa aku ke tempat ibuku.. hiks. "
Nhita merangkak mencoba menggapai Natha. Namun sebelum itu, Abyan langsung berteriak, "Bawa dia!"
__ADS_1
"Tidak! Jangan! Aku tidak mau! Aargh! Tolong!!"
Raungan gila Nhita sama sekali tidak di pedulikan. Bahkan mata semua orang begitu hina dan jijik saat menatapnya.