Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 76


__ADS_3

17+


***


"Ah, tidak hanya itu, tapi kita akan membangun keluarga kecil di rumah baru itu bersama anak-anak kita di masa depan."


Ucapan Abyan begitu manis sehingga menyentuh titik terdalam hati Natha dengan lembut. Natha bersenandung dengan wajah di sembunyikan di dada Abyan membuktikan betapa malu dia.


"Apakah kamu mau?" Abyan bertanya lagi seakan menggodanya tapi suara terdengar serius.


Melihat Natha bersembunyi di pelukannya tanpa menjawab, Abyan menyelipkan rambut yang menutupi wajah cantik itu di belakang telinganya.


Ia terlihat pemalu. Abyan merasa geli, dengan sengaja mendekat ke arah telinganya. Bertanya dengan menggoda. "Sayang.. Kenapa kamu tidak menjawab? Apakah kamu tidak mau?"


Natha langsung menatapnya dengan semburat memerah di kedua pipinya. "A-ku, aku mau!" Lalu bersembunyi kembali di dadanya.


Bagaimana Abyan tahan dengan tingkahnya yang begitu imut? Ia mendesah menahan keinginan untuk menuntaskan rasa gemasnya. Tapi dengan terus menggodanya. "Lalu berapa anak yang kamu inginkan?"


Natha merasa ingin menggali tanah dan bersembunyi dari pertanyaan Abyan. Ia begitu malu sehingga ia tidak berani menunjukkan wajahnya yang mungkin sangat merah.


Ia tergagap. Suaranya terdam dengan jawaban asal. "Ter-serah kamu.."


"Benarkah?" Senyum nakal tersungging di bibir Abyan. Ia mengangkat alis. "Lalu, apakah kamu sudah siap membuatnya?"


Pertanyaannya yang sangat ambigu itu membuat Natha semakin ingin melarikan diri atau bersembunyi. Tapi ia tidak berani bergerak dan tidak ingin Abyan melihat wajahnya yang mungkin seperti apel matang, begitu merah.


Natha memukul dada pria itu dengan tinjunya yang kecil. "Jangan katakan itu!"


Abyan tertawa karena berhasil menggodanya. Natha menjadi kesal sekaligus malu mendengar tawanya. Ia kembali memukul dua kali dada Abyan dengan kepalan tangannya yang kecil. "Jangan tertawa!"


Abyan sama sekali tidak merasakan apapun. Tapi karena tergelitik, ia menggenggam tinjunya yang dengan nakal memukul dadanya. Dengan tawa yang sudah mereda, menjadi kekehan pelan. "Ya, ya. Aku tidak akan tertawa."


Natha tidak membuka suara lagi. Kamar di isi dengan keheningan. Namun suasana berangsur-angsur ambigu dan panas. Jam dinding yang berdetak mengisi keheningan menunjukan pukul sepuluh malam.

__ADS_1


Abyan menatap orang di pelukannya dengan mata gelap, tapi Natha yang tidak melihat tatapannya hanya memainkan kancing piyama Abyan yang berwarna hitam.


Tiba-tiba terlintas ingatan di pikiran Natha ketika Abyan begitu membelanya dan melindunginya. Natha merasa begitu beruntung karena tidak salah memilihnya. Tapi ia tidak tahu Abyanlah yang lebih beruntung memilikinya.


"... Terima kasih." Natha bergumam dengan suara yang sangat parau. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca karena ia merasa sangat bahagia.


"Hah?" sahut Abyan karena ia mengira salah dengar.


Natha melepaskan pelukannya. Matanya yang berair menatap dalam Abyan yang terkejut melihatnya menangis.


Tapi sebelum Abyan membuka suara, bibirnya sudah di bungkam oleh bibirnya yang lembut.


Hanya ciuman selama tiga detik. Abyan menegang. Matanya melebar terkejut, namun kegelapan di dalam semakin kuat.


"Terima kasih sudah mencegah pisau yang Nhita lemparkan hari itu, terima kasih sudah melindungiku, terima kasih sudah menerimaku dalam hidupmu, terima kasih sudah menyingkirkan mereka walaupun aku tidak memintamu, terima kasih karena kamu sudah membuat hidupku lebih berharga dan membuatku begitu bahagia, terima kasih.. terima kasih untuk semuanya..." Natha terus menerus berterima kasih dengan air mata mengalir.


Abyan langsung bereaksi dan ia tersenyum sehangat matahari. Tangan besarnya menangkup pipi Natha. "Tatap mataku, Dear."


"Aku sama sekali tidak bisa menerima rasa terima kasihmu, Dear. Karena seharusnya aku yang mengatakan itu. Walaupun aku mengucapkannya beribu kalipun, itu tidak cukup. Aku bahkan berpikir tidak cukup untuk menyerahkan nyawaku kepadamu hanya untuk melunasi rasa terima kasihku. Jangan berterima kasih karena aku mencegah pisau itu, karena itu tidak bisa di bandingkan daripada kamu yang menahan pisau Sonia dengan tanganmu sendiri hanya untuk menyelamatkanku.."


"... Jangan berterima kasih sebab aku menerimamu, karena seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu sudah datang dan memilihku sehingga aku bangun kembali. Aku menyingkirkan mereka karena aku lah satu-satunya orang yang tahu bagaimana menderitanya hidupmu yang mereka sebabkan. Aku tidak bisa diam saja.."


"... Dan aku lebih berterima kasih, karena  hidupku lebih bahagia dan berarti semenjak kamu ada. Aku bahkan merasa bahwa aku lah orang yang paling beruntung karena memilikimu.."


Abyan menyeka air mata di pipinya dengan lembut.


Natha tidak menangis lagi. Ia hanya diam menatapnya. Tapi Abyan tahu semua ucapannya sudah Natha mengerti.


Jarak wajah keduanya begitu dekat sehingga hidung mereka akan bersentuhan kapan saja.


Abyan menurunkan pandangannya menatap bibirnya. Ia merasa tenggorokannya langsung kering ketika menatap benda ranum berkilau itu begitu dekat. Dari awal ia memeluk Natha, sebenarnya suhu tubuh Abyan sudah begitu panas.


Apalagi saat mendapat ciuman dadakan Natha, Abyan begitu tegang. Belum mengatasi ketegangannya, ia harys menenangkan Natha yang menangis.

__ADS_1


Dengan posisi keduanya sekarang yang begitu dekat, nafas Abyan berangsur-angsur berat. Ia mencengkeram pinggangnya membuat posisi keduanya begitu rapat. Natha sedikit tersentak sebelum tenang kembali. Hidung keduanya sudah bertabrakan dengan nafas yang saling berembus ke wajah masing-masing.


"Bolehkah aku menciummu?" bisik Abyan serak dengan mata tertuju pada bibirnya.


Natha langsung tersipu. Jantungnya berdegup kencang. Tapi ia mengangguk tanpa keraguan.


Mendapat lampu hijau, mata Abyan bersinar. Tanpa aba-aba, tangannya yang menganggur langsung memegang tengkuknya dan mencium bibirnya.


Gerakan Abyan begitu gesit seakan sudah lama bersiap dan menunggunya. Ia menggigit pelan dan menghisap bibirnya.


Natha mengalungkan kedua tangan di lehernya. Posisi Natha yang berada di pangkuannya membuat keduanya nyaman satu sama lain dengan ciuman itu.


Abyan mengambil kesempatan memasukan lidahnya saat Natha membuka mulutnya untuk mengambil udara. Lidahnya yang panas menyapu langit-langit mulut Natha dan mengabsen satu persatu giginya.


"Ah..eum.."


Lidah Abyan menyerang begitu menuntut membuat Natha mengerang lembut.


Erangannya begitu manis, membuat Abyan semakin terangsang dan menggeram. Tangannya mengusap dari atas punggung, pinggang dengan gerakan lembut.


Mereka bertukar air liur dengan lidah saling melilit sehingga menimbulkan suara yang begitu memalukan. Ciuman Abyan tidak lembut dan tidak pula kasar. Namun sangat menuntut membuat Natha kewalahan.


"..Eum..nnngh.."


Natha kehabisan udara. Ia merasa begitu sulit bernafas lewat hidungnya karena serangan Abyan menghalanginya. Saat ia bernafas lewat mulutnya, pria itu semakin berkesempatan memperdalam ciumannya.


Nafas keduanya menjadi berat dengan suhu tubuh melonjak. Ciuman itu cukup lama dengan posisi yang sama membuat Abyan merasa tidak nyaman. Ia menginginkan lebih.


Abyan melepaskan ciumannya terlebih dahulu. Dengan gerakan mendesak, ia membalikan tubuhnya dan menekan Natha di tempat tidur.


"Ah!" jerit Natha dengan suara yang malah terdengar mendesah. Ia yang masih linglung, sama sekali belum bereaksi sebelum ia di serang kembali. Natha menatap matanya yang memerah karena nafsu.


Suara rendah magnetis dan seraknya menyapu telinganya. "Sayang.."

__ADS_1


__ADS_2