Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 95


__ADS_3

"Kamu memiliki pertunjukkan yang bagus di kantormu. Apakah kamu akan ke sana dan melihatnya?"


Ada monitor di kantor Abyan, namun ini sangat rahasia dan tidak mungkin terlihat dengan mata telanjang. Karena alasan inilah dua orang penyusup itu secara keliru percaya bahwa tindakan mereka tidak di perhatikan.


Kantornya? Cahaya dingin melintas di mata Abyan. Dalam keadaan normal, tidak ada yang di izinkan mendekati atau memasuki kantornya. Pada saat ini, siapa yang mencari kematian?


Abyan melihat Melvin lewat ekor matanya. "Sekarang kau pergi duluan departemen keamanan dan periksa monitor yang ada di kantorku."


Melvin mengangguk. "Baik."


Natha turun dari gendongan Abyan dan mengambil tas yang Melvin bawakan. "Terima kasih."


Melvin mengangguk sopan dan tersenyum. "Sama-sama, Nyonya."


Melvin menunduk, lalu pergi sesuai perintah Abyan. Sama sekali tidak memerhatikan pandangan terakhir Abyan yang dingin.


"Lain kali jangan berterima kasih kepadanya. Aku yang menyuruhnya untuk membawa tasmu," ketua Abyan dengan ekspresi kesal.


"Tapi dia yang membawanya. Kamu hanya menyuruh saja." Natha menjawab santai seraya merapikan bajunya yang kusut.


"Kamu membelanya?!" Abyan ngegas.


Natha menatapnya datar. "Aku tidak membelanya, tapi hanya menyatakan kebenaran."


"Tetap saja kamu membelanya!" Nada Abyan menggebu-gebu.


"Terserah." Natha menjawab cuek.


"Dear.."


"Apa?"


"Antara aku dan sekretarisku, siapa yang lebih tampan?"


Natha menghela nafas. Ini adalah pertanyaan yang sering Abyan tanyakan semenjak ia tidak sengaja menyebut Melvin tampan hari itu. Natha terlalu malas menjawab, sehingga pertanyaan itu terulang terus-menerus.


Natha dengan sabar menghadap Abyan dengan senyuman manisnya. Lalu ia menangkup kedua pipinya. Karena perbedaan tinggi badan, Natha harus mendongak. Abyan sudah tersenyum lebar.


Namun, senyuman Natha terlihat main-main. "Sekretarismu tampan.."

__ADS_1


Senyuman Abyan luntur.


"Tapi suamiku lebih tampan. Pria tertampan di mataku."


Abyan yang sudah akan marah, langsung tersenyum cerah. Ia mengecup bibir Natha sekilas. "Baiklah. Jawaban yang bagus."


Abyan yang akan menyerang lagi, dengan cepat Natha menahan dadanya jengkel. "Urus dulu kedua tikus yang menyelinap ke kantormu."


Abyan terkekeh. "Oke."


Keduanya langsung pergi menyusul Melvin. Saat sampai di departemen keamanan, Melvin sudah menyiapkan hasilnya.


Natha dan Abyan langsung melihatnya. Melihat kedua sosok itu tiba-tiba muncul di layar, suami-istri itu saling pandang dengan sebelah alis terangkat.


Bahkan jika anjingnya melompati tembok dengan terburu-buru, apakah mereka kekurangan IQ? Mereka pikir, bagaimana perusahaan sesukses Grissham? Apakah kantor CEO tempat keluar masuk dengan santai dan memasang monitor seenak hati? Hanya satu kata untuk kedua orang itu.


Bodoh.


Bagaimanapun semua orang akan berpikir, itu adalah perusahaan Abyan sendiri, semua tempat di awasi. Apalagi kantor CEO nya. Jika tidak, apakah itu terlalu bebas?


Adapun Meisa, ia tidak banyak berpikir. Bagaimanapun pemikirannya yaitu bagaimana agar rencananya berhasil. Lalu ia mulai merayu Abyan dan mulai bisa mencapai keinginannya. Dengan monitor bukti, Meisa yakin Abyan tidak akan bisa menyangkal dan Natha akan kalah darinya!


Sosok Meisa memang terlihat sangat bagus. Apalagi dengan pakaian seperti itu, terlihat mengoda. Namun, premis ini di didirikan atas dasar bahwa targetnya memang telah berjalan setapak demi setapak sesuai rencananya.


Jelas Meisa tidak tahu bahwa bukanlah Abyan yang melangkah ke kantor, ketika Meisa mendengar langkah kaki mendekat ke kantor, Meisa sangat bahagia dan tersipu.


Ia langsung bersembunyi di kamar mandi kantor Abyan.


Tapi ketika mendengar suara Natha di luar pada saat yang sama, wajah Meisa benar-benar berubah. Ia bertanya-tanya, bagaimana bisa Natha ada di sini? Jelas ini kantor Abyan bukan Lexandra! Mereka sudah menyelediki dengan cermat, Natha jarang mengunjungi kantor Abyan. Apalagi saat malam hari. Tapi kenapa saat ini..


Tidak peduli seberapa cemas Meisa, ia tidak bisa merubah kembali keadaan. Natha masuk kantor Abyan dengan santai, diikuti Abyan di belakangnya. Natha duduk di sofa sembari merenggangkan tubuhnya.


"Sayang, apakah kamu haus? Haruskah aku menyuruh sekretarisku untuk mengambilkanmu kopi?" Suara Abyan mengalun lembut saat bertanya.


Dalam keadaan normal, pembersih telah meninggalkan lantai saat ini. Lalu, Abyan dan semua karyawan kembali bekerja secara normal.


"Oke." Natha menjawab. Lalu ia menunjuk secangkir kopi di meja. "Sepertinya sekretarismu sudah membawakan secangkir kopi?"


"Ini sepertinya di siapkan untukku sebelumnya." Mata Abyan tertuju pada kopi itu dengan pandangan penuh arti. "Kamu sendiri tahu, aku lebih menyukai kopi."

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan meminum kopi ini saja dan membiarkan sekretarismu untuk membawa secangkir kopi lagi." Natha mengambil kopi itu.


"Tunggu sebentar." Abyan mengulurkan tangan pada saat yang sama. Mencoba untuk menghentikannya. "Kopi ini sudah dingin, ganti saja.."


Melihat tangan Abyan terulur, Natha melepaskannya. Namun tangan Abyan sama sekali belum menyentuh cangkir, lalu cangkir itu jatuh dan mengotori karpet.


"Ah!" Natha berseru kaget. Ia mengeluh. "Mengapa kamu tidak memegangnya dengan stabil?"


"Tanganku belum memegangnya.." Abyan mencoba menjelaskan.


"Aku telah melihat tanganmu terulur!" Natha menyalahkannya dengan cemberut.


"Maaf, ini salahku." Seolah tidak berniat untuk berdebat dengan Natha, Abyan menekan telepon internal dan meminta pembersih untuk membersihkannya.


Meisa yang bersembunyi, tentu saja mendengar semuanya. Ekspresinya jelek. Ia mengepalkan tangannya dan menggertakkan gigi. "Sial!"


***


Direktur departemen manajemen terkejut ketika ia menerima telepon dari CEO-nya. Ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin bosnya meneleponnya untuk membersihkan kopi yang tumpah? apakah karyawan khusus yang membersihkan kantor CEO belum kembali? Kemana mereka pergi?


Dia tidak tahu saja, pembersih yang sebenarnya sudah di bayar mahal oleh Meisa dan Galen.


Rencana Meisa dan Galen sudah ada sejak lama. Jadi, mereka sudah mulai mempersiapkan semuanya di hari-hari sebelumnya. Uang yang mereka keluarkan tidaklah sedikit, apalagi dengan berbagai pertanyaan dan jadwal pembersih yang mereka bayar.


Pada saat ini, Meisa mendengar Abyan menelepon direktur departemen, orang yang bertanggung jawab di sana pasti akan segera memanggil pembersih sebenarnya.


Seperti yang Meisa duga, pembersih asli muncul dalam 15 menit kemudian ke kantor Abyan.


Melihat seseorang datang membersihkan, baik Abyan atau Natha tidak menyingkir atau pergi. Mereka berjalan ke samping dan duduk di sofa lain. Keduanya mengobrol tentang detail spesifik dari kasus kerjasama.


Pembersih itu yang di bayar oleh Meisa dan Galen. Dia bertanya-tanya kenapa orang yang membayarnya pergi tanpa memberitahunya? Dan mengapa waktu yang seharusnya setengah hari tersebut menjadi hanya kurang dari satu jam?


Bagaimanapun, ia harus menyelesaikan pembersihan kantor CEO dengan uji tuntas terlebih dahulu. Namun karena uang yang sudah ada di dompetnya, ia tidak peduli lagi.


Meisa hampir gila. Ia sama sekali tidak bisa meninggalkan kamar mandi kantor Abyan. Apalagi harus melewati sofa yang saat jni terdapat Natha dan Abyan. Mungkinkan ia akan terjebak di sana sepanjang malam? Tetapi bagaimana jika Abyan atau Natha pergi ke toilet? Atau mungkin, tanpa meminum kopi itu, Abyan akan tergoda untuk melihatnya seperti ini?


Setelah pemikirannya, seluruh pikiran Meisa kacau balau. Ia tenggelam dalam imajinasi yang indah untuk sementara waktu, dan kemudian terseret ke dalam kenyataan yang dingin. Rasanya sangat tidak nyaman dan menjengkelkan.


Setelah merapikan karpet yang kotor, petugas pembersihan berniat untuk keluar.

__ADS_1


Namun pada saat ini, Abyan menghentikannya dan menunjuk ke toilet. "Bersihkan bagian dalamnya juga."


__ADS_2