
"Galen! kau berengsek!"
Berengsek? Galen tersenyum miring. Siapa yang akan mengasihaninya? Natha lebih baik dari orang di depannya.
Mata dinginnya menatap Nhita, lalu Galen berbalik dan melangkah menuju gedung Lexandra.
Nhita ingin mencegahnya pergi, namun ia di tahan oleh satpam. Menoleh kepada penjaga keamanan dengan marah, Nhita berseru, "Kenapa kalian menghentikanku?! Kenapa orang itu tidak kalian hentikan?!"
"Maafkan kami. Orang lain memang boleh masuk, namun kami hanya di perintahkan untuk tidak membiarkan Anda masuk," jawabnya dengan sedikit sopan.
Hampir semua penjaga keamanan Lexandra mengenali Nhita karena sebelumnya dia putri CEO mereka, namun sekarang berganti. Atasan mereka memerintahkan untuk memblokir Nhita masuk, namun sikap mereka masih terlihat sopan.
"Kalian semua mengenaliku! Kenapa kalian berani menghentikanku?! Jika kalian masih ingin bekerja di sini, biarkan aku masuk atau aku akan membuat kalian di pecat!" raung Nhita arogan seraya berontak.
Mereka tidak menjawab. Tugas mereka hanya menahannya. Ini adalah perintah atasan mereka, kenapa mereka harus takut di pecat?
Teriakan marahnya di abaikan dan benar-benar tidak di izinkan masuk. Nhita dengan enggan menyerah dan hanya menunggu diam di luar.
***
Natha memang berhasil mengambil alih Lexandra, namun Natha masih membutuhkan banyak informasi, terutama akun berantakan yang di bicarakan Andre. Untungnya, sekelompok talenta yang di persiapkan oleh Abyan membantunya meringankan beban. Benar-benar menyelamatkannya dalam banyak masalah.
Ketika sekretaris memberitahunya tentang kedatangan Galen, Natha mengangguk dengan kening berkerut erat. Ia merasa sangat jengah dengan orang ini, tapi ia juga ingin tahu dengan tujuannya.
Di sisi lain, mengetahui Natha bersedia menemuinya, Galen sangat senang. Mood buruk karena bertemu dengan Nhita sebelum masuk langsung menghilang.
__ADS_1
Sayang sekali, Natha sama sekali tidak menghargai niat Galen. Celah sudah Natha isi tepat ketika Natha mengambil alih Lexandra. Natha sama sekali tidak kekurangan uang. Belum lagi ada Abyan yang kuat di belakangnya, untuk apa menerima bantuan Galen? Sangat merepotkan. Apalagi Natha sama sekali tidak ingin terlalu banyak berhubungan dengannya setelah mengingat seposesif apa suaminya.
"Aku tahu kamu sudah di bantu keluarga Grissham." Galen tidak heran dengan penolakan Natha. Ia menghela nafas, "Tapi bukankah seharusnya kamu mandiri secara finansial dari mereka? Tidak peduli sebaik apa Abyan memperlakukanmu dengan baik, itu tidak seindah kata-katanya. Setelah kamu menerima uangnya, semakin lama statusmu akan menurun. Apalagi, jika seandainya kamu bertengkar dengannya, kamu tidak akan mempunyai kepercayaan diri lagi. Dan--"
"Tunggu, tunggu," potong Natha terdengar senyuman sinis. Ia menatap orang di depannya dengan cibiran dingin, "Kamu tidak tau apa-apa tentangku, Abyan, dan keluargaku sekarang. Jadi, jangan bicara omong kosong. Aku merasa muak mendengarnya."
Mata Galen meredup. Ia membuka mulut untuk berbicara, namun Natha kembali berbicara, "Lalu, apa perbedaannya antara menerima bantuan Abyan dan kamu? Jika Abyan membantuku, itu terbilang wajar karena dia adalah suamiku sekarang. Sedangkan kamu? Aku tidak yakin niatmu tidak sesederhana itu."
"Aku dan Abyan tentu berbeda. Bahkan jika mendampingi cintamu selama bertahun-tahun, bukankah hubungan Abyan dan kamu lebih sederhana daripada hubungan kita yang lebih lama? Aku tahu kamu membenciku, tapi aku hanya ingin membantumu, tidak ada yang lain." Galen berusaha membuat alasan untuk lebih mendekatkannya kembali pada Natha, namun ia tidak tahu saja, Natha semakin muak.
"Galen, apakah kamu bisa menyadarkan diri? Bagaimana perilaku munafikmu kepadaku pada saat di mana aku mengejar-ngejarmu? Jangan membahas cinta atau hubungan masa lalu kita, itu sudah berlalu. Bahkan tidak layak aku kenang." Natha mencondongkan tubuhnya berbisik penuh penekanan. Tatapannya sangat menusuk. Lalu ia bersandar kembali di kursinya, "Sekali lagi buka telingamu, kamu pasti mengerti bahasa manusia, kan? Aku tidak butuh bantuanmu, aku tidak kekurangan uang sama sekali."
Ekspresi Galen berubah-ubah antara menyesal, kecewa, marah. Ia sudah beberapa kali membuka mulut, namun tidak ada kata-kata yang keluar seolah bisu.
Melihatnya diam, Natha berbicara formal dengan datar, "Terima kasih sudah menawarkan bantuan Anda, Tuan muda Dirgantara. Anda sudah mendengar bahwa saya tidak butuh. Jadi, silahkan pergi, pintu keluar terbuka lebar. Saya masih punya banyak pekerjaan yang lebih penting."
Melihatnya acuh tak acuh, dengan enggan Galen melangkah pergi keluar.
Jika saja Natha melupakan bahkan hanya setengah penderitaan masa lalunya, ia pasti akan luluh dan membuka lebar hatinya kembali untuk Galen setelah mendengar kata-kata itu. Namun itu tidak mungkin. Setiap Natha bertemu dengan pria itu, terlintas rasa sakit dan ingatan masa lalu langsung muncul. Itu sangat menusuk hatinya.
Sebaik apapun sikap Galen sekarang, sebanyak apapun maaf Galen untuknya, dan bahkan jika Galen harus berlutut dan bersujud untuk memaafkannya di masa lalu, itu tidak cukup. Luka fisik dan batin yang di torehkan terlalu dalam. Sebaik dan semanjur apapun obatnya, luka pasti membekas. Apalagi ia merupakan jiwa yang sama yang tidak Tuhan hilangkan ingatannya, rasa sakitnya, penderitaannya di masa lalu.
Natha tidak membayangkan, bagaimana keras hatinya, runtuhnya kepercayaan kepada siapapun jika Abyan tidak hadir dalam hidupnya.
Natha menatap tempat menghilangnya Galen dengan kebencian di matanya yang dingin. Kedua tangannya mengepal di atas meja.
__ADS_1
"Cih. Bajingan berengsek."
***
Nhita menunggu lama dengan dumelan dan gerutuan yang terus menerus keluar dari mulutnya. Tadinya, ia ingin menunggu Natha, namun ia menyerah. Jadi, Nhita berniat menunggu Galen.
Lalu ia melihat Galen dengan kepala menunduk berekspresi sedih. Nitha menghampirinya dengan wajah mengejek, "Jika berjalan matanya harus ke depan, bukan ke bawah. Kamu mempunyai mata, kan?"
Mendengar suara Nhita, Galen menoleh. Ekspresinya menunjukan ketidaksabaran, "Aku pikir kau sudah pergi."
"Heh! Jangan konyol. Walaupun Natha sudah mengambil alih, tetap aja, ayahku masih berhak. Menurutmu, kenapa kamu harus berada di sini dan seenaknya masuk, sedangkan aku pergi gitu aja?" cetusnya jengkel.
"Jika ayahmu masih berhak, kenapa kamu tidak di izinin masuk? Itu berarti Natha sudah sepenuhnya mengambil alih. Kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu harus sadar, kamu harus menarik diri dan tempat ini bukan urusanmu lagi, di mana kamu tidak bisa datang dan tidak di izinkan masuk. Selama apapun kamu menunggu, tidak ada kemungkinan untuk mengubah."
Setelah mengatakan ucapan tajam itu, Galen kembali berjalan melewati Nhita.
Ekspres Nhita sudah sangat jelek untuk di lihat. Tanpa berpikir banyak, ia mengejar Galen yang sudah masuk mobil dan duduk di kursi pengemudi, lalu Nhita menerobos masuk di kursi belakang.
"Nhita!" Galen menoleh dengan wajah marah, "Apa yang kau mau?! Turun!"
"Aku tidak mau! Aku akan pergi kemanapun kamu pergi," tukasnya keras kepala.
Semakin Galen menghindarinya, semakin gentar Nhita mengejarnya. Ia merasa tidak terima, di masa-masa sulit sekarang kenapa Galen mengejeknya? Itu menjengkelkan!
"Seharusnya kamu pergi ke kantor polisi dan berpikir bagaimana caranya orang tuamu di keluarkan! Jangan menggangguku!"
__ADS_1
***
Jangan lupa cek cerita baru aku ya!