
"Brankas? Warisan? Kenapa?! Kakek hanya memberiku 15% saham! tapi kenapa Natha mendapatkan begitu banyak! Sangat tidak adil!"
"Nhita! Tenanglah! Ibu sengaja tidak memberitahukannya kepadamu agar kamu tidak terlalu dalam memusuhi Natha!"
"Kenapa?! Ibu selalu melarangku untuk berdebat dengannya! Aku menahannya selama bertahun-tahun! Bahkan, sikap kalian lebih baik kepada Natha! Pada akhirnya, aku tidak mendapatkan apapun! Aku bekerja keras bersikap baik kepada Kakek pada waktu yang lama, tapi hidupku sangat menyedihkan! Kakek hanya memberiku 15% saham! Sedangkan Natha? Dia mendapatkan semuanya!" teriak Nhita tidak terima sambil menyeka air matanya.
Sejak awal, Nhita tahu, Natha bukanlah adik kandungnya. Tetapi, kedua orang tuanya berulang kali untuk bersikap baik kepadanya, membujuknya dan menjaga rahasia yang sebenarnya.
Ketika Nhita masih muda, ia tidak mengerti kenapa harus melakukannya. Setelah tumbuh perlahan, ia mengerti. Dan sumbernya terletak pada Alan--kakeknya. Ia selalu berusaha bersikap baik kepada kakeknya, merebut posisi Natha di hati kakeknya. Ia pernah mendengar, kakeknya tidak menyukai keluarganya karena perubahan marga yang ayahnya ubah. Namun, semuanya berubah ketika orang tua Natha kecelakaan dan menitipkan Natha kepada kedua orang tuanya.
Sikap kakeknya sedikit melunak. Tapi, karena keberpihakan Alan, orang tuanya dan ia harus bersikap baik dan hati-hati kepada Natha. Sampai sekarang, Nhita menjadi lebih mengerti, orang tuanya bersikap sangat baik kepada Natha lebih daripadanya. Pada akhirnya, semua usahanya sia-sia. Sekarang, ia kehilangan semua kesabarannya karena tidak mendapatkan apapun. Natha mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Jelas, ayahnya selalu bekerja keras untuk Lexandra selama bertahun-tahun. Jelas, keluarganya tidak pernah bersikap buruk kepada Natha. Tapi, sampai kakeknya meninggal, hal yang paling penting dan berharga selalu menjadi milik Natha!
Hati kakeknya bias dan keras kepada keluarganya sampai meninggal. Ketika memikirkan semuanya, Nhita hanya membenci Natha dari lubuk hatinya.
***
Entah kebetulan atau apa, di pagi harinya, Natha membuka matanya yang terlihat hangat. Ia baru saja memimpikan kakeknya. Tangisan dirinya saat mengantarkan kakeknya ke tempat terakhir, terbawa mimpi, sehingga saat membuka mata Natha merasakan basah di pipinya. Natha mengusap air matanya sambil menatap langit-langit kamarnya.
Natha tahu, ia sendiri merupakan harapan serta kebanggaan kakeknya. Ia juga adalah orang yang selalu paling kakeknya khawatirkan sampai meninggal. Kakeknya selalu memiliki senyum kasih sayang di wajahnya. Tidak pernah sekalipun menunjukan ketidakbahagiaan.
Natha sangat merindukannya, senyum hangat kakeknya selalu Natha ingat.
Fikirannya terlalu penuh dengan kakeknya, sehingga Natha tidak menyadari pria yang tengah memeluknya sudah membuka mata dan menatapnya.
Melihat sorot matanya, Abyan menatapnya semakin lekat dengan wajah bergeser mendekat, "Apa yang kamu pikirkan, Dear?"
Mendengar suara lembut di telinganya, Natha langsung menarik fikirannya kembali. Dengan refkleks, menoleh. Karena jarak terlalu dekat, hidung keduanya langsung bertabrakan.
Cup
Di tengah ketidaksengajaan, Abyan mengecup bibir Natha, "Good morning."
Wajah Natha langsung memerah. Ia sedikit menjauh.
Abyan tersenyum lembut, dengan sedikit kekhawatiran di matanya, "Ada apa, Hmm? Apakah kamu mengalami mimpi buruk?"
Natha menggeleng menanggapi pertanyaan Abyan.
__ADS_1
Abyan mengernyit, "Lalu, kenapa dengan ekspresimu?"
"Aku bermimpi tentang kakek. Aku sangat merindukannya," balas Natha jujur dengan suara lirih.
Abyan menghela nafas. Lalu, ia mendekapnya lembut, "Aku mengerti."
Dengan semua penyelidikannya tentang Natha, Abyan tentu tahu siapa kakek Natha. Karena, kakeknyalah orang yang paling menyayangi Natha selain kedua orang tuanya. Sangat wajar, Natha merindukannya.
Natha membalas pelukannya. Dia menutup mata merasakan kenyamanan. Suasana hatinya menjadi tenang.
Mengingat sekolah hari ini, Natha langsung membuka matanya. Terpaksa harus keluar dari kenyamanan pelukan Abyan. Dalam hatinya menggerutu.
"Lepaskan. Aku akan mandi," ujarnya dengan suara teredam.
Abyan tidak bergerak membuat Natha mendongak dan melihatnya menutup mata kembali. Wajahnya menjadi kesal.
"Lepas.. Aku akan pergi sekolah! Nanti kesiangan!" Natha berusaha keluar dari pelukannya.
Abyan berdecak, "Bawel."
Abyan membuka matanya dan menunduk. Dengan gemas mengigit hidung kecilnya.
Abyan tersenyum bodoh. Natha mengelap air liur di hidungnya dengan jijik seraya melototinya.
"Huh! Kamu kenapa menggigit hidungku!" gerutu Natha dengan cemberut sambil beranjak dan duduk.
Karena gigitan dan gosokan, hidung Natha menjadi merah, rambutnya berantakan. Bukannya jelek, Abyan semakin gemas. Abyan ikut bangun dan menangkup pipinya. Lalu pria itu mencium seluruh wajahnya, "Iya, iya. Maaf, Dear."
Seluruh wajah Natha memerah sampai ke telinga. Panggilan 'Dear' sepertinya akan sangat sering terdengar di telinganya.
Dengan tergesa, Natha turun dari ranjang untuk menghindari Abyan. Gadis itu berjalan ke kamar mandi dengan Bibir mengerucut dan kaki di hentakan.
Abyan terkekeh sambil menatapnya geli.
Natha sempat melihat ke belakang dan bertemu tatapannya, "Apa lihat-lihat?!" cetusnya garang dengan tangan berkacak pinggang untuk menutupi kesaltingannya.
Abyan mengangkat sebelah alis. Ia menatap Natha dalam dan tersenyum menggoda, "I love you, Dear."
Natha mengerjap-ngerjap dengan mulut menganga. Ia tercengang. Setelah pulih, Natha langsung berlari cepat dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah masuk dan menutup pintu, Natha mengigit bibirnya menahan jeritan. Hatinya berbunga-bunga. Ia tidak bisa lagi menahan senyumnya sambil menangkup pipinya yang memerah.
"I love you too, My Husband."
***
Saham Nhita yang merupakan harapan terbesar keluarga Lumian, kini sudah tidak ada. Akhir-akhir setelah pesta perjamuan itu, keluarga Lumian berada di lingkaran frustrasi. Apalagi Andre sebagai kepala keluarga. Andre takut Abyan akan mengambil langkah selanjutnya, merencanakan sesuatu yang buruk kepada keluarganya. Pada akhirnya, ia tidak bisa mengambil kembali saham Lexandra yang berserakan.
Dalam situasi ini, mereka lebih yakin dan bersemangat untuk merebut brankas Natha.
Hanya saja, putri mereka--Nhita--menjadi dingin setelah malam itu. Tapi, hanya beberapa hari. Bagaimanapun, Nhita selalu berlari ke dalam pelukan ibunya jika mempunyai masalah dengan Galen atau masalah apapun.
Saat ini, Andre dan Sonia akan menemui Natha di sekolahnya. Bagaimanapun, mereka lebih leluasa berbicara dengan Natha tanpa Abyan atau keluarga Grissham lainnya di sekitar mereka. Suami-istri itu juga tidak berniat menunggu pulang sekolah, tapi ketika waktu istirahat.
Saat tiba di gerbang, mereka memberi alasan kepada satpam, menemui putri mereka karena sesuatu yang penting. Dengan mudah keduanya masuk. Tidak peduli dengan tatapan siswa-siswi yang mereka lewati.
Hanyalah Natha dan brankas yang saat ini di pikirkan kedua orang tua Nhita itu.
Sepertinya hari ini keberuntungan selalu datang. Mereka melihat Natha yang berjalan sendirian.
Tanpa basa-basi, Andre dan Sonia menghampirinya dengan mata berbinar.
"Natha!" panggil Sonia semringah.
Di sisi lain, Natha menghentikan langkahnya ketika mendengar suara familier, tapi tidak enak di dengar. Karena Natha tahu, siapa suara ini. Keningnya mengerut dengan bibir di tekan erat.
Dengan enggan Natha menoleh.
Benar saja, itu bibi dan pamannya? Natha semakin mengerutkan kening dengan keberadaan mereka di sini. Apalagi, waktunya tidak tepat.
Tadinya, Natha akan pergi ke perpustakaan setelah berpamitan dengan Aksa dan Theresa. Namun, sekarang Natha merasa menyesal menolak tawaran mereka untuk ke kantin.
Melihat wajah semringah mereka, Natha memiliki firasat tidak enak.
"Natha! Kami ingin berbicara sesuatu denganmu."
Natha hanya menatap mereka datar tanpa menjawab. Namun, Sonia menganggap diamnya Natha sebagai persetujuan. Melihat mimik datar Natha, wajah cerah mereka tidak berubah.
"Kamu pasti tahu tentang brankas yang di tinggalkan kakekmu, kan?"
__ADS_1