Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 118


__ADS_3

Pertumbuhan seorang anak selalu menjadi bukti terbaik untuk menyaksikan perjalanan waktu. Dalam sekejap mata, Alex dan Alexa sudah berusia tiga tahun, sudah waktunya untuk pergi ke taman kanak-kanak. Walaupun masih cadel, mereka sangat pintar berbicara. Bahkan dalam pertumbuhan seperti berdiri, berjalan, serta berbicara lebih cepat dari bayi normal biasanya.


Temperamen seorang anak bisa orang tua lihat semakin dia bertumbuh. Natha tidak mengkhawatirkan Alex, meskipun putranya mempunyai temperamen pendiam kepada orang lain, tapi dia sangat tenang. Saat mendengar bahwa dia harus pergi ke taman kanak-kanak, Alex sama sekali tidak menolak atau menangis. Hanya saja sedikit enggan harus berpisah dengan dirinya.


Sebaliknya, temperamen Alexa sangat berisik dan tidak mudah untuk di redakan.


"Ayah! Lexa tidak mau sekolah!!"


Seperti biasa, saat ibunya mengharuskan sesuatu yang tidak ia suka, maka Alexa akan berlari ke ayahnya.


Natha sudah menjelaskan dengan antusias dan lembut tentang bagaimana taman kanak-kanak, namun Alexa langsung menangis dan menolak.


Alexa tidak suka duduk di bangku sepanjang waktu, Alexa tidak mau makan siang di taman kanak-kanak.


Pokoknya Alexa tidak suka semuanya.. sehingga ia langsung menangis saat ibunya memberitahu bahwa besok ia harus pergi ke taman kanak-kanak.


"Aku tidak mau ke sana ... hiks, aku mau belmain di lumah ...." Alexa berteriak menangis.


"Alexa, Sayang, kamu harus pergi ke sekolah, oke? Nanti ayah belikan Alexa mainan yang banyak."


Abyan mencoba memeluk dan membujuknya, namun yang ia dapatkan selalu pukulan ringannya. Tapi tetap saja, lama-kelamaan itu akan sakit jika terus menerus. Meskipun ia kewalahan, Abyan terus membujuknya dengan lembut.


Abyan selalu bertanggung jawab atas pendidikan Alexa, jadi Natha langsung berbalik pergi ke dapur untuk memasak tanpa sepatah kata pun, meninggalkan gadis merepotkan itu untuk di ajar Abyan.


Abyan selalu bisa membujuk Alexa walaupun selalu menjadi korban amarah dan kekesalan putrinya itu. Dia lebih tahu bagaimana temperamennya.


Tapi berbeda dengan putranya, Abyan merasa sangat sulit untuk lebih dekat denganya, karena Alex lebih dekat dengan ibunya. Yang ada, mereka selalu bertengkar dan beradu mulut. Tentu saja tidak jauh tentang Natha.


"Aku akan membantu ibu!" Alex melompat dari sofa dan berlari menyusul ibunya ke dapur.


Anak lelaki itu terlihat lucu dan tampan dengan baju kaus dan celana jeans kecil yang ibunya pilihkan. Rambutnya sudah terlihat rapi.


Namun sebelum ia memasuki dapur, Alex menoleh ke arah ayahnya yang tengah menenangkan adiknya. Ia berkata layaknya orang dewasa yang tengah jengah. "Kalian ... sangat melepotkan."


Abyan menatap kesal kepergian putranya itu. "Dasar anak durhaka."


Alexa semakin sedih dengan kepergian ibunya dan kakaknya. Alexa ingin di bujuk ibunya dan membiarkannya untuk tidak pergi ke taman kanak-kanak.


Alexa yang sempat menjeda tangisannya, langsung menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca dan lebih menyedihkan. Ia berharap ayahnya menghiburnya dan membujuk ibunya agar dia benar-benar tidak pergi ke taman kanak-kanak. Jika ayahnya bersikeras, maka ia akan mencari neneknya.


Alexa langsung melompat ke pelukan ayahnya dan bertingkah manja serta menyedihkan. "Ayah, aku tidak mau pelgi ke taman kanak-kanak ... aku ingin belmain dengan ayah di sini ...."

__ADS_1


Jika Alexa bertingkah seperti ini, biasanya akan selalu meluluhkan Abyan bagaimanapun. Ya, putrinya sangat harus pergi ke taman kanak-kanak.


"Tidak, Sayang, kamu harus pergi. Kita bisa bermain setelah kalian pulang ...."


Mendengar penolakannya, Alexa menangis lebih keras.


Abyan menghela nafas. "Baiklah. Kamu tidak akan pergi."


Dengan itu, tangis Alexa langsung mereda dan kembali memeluk ayahnya.


***


Keesokan harinya, ayahnya itu benar-benar menepati ucapannya. Alexa tidak pergi, namun kakaknya di antarkan pergi ke taman kanak-kanak oleh ayah dan ibunya. Setelah itu, mereka langsung pergi bekerja.


Sedangkan, ia bersama neneknya yang datang sangat pagi ke rumah mereka.


Alexa merasa tidak senang, ia memang tidak pergi, namun kakaknya pergi dan ia di tinggalkan di rumah tanpa teman bermain. Saat makan siang, tidak ada yang mencuri makanannya atau menjahilinya. Saat tidur siang, neneknya menyanyikan lagu pengantar tidur yang bagus namun Alexa sulit untuk tidur. Ia merasakan sesuatu yang hilang di Sekitarnya.


Alexa merasa tidak bahagia sepanjang waktu. Saat neneknya mengingatkan untuk pergi ke taman kanak-kanak, tiba-tiba ia menjadi semangat dan berjanji akan pergi besok.


Saat kakaknya pulang dan menceritakan keseruannya di sana, keputusan Alexa menjadi bulat dan benar-benar semangat untuk pergi ke sana.


"Ayah, ibu, aku akan pelgi ke taman kanak-kanak."


Keduanya saling memandang dan tersenyum.


Abyan langsung berjongkok dan menggendongnya ke pelukannya. Setelah berdiri, ia bertanya penasaran. "Baiklah. Kenapa keputusanmu berubah?"


Alexa memainkan jari-jarinya dengan ekspresi imut. "Aku ... aku ingin mempunyai teman belmain yang banyak.."


Abyan dan Natha tertawa kecil. Natha mencium pipinya membuat Alexa meliriknya malu-malu.


Mereka yakin, pasti Alice telah membujuknya. Sedangkan, Alice sendiri sudah pulang tepat keduanya tiba.


"Oke. Kalau begitu, akan ibu dan ayah antarkan besok."


"Apakah ibu akan mengantalkanku juga?"


Pertanyaan dengan suara lucu itu membuat atensi ketiganya tertarik dan melihat Alex yang berdiri dengan baju tidurnya.


Natha tersenyum lembut. Ia mendekat dan berjongkok di depannya seraya mengusap rambutnya. "Tentu saja, Sayang. Kami akan mengantarkan kalian berdua."

__ADS_1


Alex tersenyum cerah dan memeluk leher ibunya. Di belakang Natha, Alex menatap ayahnya mengejek, namun suaranya di imut-imutkan. "Bolehkan malam ini aku tidur denganmu, Bu?"


Ekspresi Abyan berubah.


"Aku juga!" seru Alexa semangat membuat ekspresi Abyan semakin jelek.


Natha selalu luluh dengan Alex yang bertingkah bayi kepadanya, jadi ia mengangguk. "Oke."


Abyan tidak mau kalah. "Ayah juga akan tidur dengan ibu kalian."


"Tidak!" Alex dan Alexa membantah bersama. Alex berkata kesal. "Ayah selalu melebut ibu daliku!"


"Aku ingin tidul dengan ibu, tidak bisakah ayah berolahlaga sendili di kamal ayah? " Pertanyaan polos Alexa membuat wajah Natha memerah.


Natha langsung menatap Abyan tajam dan memelotinya.


Abyan malah tersenyum dalam diam. Ia menatap Alexa dan berkata sedikit sedih. "Tidak bisa, Sayang. Ayah harus berolahraga bersama ibumu agar badan kita lebih sehat. Selain itu, dengan berolahraga Alexa bisa saja mempunyai adik kecil nantinya. Apakah Alexa mau mempunyai adik kecil yang lucu?"


"Aku mau!" Alexa berujar semangat.


Wajah Natha semakin memerah. Sedangkan Alex terlihat cemberut.


Alexa langsung turun dari gendongan ayahnya dan berlari ke arah Alex untuk menarik tangannya antusias. "Kakak! Ayo kita tidul beldua saja tanpa ibu! Bialkan ibu dan ayah berolahlaga agal kita mempunyai adik kecil yang lucu!"


"Aku ...." Alex ingin menolaknya dan menatap ibunya sedih, tapi permintaan antusias adiknya tidak bisa ia tolak begitu saja. Akhirnya ia menyerah dan mengangguk. "Ayo.."


Saat tatapan Alex ke arahnya, Abyan mentapnya arogan dengan tangan bersedekap dada. Di belakang Natha, Abyan menjulurkan lidahnya mengejek.


Langkah Alex langsung berhenti. Ia mengerucutkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menunjuk ayahnya seraya mengadu. "Ibu ... ayah mengejekku."


Natha langsung berbalik dengan tangan berkacak pinggang dan menatapnya galak. Abyan melotot kaget dan gelagapan. "Tidak, Sayang! Alex berbohong! Tanyakan saja Alexa!"


Natha langsung menatap Alexa. "Siapa yang benar?"


Alexa berkedip beberapa kali menatap bergantian ayah dan kakaknya dengan ekspresi polos. Lalu ia memiringkan kepalanya menatap ayahnya. "Tadi ayah menjululkan lidahnya ke alah kami."


Abyan terbelalak mendengar jawaban polos putrinya. Sedangkan Alex tersenyum penuh kemenangan saat Natha sudah berbalik kembali ke arah Abyan dengan senyuman manis.


Namun Abyan bergidik melihat senyumnya.


"Kamu tidur sendiri di kamar, aku akan tidur bersama anak-anak."

__ADS_1


Abyan langsung menggeleng-geleng panik. Melihat Natha akan pergi, Abyan langsung memeluknya erat dan merengek. "Tidak mau ... aku ingin tidur bersamamu ...."


__ADS_2