
"Lepaskan.." bujuk Abyan dengan lembut saat melihat tetesan air akibat kepalan di tangannya yang mengalir semakin deras.
Melihatnya tetap diam, Abyan semakin khawatir. Air semakin menetes ke lantai. Karena keheningan, tetesannya terdengar jelas. Pria itu menghampirinya lebih dekat. Dengan lembut meraih tangannya dan membuka jari-jarinya yang terkepal. "Jangan lakukan ini."
Akhirnya perhatian Natha langsung tertuju padanya. Tapi, tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Seakan mayat hidup yang baru saja bangkit. Tidak ada emosi apapun.
Hati Abyan terasa sesak melihat wajahnya. Ia ikut tertekan. Walaupun tidak tahu yang di pikirkannya, Abyan yakin ini tentang Nhita. Jadi, ia membujuknya dengan lembut, "Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan apapun. Aku akan selalu berada si sampingmu dan mereka tidak akan pernah bisa menyakitimu."
Tetesan air di telapak tangannya akhirnya berhenti. Mata Natha secara bertahap dapat melihat. Tidak kosong lagi. Kesadaran Natha kembali normal.
Menyadari tangannya berada di genggaman Abyan, tanpa sadar Natha ingin menarik. Tapi, Abyan menahannya. "Jangan sakiti dirimu sendiri, Oke?"
Hati Natha melunak. Dia mengangguk patuh. Tapi, ia kembali linglung dengan kepala menunduk.
Abyan menghela nafas. Ia menoleh ke samping melihat sebuah sofa untuk satu orang. Memikirkan sesuatu, Abyan mencoba mengalihkan kesedihannya dengan berkata memelas. "Hei.. bisakah kamu membantuku duduk si sofa itu? Aku merasa pegal dan ingin duduk di sana."
Natha langsung menoleh ke arah sofa dan mengangguk dengan hampa. Ia mendorong kursi roda Abyan lebih dekat dan membantu memindahkan pria itu.
Natha yang sudah terbiasa dengan mudah memindahkannya. Natha yang akan berdiri tegak kembali, tiba-tiba Abyan menarik dan memeluk pinggangnya membuat gadis itu jatuh ke pelukannya dengan mudah. Abyan dengan santai mendudukkan Natha di pangkuannya.
Natha yang sangat terkejut langsung tersadar. Wajahnya langsung memerah. Postur ini hampir sering di alaminya. Walaupun begitu, ia tetap malu. Tapi ia sama sekali tidak melawan. Jika kejadian sama seperti sekarang terjadi, biasanya dia langsung menolak dan beranjak. Namun, saat ini, Natha benar-benar butuh sandaran.
Awalnya hanya duduk, Natha berinsiatif menyenderkan kepalanya di dada kokoh pria itu. Tangannya melingkari pinggangnya.
Tentu saja, perlakuanya membuat Abyan kaget, tertegun, sekaligus senang. Jantungnya berdebar lebih kencang, sehingga Natha bisa mendengarnya jelas. Abyan membalas pelukannya dengan senang hati. Dengan satu tangan melingkari pinggang, dan tangan lain mengusap kepalanya dengan lembut.
Ruangan menjadi hening. Namun sangat tenang dan damai. Keduanya merasakan hal sama. Ingin sekali menghentikan waktu dan tetap seperti ini selama mungkin. Terutama Abyan, kebahagiaan dan ketenangan membanjiri hatinya saat ini. Gadisnya, istrinya, orang yang paling berharga dan ia cintai berada di pelukannya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan dan tidak ada yang perlu di takutkan Natha akan pergi.
"Aku akan berusaha melakukan apapun untukmu. Bicaralah padaku jika kamu membutuhkan sesuatu. Jangan ada rahasia di antara kita. Aku tidak akan pernah membiarkan apa yang kamu alami di masa lalu terulang kembali. Ak--" Ucapan Abyan berhenti ketika merasakan benda manis, lembut dan kenyal menyumbat bibirnya.
Abyan menurunkan pandangannya dengan mata terbelalak, pupilnya gemetar. Ia menelan ludah. Jantungnya yang tenang kembali seperti drum, berdetak sangat keras. Kedua telinganya memerah. Percayalah, Abyan sangat gugup!
__ADS_1
Karena.. Natha menciumnya!
Hanya beberapa detik, Natha melepaskannya. Ia menatap Abyan dengan tenang dan teduh, "Terima kasih," bisiknya lembut dengan jarak yang masih beberapa centi.
Kebahagiaan melonjak di dada Abyan. Tanpa sadar melirik kembali pada bibir Natha yang berkilau merah alami tanpa lipstik apapun. Dia ingin merasakannya lagi! Itu bukanlah ciuman, tapi kecupan! Walaupun ia sering mengambil kesempatan, inisiatif Natha saat ia sadar seperti sekarang sangatlah langka.
Tanpa basa-basi, Abyan meraih tengkuknya dan menciumnya kembali.
"Hmmmp!" Sekarang mata tenang Natha langsung membulat.
Apalagi, Abyan **********. Natha ingin mendorong dadanya untuk menjauh. Namun, tengkuknya di tahan. Tangan besarnya yang lain menahan seraya mengusap punggung dan pinggangnya dengan lembut.
Pria di depannya semakin lancang! Dia mencongkel giginya dan memasukan lidahnya ke dalam. Ciuman keduanya semakin dalam dan intens. Akhirnya Natha menyerah, ia terhanyut dan mengikuti ciuman itu. Ia membuka mulutnya. Lidah keduanya langsung terjalin.
Merasakan tidak nyaman, Natha melingkarkan tangannya di leher suaminya itu, sehingga keduanya semakin merapat. Abyan tersenyum di sela-sela ciuman. Pria itu sedikit menggeram merasakan kedua benda lembut menempel di dadanya yang keras. Abyan semakin percaya diri ketika mendapatkan lampu hijau. Tapi, ia masih memiliki batas. Tangannya hanya berkeliaran di sekitar pinggang Natha. Memeluk Natha semakin erat.
"Eunghh.." Natha melenguh saat Abyan menghisap dan menggigit bibirnya lembut.
Natha tidak tahu darimana Abyan mengetahui cara berciuman tanpa kaku. Tapi, ia pernah dengan bajingan itu saat dulu. Karena terbiasa, ia juga tidak merasa kaku.
Natha menghirup udara dengan rakus, saat mengangkat kepalanya, tatapannya bertemu. Dia tahu kemana arah mata Abyan. Natha semakin malu!
"Kamu..!" kesal Natha terlihat sangat malu.
Rambutnya berantakan, air liur masih tersisa di bawah bibirnya, matanya berair, dadanya naik turun, kancing baju Natha sedikit terbuka memperlihatkan tulang selangka yang indah.
Jakunnya berguling. Tampilan istrinya sekarang sangat seksi membuat Abyan mengeras dan panas. Nafasnya sedikit berat dan cepat, suhu tubuhnya melonjak. Ia merasakan tidak nyaman di bagian perut bawahnya. Tatapan Abyan seperti binatang buas tersembunyi dengan kelembutan.
"Apa, Sayang?" bisiknya di dekat telinga. Nafas panasnya menyembur membuat Natha geli dan gatal. apalagi, magnetisnya bergitu tumpul dan serak.
Abyan mengusap air liur di dagu Natha dengan jarinya. Gerakannya sangat pelan dan lembut.
__ADS_1
Wajah Natha semerah udang rebus. Panggilan 'Sayang' dari Abyan membuat hatinya gemetar. Suhu tubuh Abyan sangat panas membuat Natha gerah. Natha sangat terpesona dengan mata coklat Abyan yang menawan tanpa tahu arti tatapannya.
Sedari tadi, Natha merasakan benda keras yang ia duduki. Karena ciuman itu, ia terhanyut dan tidak terlalu merasakannya. Namun, sekarang Natha baru menyadari sesuatu. Matanya melotot. Nalurinya berkata, Berbahaya!
Dia langsung beranjak turun dengan tergesa.
Abyan terkekeh dengan tidak tahu malu. Ia tentu tahu alasan reaksi Natha sekarang.
Karena situasinya terlalu memalukan, Natha ingin segera pergi.
"Ah, se-pertinya su-dah semakin malam. Badanku sangat gerah. Aku akan mandi." Matanya bergerak gelisah mencari alasan. Akhirnya saat menemukan alasannya, Natha langsung melangkah keluar dengan tergesa tanpa menatap Abyan sedikit pun.
Abyan mengangkat sebelah alis, istrinya saat ini sangat menggemaskan. Suasana hatinya sangat baik dan bahagia. Badannya juga memang sangat gerah. Sekarang dia masih bisa menahannya. Walaupun tidak bisa, Abyan sangat sadar dengan kondisi kakinya. Untuk sekarang, dia akan membiarkan kelinci putih itu melarikan diri. Ya, dia binatang buasnya.
Ide jahil melintas. Suaranya terdengar dingin. "Natha."
Panggilan dingin itu membuat langkah Natha berhenti. Badannya menegang. Apakah ia melakukan kesalahan?
Natha langsung berbalik badan dengan kaku.
Tidak sesuai dengan suaranya dan bukanlah wajah dingin, namun wajah Abyan terlihat tengil dan menggoda.
"... A-pa?" sahutnya dengan linglung.
"Aku ingin lagi," imbuh Abyan terdengar menggoda.
Nada suaranya sangat tidak sesuai dengan tampilan biasanya yang selalu serius.
Otak Natha kosong seketika. "Ingin apa?"
Jari telunjuk Abyan mengarah ke bibirnya, lalu berbalik ke arah bibir Abyan sendiri. "Ciuman."
__ADS_1
Natha terperangah dengan wajah memerah. dia melepaskan sepatu hak tingginya dan melemparkan ke arah Abyan.
"DASAR SUAMI MESUM!"