
"Aku akan mencobanya."
Natha merasa rumit menatapnya bergantian antara Abyan dan kruk itu. Namun, di sisi lain ia juga senang dan mulai muncul sebuah harapan.
Natha mengambil kruk itu dan kembali mendekati Abyan. Berkata ragu, "Kamu mau mencobanya sekarang?"
Abyan berkedip. Ia menatap kruk yang berjarak beberapa jengkal di depannya. Abyan mengalihkan pandangan dan sedikit menengadah menatap Natha. Ekspresinya rumit, "Jika aku tidak bisa berdiri, apakah kamu akan menyesal?"
Natha terhenyak. Lalu mengerutkan kening merasa sedikit marah, "Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Kenapa aku harus menyesal? Tentu saja tidak. Ketika kamu belum bangun, apakah kamu merasakan ketidaksabaranku? Jika tidak, kenapa kamu terlihat meragukanku?"
Merasakan emosinya, Abyan mengambil tangannya dengan lembut. Merasa menyesal mengatakan itu, "Tidak. Aku sama sekali tidak merasakan ketidaksabaranmu saat merawatku. Tentu saja aku tidak meragukanmu. Aku hanya takut kamu menyesal jika saja aku cacat selamanya. Aku tidak akan mencegahmu jika saja kamu mempunyai pilihan lain."
Emosi Natha menjadi lebih sensitif. Wajahnya yang tanpa ekspresi semakin mengerut tidak suka, "Jangan khawatirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Aku tidak akan pernah menyesal. Bahkan, jika seandainya kamu tidak bangun, aku akan tetap bersamamu. Lalu, pilihan lain apa maksudmu? Apakah kamu rela aku mencari pria lain? Lalu aku akan meninggalkanmu, menikah dengan pria itu dan membangun keluarga bersama anak--"
Ucapan Natha terpotong saat Abyan memeluk pinggangnya erat. Bisa Natha rasakan seluruh tubuhnya menegang dan giginya bergemelatuk. Wajahnya di sembunyikan di perutnya.
"Tidak! Aku tidak rela!" Suara Abyan terdengar gemetar. Namun setiap perkataan penuh penekanan dan rasa takut kehilangan.
Emosi Natha mereda. Ia telanjur kesal saat mengatakan itu. Akhirnya, dia sendiri 'kan yang tidak akan pernah merelakannya? Tentu saja, Natha juga tidak akan melakukan itu. Dia sudah berjanji di kehidupan ini untuk tetap bersama Abyan. Tidak menyangka reaksi Abyan sangat besar.
"Kamu tidak akan meninggalkanku, 'kan?" tanyanya lirih. Tangannya yang kuat melingkar erat, "Aku benar-benar tidak akan pernah rela jika kamu memilih pria lain."
"Tentu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Natha menghela nafas gusar. Ia mengusap rambutnya, "Jika kamu tidak rela, jangan katakan omong kosong itu lagi lain kali."
Abyan langsung mengangguk cepat, "Maaf."
"Ya, tidak apa-apa." Natha menunduk. Namun hanya melihat rambutnya bukan ekspresinya, "Lepaskan dulu. Bukankah kamu akan mencoba kruknya?"
Akhirnya Abyan melepaskan lengan di pinggang Natha. Namun dia tidak memiliki ekspresi apapun di wajahnya, bahkan tidak berani menatap Natha.
Abyan mengambil kruk itu. Dengan gerakan pelan, ia mencobanya. Natha di sampingnya menatapnya cemas. Tanpa sadar merasa tegang memerhatikan setiap gerakannya karena takut jatuh.
Namun, keberuntungan tidak selalu datang, Abyan terduduk kembali dengan ekspresi kesakitan. Ia tidak bisa berdiri sesuai keinginannya, ia hanya menopamg kruk dengan kedua tangan. Abyan juga sudah menghabiskan seluruh kekuatannya, tapi tetap saja gagal. Kakinya tidak memiliki reaksi lain selain kesemutan.
__ADS_1
Natha menggigit bibir merasakan khawatir. Ia menghela nafas sedih melihatnya gagal kembali untuk ketiga kalinya.
Ia menghiburnya dan tersenyum menenangkan, "Sudah. Jangan terlalu di paksakan. Itu sudah cukup bagus."
Awalnya Abyan memang tidak berharap, namun merasakan reaksi beberapa hari yang lalu, harapannya bangkit. Namun sekarang, Abyan sangat kecewa. Ia terdiam dengan pandangan kosong. Hasil ini sangat berbeda dengan yang ia harapkan. Awalnya ia berfikir bahwa ia bisa berdiri dengan sukses. Bahkan jika saja tidak bisa berjalan, setidaknya hanya berdiri beberapa detik masih kemungkinan.
Melihat sorot matanya, Natha tidak tahu harus berbuat apa. Lalu mengusulkan, "Apakah aku harus memeras air lagi untuk kamu minum?"
"Tidak perlu. Nanti saja," jawabnya dengan suara lirih. Abyan tidak mau berharap lebih banyak lagi.
Semakin banyak harapan, semakin besar kekecewaan. Tidak peduli seberapa kuat hatinya, ia tidak tahan merasakan hantaman dengan fakta kejam itu lagi dan lagi. Ia adalah pria cacat dan tidak mudah baginya untuk kembali normal.
Ekspresi Abyan terlihat semakin suram. Natha sangat tidak terbiasa melihatnya seperti ini. Apalagi sorot kecewanya. Tentunya ia merasakan apa yang Abyan rasakan.
Natha mendekat. Ia berdiri di depannya dan memeluknya seperti posisi tadi. Natha dengan lembut mengusap kepalanya, "Tidak apa-apa. Kamu pasti bisa, kamu pasti sembuh. Semuanya membutuhkan proses, jangan terburu-buru. Aku yakin, suatu hari kamu bisa berdir, bahkan bisa berjalan normal. Namun mungkin Tuhan belum mengizinkannya untuk saat ini."
Abyan menyingkirkan kruknya. Lalu ia melingkarkan tangannya di pinggang Natha. Matanya melembut. Bibirnya menekuk menjadi lengkungan samar, "Ya. Terima kasih, Dear."
Natha tersenyum dan bergumam, "Aku merasa sedang menenangkan bayi besar."
Abyan mengangkat sedikit menengadah menatapnya. Lalu mendusel-dusel hidungnya di perutnya.
Natha tertawa geli, "Aku merasa geli. Jangan melakukan itu."
Abyan tersenyum. Suasana hatinya membaik. Ia mencium perutnya di balik baju seragam Natha. Lalu berkata lembut, "Di sinilah anak-anakku akan tumbuh dan lahir."
Natha langsung memerah. Untungnya Abyan sedang tidak melihatnya. Jadi dia hanya diam. Tanpa di duga, Abyan mendongkak membuat Natha langsung menunduk dan bertemu dengan matanya.
Abyan terkekeh, "Wajahmu merah. Menggemaskan sekali. Aku ingin menciumnya."
Wajah Natha memerah sampai ke leher. Dari jarak sedekat itu, Abyan melihatnya jelas.
"Hei, aku ingin menciummu," akunya sedikit merengek.
__ADS_1
Percayalah, posisi mereka seperti ibu dan anaknya yang tengah memeluk pinggang ibunya dan merengek meminta mainan dengan kepala menengadah menatap wajah ibunya.
Natha melototinya. Ia berniat mundur. Tapi lengan yang melilitnya sangat erat. Abyan masih di posisi semula menatap wajah Natha dari bawah, "Jangan kabur. Kamu harus menuruti suamimu. Di cium atau menciumku? Baru aku melepaskanmu."
Natha mengerucutkan bibirnya. Tapi karena ia tak mau merusak kembali suasana hatinya, Natha langsung menunduk mengecup bibirnya.
Abyan terhenyak. Ia tidak terima menerima serangannya yang terlalu mudah mendadak. Ia akan membuka suara, namun mulutnya tertutup lagi dengan mata sedikit terkejut saat merasakan benda lembut dan manis di pipinya.
Abyan hanya menatap kosong lehernya dan dagunya dengan jarak sangat dekat. Wangi tubuhnya yang familier menyeruak memasuki hidungnya. Anak rambutnya menggelitik wajahnya.
Setelah benda manis dan lembut itu berada di pipi kanannya, sekarang pindah ke pipi kiri, bahkan hidung, lalu berakhir pada kening cukup lama.
Setelah selesai, Natha sedikit menjauh. Lalu menatap wajah suaminya yang masih termangu menatapnya. Kedua pipi Natha masih merah. Tapi senyuman di bibirnya menggoda, "Apakah kamu puas?"
Natha sudah mencium seluruh wajahnya. Ia yakin Abyan akan puas, karena Natha tidak pernah melakukannya.
Melihatnya masih ternganga, Natha menyodok pipinya, "Lepaskan. Aku sudah melakukannya."
Abyan tersadar. Lalu menunjuk dagunya dengan mata polos, "Ini belum."
Natha memutar bola matanya. Ia melakukannya lagi, namun Abyan dengan sengaja merubah posisinya. Kecupannya mendarat disudut bibir pria itu.
"Sudah, ya? Sekarang lepaskan. Aku mau mandi."
"Jangan. Aku masih ingin sesuatu." Nada bicaranya terdengar serius.
Natha menatapnya bingung. Sedangkan Abyan menatapnya lembut penuh kasih sayang. Keempat mata itu bersitatap dalam jarak beberapa senti.
Natha tersipu dengan tatapannya, "Ingin apa?"
Natha semakin tersipu dengan ucapan Abyan berikutnya.
"Aku ingin mempunyai banyak anak bersamamu."
__ADS_1