Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 58


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu sejak percobaan pertama Abyan menggunakan kruk. Natha tidak pernah melihatnya atau tidak pernah di minta bantuannya untuk mencobanya lagi. Begitupun Natha sendiri yang tidak bertanya. Ia masih ingat sorot kecewanya hari itu.


Saat ini, Natha tengah makan malam dengan semua keluarga Grissham.


Natha membuat sup panas untuk Abyan. Awalnya seorang pelayan untuk membantu membawanya, tapi Natha menolak dengan halus.


Dengan langkah pelan, ia melangkah dengan hati-hati. Sampai di ruang makan, Natha hampir terjatuh tersandung kaki kursi. Matanya terbelalak kaget.


Alice menjerit melihat itu. Dalam beberapa detik terakhir, semua orang yang menyaksikan sangat tegang. Natha hanya menutup mata membayangkan rasa panas dan rasa sakit.


Namun, sebuah lengan melingkari dan menarik pinggangnya. Natha terdekap di pelukan hangat. Jantung Natha berdegup kencang.


Saat mata Natha terbuka, pupilnya langsung melebar. Ritme jantungnya semakin cepat. Semua orang yang menyaksikan tercengang. Sendok di tangan mereka terjatuh sehingga menimbulkan suara dentingan.


"Kamu.." Suara Natha gemetar.


Natha tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan rasakan sekarang. Ia bagaikan tengah bermimpi, karena Abyan berdiri memeluknya. Walaupun Natha bisa merasakan kakinya yang gemetar, pelukannya sangat erat dan kuat.


"Ya. Aku bisa." Abyan tersenyum dan mengecup pelipisnya, "Seminggu ini aku terus menerus mencoba kruk itu tanpa sepengetahuanmu. Namun, aku juga tidak pernah berharap hari ini datang. Bahkan durasi aku berdiri sangat lama."


Mata Natha memerah. Ia membalas pelukannya dan langsung menangis. Begitupula Alice, ia sungguh kaget namun bahagia. Albert dan Briyan tidak kalah bersyukur.


Sejak saat itu, dan setelah Abyan bisa berdiri, dia memulai rekonstruksi yang sulit dan profesional. Natha menjadi kurang mementingkan sekolahnya. Karena setiap pagi, Natha akan menemani Abyan ke rumah sakit.


Tapi karena Natha tidak ingin mendapati masalah, terkadang setiap waktu pulangnya Natha akan menemani Abyan di rumah sakit sampai pengobatan selesai. Atau selain Natha, terkadang Briyan yang akan menemani kakaknya, karena Natha membuat pengaturan bahwa harus ada orang di sisi Abyan untuk masa pengobatan.


Awalnya Abyan tidak setuju, karena dia tidak serapuh itu sampai harus di temani, tapi dengan ketegasan Natha akhirnya mengalah.


Briyan sendiri tentu setuju dengan usulan kakak iparnya. Apalagi tanggung jawab kesehatan Abyan sudah keluarga Grissham serahkan kepada Natha.


***


Tidak terasa ujian akhir pertengahan Natha terselesaikan. Hanya beberapa bulan lagi Natha untuk menyelesaikan sekolahnya.

__ADS_1


Pada pertengahan tahun, banyak keluarga di kalangan atas mengadakan perjamuan di rumah mereka. Termasuk keluarga Lumian.


Untuk perjamuan ini, Sonia dan Andre bersusah payah, orang yang pertama mereka undang adalah keluarga Grissham. Tentu saja, untuk mengundang mereka harus melalui Natha terlebih dahulu melakukan terobosan.


Sonia langsung menelepon Natha yang di angkat sepuluh detik kemudian.


"Hallo?" Setelah mendengar deheman, Sonia mulai berbicara, "Natha, keluarga kami akan mengadakan perjamuan. Bibi ingin mengundangmu dan semua keluarga Grissham."


"Tidak," tolak Natha tanpa berfikir.


Sonia tidak menyangka akan langsung di tolak. Walaupun merasa marah, suaranya terdengar lembut, "Natha? Bagaimana kamu langsung menolak kami? Sebenci itukah kamu kepada kami?"


"Tidak," tampiknya datar. Karena Natha mendengar Lexandra sudah pulih, ia tidak mau memberikan kesempatan lagi kepada mereka untuk menghitungnya.


"Lalu kenapa kamu menolaknya? Rumah ini merupakan tempat kamu di besarkan. Kakekmu akan sedih. Apakah kamu tidak ingin pulang sama sekali?"


"Jika aku merindukan kakek, aku akan mengunjunginya tanpa pulang kekediaman Lumian."


"Ya, tentu saja." Natha tersenyum. Namun tidak sampai ke matanya, "Sepertinya bibi tidak pernah ingat untuk melihat batu nisan kakek."


Sonia tergagap, "Ba-bagaimana bisa begitu? Bibi selalu memikirkan kakekmu. Bahkan bibi berencana untuk mengunjunginya beberapa hari ke depan. Kapan kamu akan pergi? Ayo pergi bersama, agar kakekmu bahagia melihat keharmonisan kita."


"Baik." Natha tidak menolaknya. Ia langsung memberitahu waktu yang di tentukan dan menutup telepon.


Di sisi lain, wajah Sonia langsung murung. Benar saja, Natha sudah berada di luar jangkauannya.  Pada awalnya, gadis itu berada di telapak tangannya, bahkan kehidupannya. Namun, hanya beberapa bulan, temperamennya benar-benar berubah dan selalu mempunyai pendapat sendiri.


Sonia menggeram kesal. Ia menyingkirkan ponselnya dan beranjak untuk memberitahu suaminya tentang ini.


***


Saat Natha akan mengunjungi kakeknya, cuaca sedang tidak bagus. Sejak pagi hari, langit tengah gerimis.


Di sisi lain, awalnya Sonia tidak akan pergi karena cuacanya yang kurang bagus. Namun berfikir Abyan akan datang bersama Natha, ia dengan berat hati pergi bersama putrinya. Ia masih mempunyai kesempatan untuk mengundang.

__ADS_1


Sepanjang jalan Nhita menggerutu karena sepatu hak tingginya kotor sebab lumpur dan air yang menggenang. Ia hanya ingin menaiki kembali mobilnya dan pulang.


"Bisa diam tidak? Sepatumu tidak penting. Sekarang Abyan lebih penting!" Sonia menegur dengan jengkel mendengar gerutuannya.


Akhirnya Nhita tenang dan terdiam ketika mendengar itu.


Namun yang mengecewakan mereka, yaitu saat bertemu Natha tidak ada Abyan sama sekali di sekitarnya.


Melihat itu, Nhita berteriak tajam, "Natha! Di mana Abyan?!"


Natha mengerutkan kening. Dia bereaksi dingin, "Tentu saja di rumah."


Wajah ibu dan anak itu berubah. Nhita semakin kesal dan marah, "Apa?! Bagaimana dia di rumah? Bukankah kalian tidak bisa terpisahkan sepanjang waktu? Bahkan dia mengantar-jemputmu ke sekolah! Kenapa Abyan tidak datang mengunjungi kakek pada hari yang begitu penting?!"


Abyan tidak datang karena tentu saja di sudah datang. Baru kemarin, Natha bersama-sama mengunjungi makam kakeknya. Di bandingkan cuaca buruk hari ini, kemarin sangat cerah.


Awalnya pagi ini Abyan berniat ikut dan menemani Natha, namun karena cuacanya tidak begitu bagus, rehabilitas Abyan berada tahap kritis dan tidak cocok untuk keluar. Oleh karena itu, Natha memerintahkannya untuk diam di rumah dan beristirahat dengan baik.


Natha mengabaikan teriakan Nhita. Ia malah mengingat bagaimana pria itu cemberut saat ia pergi. Matanya berkedip sedih seakan seorang anak yang melihat ibunya pergi ke pasar tanpa mengajaknya. Natha terkekeh pelan.


Nhita semakin marah. Ia malah menganggap Natha terkekeh karena mengejeknya. Tapi ia tidak ingin berbicara lagi karena tidak akan mendapat tanggapan Natha. Nhita menoleh dan berjalan ke arah sama yang dia tuju. Jelas berdiri di pintu masuk pemakaman, Nhita tidak berniat untuk berkunjung ke dalam.


Melihat punggung Nhita yang menjauh pergi, ekspresi Natha tidak berubah, namun cahaya dingin melintas di matanya.


Sonia juga ingin pergi, namun ia lebih dewasa di bandingkan dengan putrinya. Mencoba menekan kemarahan dan kejengkelan, Sonia tersenyum, "Natha? Ayo kita ke dalam.."


Natha mengangguk santai, tapi ia dengan jelas melihat keengganan Sonia. Natha melangkah mendekati batu nisan kakeknya.


Berdiri di dekat batu nisan itu, Natha hanya diam dalam waktu yang lama dengan mata menuju pemakaman.


Tepat ketika Sonia akan berbicara karena kehabisan kesabaran, Natha akhirnya berbicara, "Kakek. Aku dan bibi mengunjungimu. Awalnya Nhita datang, namun di pintu masuk pemakaman, dia sepertinya berubah pikiran dan kembali pergi."


Wajah Sonia tenggelam. Ia menarik lengan Natha, "Natha apa yang kamu bicarakan? Nhita sepertinya mengingat sesuatu yang penting. Itu sebabnya dia pergi."

__ADS_1


__ADS_2