
Natha keluar dari cafe dengan perasaan buruk. Saat melihat mobil familier, ia langsung melangkah ke sana. Ia memasuki mobil itu dan duduk di kursi belakang yang sudah terdapat Abyan.
Tentu saja, wajah Abyan sama-sama tidak sedap di pandang.
"Dia mengganggumu?" tanyanya datar tanpa menoleh.
Natha meliriknya seraya tersenyum. Suasana hatinya langsung membaik melihat ekspresinya yang memakan cuka, "Tidak. Dia hanya mengatakan beberapa kata."
"Aku ingin sekali turun untuk menghajarnya sendiri dan memperingatinya agar tidak mengganggumu. Hanya saja terlalu banyak tangga. Sangat merepotkan." Nada suaranya terdengar geram dan tertekan.
Mobil mulai melaju dengan santai.
Senyum Natha semakin mengembang, "Tidak perlu. Dia tidak akan berani menggangguku lagi lain kali."
Abyan menoleh. Melihat senyum Natha, wajah Abyan semakin suram, "Apakah kamu bahagia setelah bertemu dengannya?"
Natha malah terkekeh, "Tentu saja.."
Mata Abyan mendingin.
Tiba-tiba Natha mencondongkan tubuhnya mendekat dan mengecup pipinya, "Tentu saja tidak. Entah kenapa aku merasa bahagia karena melihat wajahmu yang kesal."
Abyan melunak mendapat kecupan lembut dan jawaban yang memuaskan. Namun wajahnya masih cemberut, "Kenapa kamu senang jika aku kesal?! Kamu seharusnya menghilangkan kekesalanku!"
"Aku senang jika kau kesal karena cemburu." Natha memiringkan kepalanya melihat wajahnya lebih dekat dengan tubuh menghadap Abyan, "Apa yang harus aku lakukan agar kekesalanmu hilang?"
Abyan memalingkan wajahnya ke arah Natha dan menunjuk pipinya.
Natha tersenyum geli.
Cup
"Apakah kekesalanmu sudah hilang?"
Abyan mengetuk dua kali bibirnya sendiri menagih kecupan lain.
Natha melotot. Lalu mengkode dengan matanya melihat ke sopir seakan berkata 'Jangan sekarang! Ada orang lain!'
Abyan berdecak. Lalu berkata datar kepada sopirnya, "Turunkan kaca spion ke bawah. Dan jangan pernah melihat ke belakang."
Sang sopir langsung mengangguk kaku tanpa menoleh, "Ba-ik, Tuan."
Natha tercengang.
"Sudah, kan?" Abyan berkata puas. Melihat Natha masih menganga menatapnya, Abyan merajuk, "Aku masih kesal!"
Natha geleng-geleng kepala. Setelahnya, dengan patuh ia mengecup bibirnya.
Cup
"Sudah?"
"Tidak terasa."
Cup
__ADS_1
"Bagaimana?"
"Lagi."
Natha berdecak jengkel. Dia tidak mengecupnya saat kali ketiga. Tapi mengigit bibir bawahnya dengan kesal. Berbisik, "Jangan serakah!"
Abyan menggeram dan dengan gerakan cepat langsung memeluk pinggangnya membuat tubuh keduanya menempel. Ia berbisik kembali, "Kamu semakin nakal, Dear."
Natha yang awalnya tersentak langsung tersenyum ceroboh seraya melingkari lehernya, "Oh, ya?"
Abyan menghirup aroma Natha dan menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya, "Ya. Aku akan menghukummu nanti."
Natha tergelitik dengan nafasnya yang berembus di lehernya. Ia bertanya main-main, "Hmm.. bagaimana kamu menghukumku?"
"Aku tidak akan membuatmu tidur malam ini."
Natha menegang dengan ekspresi terkejut. Lalu ia tersenyum kembali walaupun pipinya agak memerah, "Aku akan tidur di kamar sebelah."
Abyan lebih menegang. Ia mengencangkan genggaman di pingganganya. Lalu menggigit lehernya pelan.
Natha meringis. Tanpa sadar melihat sopir, namun merasa lega karena tidak terganggu sama sekali. Natha mencubit perutnya dengan dongkol, namun sangat keras.
Abyan mengambil tangan nakal yang mencubitnya. Menggenggamnya erat seraya mengancam, "Jangan membuat masalah. Kamu tidak akan pernah aku izinkan untuk berpisah tempat tidur satu malam pun! Apakah kamu mengerti?!"
Nada Abyan penuh penekanan dan tersirat kemarahan. Natha merasa bersalah. Ia menelusupkan jari-jarinya dan mengusap rambutnya. "Ya, aku mengerti. Maaf, aku hanya bercanda."
Abyan berangsur-angsur rileks. Suaranya lebih rendah, "Jangan mengatakan itu lagi."
"Maaf."
"Apakah kamu melihat wajah pria itu?" Tiba-tiba Abyan bertanya.
Natha memutar bola matanya, "Tentu saja. Jika berbicara dengan seseorang, maka harus melihat wajahnya. Sangat tidak nyaman dan tidak sopan jika menunduk atau melihat ke arah lain."
Abyan melepaskan pelukannya. Dia mengangkat kepalanya dan duduk tegak. Wajahnya terlihat kesal kembali, "Apakah kamu harus sopan kepadanya?"
Natha mengerjap. Terlihat bingung, "Tidak.. tapi sangat tidak nyaman--"
Abyan memeluknya seperti posisi sebelumnya. Namun lebih erat dan posesif. Dengan suara teredam ia memerintahkan, "Tidak boleh. Kamu tidak aku izinkan untuk melihat wajah orang itu. Ah, bahkan kamu tidak boleh menemuinya lagi. Kamu mengerti?"
Natha menghela nafas jengah, lalu memutar bola mata dengan malas, "Ya, ya."
"Aku serius."
"Aku juga serius dan mengerti."
"Persetujuanmu tidak serius."
"Hei, kamu kekanak-kanakan. Kamu harus ingat umurmu."
"Apa masalahmu? Aku tidak peduli."
"Tentu saja masalahku. Kamu bersikap seperti itu hanya kepadaku."
"Tapi itu karena kamu sendiri yang menimbulkan masalahnya."
__ADS_1
"Hah? Kenapa kamu menyalahkanku?"
"Karena kamu bertemu dan menatap wajah pria itu!"
"Itu bukan salahku. Dia datang sendiri. Dan aku tidak sengaja menatapnya. Aku tidak menyukainya ataupun wajahnya."
"Lalu, apa yang kamu suka?"
"Aku menyukai suamiku. Dia lebih tampan dari orang itu."
Abyan mengulum senyum di ceruk leher Natha, "Oh, yah? Siapa suamimu?"
"Aku tidak akan memberitahumu. Aku takut dia cemburu dengan dirinya sendiri."
"Tidak mungkin. Katakan, siapa suamimu?"
"Tidak."
"Hei, katakan sekarang," Abyan menggelitik pinggangnya.
Natha bertahan dengan kegelian. "Tidak!"
Abyan semakin gencar. Jari-jarinya menggelitik perutnya, "Siapa nama suamimu? Katakan sekarang!"
Natha tertawa geli. Ia mencoba menyingkirkan tangan besar itu, "Hentikan!"
"Katakan."
"Hahaha.. oke, oke! Hentikan sekarang!" pasrahnya.
Natha menghela nafas lega ketika Abyan melepaskannya. Pelukannya sudah terlepas ketika Abyan menggelitiknya.
Natha tersenyum lembut. Ia mempersempit jarak menatap kedua matanya yang mempesona. Setelah mengecup singkat pipi kanannya, ia berbisik pelan.
"Dia Abyan Abimana Grissham. Yaitu orang yang paling berharga bagiku. Dia orang yang sudah memasuki hatiku tanpa sadar. Dia orang yang telah memilikiku sepenuhnya, jiwaku maupun ragaku. Dia adalah suamiku di kehidupan kedua. Lalu aku, Vernatha Aira Lexandra sebagai istrinya, yang akan menjaga dan mencintainya seumur hidup."
***
Natha dan Abyan kembali ke rumah mereka yang di sambut antusias oleh Alice, karena sangat jarang Alice berada di rumah. Dia selalu sibuk karena pekerjaan, sosialita, atau terkadang pulang ke kediaman Allaric.
Apalagi, setelah mendengar tentang sensasi di kaki putranya, Alice ingin langsung menemui putra dan menantunya. Selain kegembiraan, Alice sangat terkejut dengan kabar yang baik itu. Ia memuji Natha dengan tulus. Alice mengatakan, Natha merupakan keberuntungan bagi Abyan yang telah di takdirkan oleh Tuhan.
Natha merasa tersanjung mendengar itu. Tanpa sadar menatap Abyan.
Abyan tersenyum lembut seraya menarik tangan Natha dan menggenggamnya erat. Lalu menoleh pada Ibunya, "Mah, apa yang aku inginkan sebelumnya, apakah sudah ada?"
Alice mengangguk semangat, "Tentu saja! Mamah sudah menyimpannya di kamarmu."
"Kalau begitu, aku dan Natha akan ke atas melihatnya." Abyan melepaskan tangan Natha dan membiarkannya mendorong kursi rodanya.
Alice merasa sedikit jengkel di tinggalkan. Ia masih rindu dengan menantunya! Tapi setelah punggung mereka menjauh, sudut mulutnya menekuk lembut. Hubungan mereka semakin baik!
Natha tidak tahu apa yang Abyan minta dari mamah mertuanya. Saat tiba di kamar, ia melihat sebuah kruk. Natha sedikit terkejut. Lalu menatap Abyan bertanya-tanya.
Abyan mengerti ekspresinya. Namun Ia hanya terdiam menatap kruk dengan pandangan serius. Tidak tahu apa yang di pikirkan. Setelah sekian lama, Ia tersenyum ringan, "Aku akan mencobanya."
__ADS_1