Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 100


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Natha terbangun karena suara aneh. Saat membuka mata, ia menoleh ke samping dan tidak mendapati Abyan.


Hueekk


Suara aneh itu datang dari kamar mandi. Natha mengernyit. Lalu ia berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi yang tertutup.


Natha mengetuknya dan memanggilnya ragu. "Sayang?"


Agak geli emang untuk Natha. Namun itu keinginan Abyan yang bersikeras untuk memanggilnya sayang. Dia benar-benar di hukum saat itu karena memanggil namanya, namun hukumannya bukanlah permintaan biasanya, namun hukumannya Natha tidak boleh bekerja dan harus di rumah sepanjang hari. Selama itu, Abyan membuat permintaan yang sangat aneh bagi Natha.


Natha harus memasak nasi goreng dengan rasa yang sama dengan nasi goreng yang gagal dan asin sebelumnya. Natha mematuhinya. Yang membuat Natha tercengang, Abyan menghabiskan nasi goreng itu semuanya.


Lalu permintaan aneh lainnya, Natha harus menemani Abyan menonton film kartun untuk anak kecil dengan waktu yang sudah Abyan tentukan. Lalu, Abyan yang sangat tidak menyukai pedas, Natha menyaksikannya memakan makanan yang di pesan online dengan pedas level tinggi. Sehingga keesokan harinya Abyan sakit perut. Bahkan malam tadi, Abyan bangun beberapa kali untuk ke kamar mandi.


Itu adalah momen teraneh dan terlucu bagi Natha. Ia bertanya-tanya, ada apa dengan suaminya itu?


Saat itu, Natha tidak mendapat jawaban dari kamar mandi.


Huekk.. huekk..


Natha menjadi khawatir. Ia mengetuk pintu lagi. "Sayang? Kamu kenapa?"


Beberapa detik kemudian, pintu terbuka menampilkan seorang pria yang berwajah pucat.


Natha terkejut. Dia langsung memegang lengannya saat Abyan akan limbung. "Kamu kenapa?! Kamu sakit?!"


Abyan memeluk Natha dan bersandar di bahunya. Dengan suara serak, Abyan merengek. "Aku mual.. perutku sakit.."


Natha menepuk punggungnya lembut. Lalu ia memegang dahinya, tapi tidak hangat, malah dingin. Natha lebih khawatir. "Kalau begitu kamu istirahat, oke?"


Abyan mengangguk patuh. Natha membopongnya ke tempat tidur. Namun tiba-tiba Abyan berbalik kembali ke kamar mandi.


Natha mengikutinya di belakang dengan ekspresi cemas.


Huekk..


Natha menepuk tengkuknya lembut. Ia mengomel. "Sepertinya ini di sebabkan makanan pedas kemarin? Kamu kenapa memakannya begitu banyak?! Perutmu mual, kan?!"


Tidak ada yang keluar dari mulut Abyan. Pria itu terus-menerus mencoba mengeluarkan sesuatu yang membuatnya mual, tapi tetap saja tidak ada yang keluar. Hanya cairan seperti air liur.

__ADS_1


Abyan menyalakan air dan berkumur. Setelah memuntahkannya, Abyan terengah-engah dan bersandar.


Natha melihatnya Abyan yang begitu pucat untuk pertama kalinya. Ia merapikan rambutnya yang berantakan dan berkata lembut. "Kita pergi dokter, oke?"


Abyan menoleh dan menatapnya. Dengan mulut di tekuk ke bawah dan mata berkaca-kaca dia menggeleng. Abyan memeluk Natha dan membenamkan wajahnya di ceruk lehernya. Ia merengek pelan. "Aku tidak mau.. aku hanya ingin bersamamu.."


Natha menepuk rambutnya seperti menenangkan anak kecil. "Oke. Kalau begitu sekarang kamu istirahat."


Abyan mengangguk. Ia melepaskan pelukannya dan keduanya berjalan keluar toilet.


Abyan mengikutinya di belakang Natha. Saat sampai di depan ranjang, Natha menoleh ke belakang dan menunjuk ke kasur. "Ayo. Kamu beristirahat dulu."


Abyan menggeleng dengan cemberut. "Kamu dulu."


Natha dengan patuh duduk di ranjang setengah terbaring dengan punggung bersandar. Lalu ia menepuk sampingnya dengan kepala mendongak ke Abyan. "Sini."


Bukannya berbaring di sampingnya, Abyan malah menelungkup dan membaringkan dirinya di atas Natha. Kepalanya bersandar di bagian perut Natha dengan kedua tangan memeluk pinggangnya.


Natha yang awalnya terkejut langsung rileks. Ia mengusap rambutnya sesekali menepuknya lembut dengan bersenandung.


Abyan langsung tertidur lelap dengan nyaman. Natha melihat ekspresinya yang berkerut.


***


Natha merasakan curiga beberapa hari ini. Pertama dengan Abyan yang mual-mual, kedua dengan emosinya yang selalu berubah-ubah, lalu tamunya yang belum datang-datang sebulan lebih. Natha baru menyadarinya.


Ia bukanlah gadis awam lagi, tapi wanita dewasa. Jadi walaupun belum pernah merasakan, Natha tahu gejala ini.


Setelah mencari tahu di internet, hasilnya membuat jantungnya berpacu cepat.


Dia curiga dirinya hamil.


Dengan apa yang ia cari, gejalanya sama dengan yang ia rasakan baru-baru itu. Namun yang mengalaminya Abyan, bukan dia. Natha hanya merasakan emosinya tidak stabil.


Natha mencoba menahan kebahagiaan di hatinya terlebih dahulu. Tanpa sepengetahuan Abyan, Natha membeli tes pack di sebuah apotek pada waktu istirahat kerja.


Jika ini benar, Natha akan memberikan kejutan untuk suaminya itu. Mual-mual Abyan rasakan setiap pagi hari. Walaupun Abyan selalu pucat, dia selalu bersikeras untuk berangkat bekerja. Natha tidak bisa mencegahnya, jadi membiarkan.


Suatu pagi setelah Abyan pergi bekerja, Natha mencoba tes pack itu di rumah.

__ADS_1


Lalu setelah selesai, Natha bersandar di dinding luar kamar mandi dengan hasil tes pack yang ia tutupi.


Jantung Natha berpacu cepat. Ia memegang dadanya untuk menenangkan degupannya. Lalu dengan perlahan, ia menyingkirkan tangannya yang menutupi benda itu.


Mata Natha melebar dengan gemetar. Hatinya terkejut dengan kebahagiaan. Matanya berkaca-kaca.


Hasilnya.. dua garis.


***


Natha mengerjakan dokumen-dokumen yang menumpuk di depannya dengan suasana hati yang baik.


Natha sangat gatal ingin menelepon Abyan dan memberitahu, tapi ia menahannya. Ia harus memberitahu saat bertemu dan memberinya kejutan.


Beberapa saat lalu, Abyan menelepon bahwa ia sedang mengadakan rapat di perusahaan lain. Jaraknya lumayan jauh namun tidak sampai ke luar kota. Pria itu sendirian dan tidak dengan sekretarisnya, karena di perusahaannya sendiri pun ada rapat yang sama-sama penting dan Melvin mewakili Abyan.


Natha hanya setuju saja dan tidak mungkin melarangnya. Apalagi itu terdengar penting.


Abyan mengatakan akan menjemputnya pulang setelah rapat yang kemungkinan selesai sore.


Natha berniat memberitahunya nanti malam.


Sedang tengah asik mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba ponsel di sampingnya berdering. Natha mengambilnya dan melihat nama suaminya.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Natha baru sadar ini waktunya Abyan menjemput.


Dengan semangat Natha mengangkat teleponnya. "Hallo, Say--"


"Maaf, apakah ini kerabat pemilik ponsel ini?"


Suara wanita asing dengan nada panik di seberang membuat Natha mengernyit. Tiba-tiba jantungnya berpacu cepat tak karuan. Ia langsung merasakan firasat buruk.


Natha mencoba tenang dan menjawab. "Ya. Saya istrinya. Siapa ini?"


"Ah! kebetulan sekali! Saya ingin memberitahu Anda bahwa suami Anda mengalami kecelakaan. Saya menemukan ponsel ini di lokasi untuk menghubungi keluarga korban. Saat ini, korban mengalami luka parah dan di larikan ke rumah sakit."


Deg!


"... Ap-apa?" Jantung Natha menegang. Tangan yang memegang ponsel gemetar sehingga benda pipih itu hampir terjatuh. Natha langsung menggenggamnya erat.

__ADS_1


Dengan suara gemetar, Natha tertawa getir. "Ti-dak.. tidak mungkin.."


__ADS_2