
Abyan melihat Natha yang berjarak beberapa meter darinya. Ia sedikit terkejut gadis itu sudah berada di sana, ia berpura-pura kesal, "Kamu ini!"
Abyan bisa melihat dia tertawa pelan. Istrinya itu sangat terlihat dewasa dengan pakaian kantornya. Setelan formal berwarna abu-abu, rok selutut sedikit ketat. Sebenarnya ia tidak rela sejak lama melihat Natha berpakaian yang terlihat seksi menurutnya.
Ia sangat kesal bila membayangkan banyak lelaki yang melihat lekuk tubuh istrinya itu. Tapi ia masih bisa mengizinkan karena takut Natha merasa terkekang. Dengan enggan ia merelakan.
Abyan melihat senyumannya yang cantik. Namun tidak lama senyuman indah itu langsung luntur di gantikan ekspresi tegang saat matanya melihat ke suatu arah. Ponselnya terjatuh. Abyan merasa bingung. Tiba-tiba Natha berlari ke arahnya dengan wajah panik.
Abyan merasakan firasat buruk. Namun ia mencoba tenang, "Dear? Ada apa?"
Abyan tidak mendapat jawaban, ia linglung, sebelum ia melihat ke belakang, Natha sudah merentangkan tangan seakan memeluknya.
Tsk!
"Ah!"
Suara tajam tidak mengenakan dan suara jeritan kesakitan Natha terdengar sangat jelas memasuki gendang telinganya. Sebenarnya Abyan mendengar gerakan di belakang saat melihat wajah tegang Natha, tapi ia terlalu fokus pada gadis itu.
Abyan merasakan seluruh tubuhnya kaku matanya terbelalak terkejut, jantungnya menegang beserta detakkan yang berpacu cepat, otaknya kosong. Saat mendengar teriakan kesakitan Natha, Abyan seakan telah mendengar suara yang paling mengerikan untuknya yang mengguncang hatinya.
Tentu, ia sudah menduga apa yang terjadi. Abyan tidak berani bergerak. Ia memeluk pinggangnya erat.
Sebelum ia berbalik, Natha memeluk lehernya dengan satu tangan. Terdengar suara rintihan yang tertahan.
Di belakang, pelaku yang masih memegang gagang pisau dengan bagian tajam masih tergenggam oleh tangan Natha, merasa gemetar di sekujur tubuhnya. Matanya sudah molot dengan tidak percaya. Orang itu tidak lain adalah Sonia.
Ia sudah mengerahkan segala kekuatannya. Selama sebulan, ia memantau gerakan Abyan, waktu pulang, dan berbagai kegiatan pria itu dengan segala cara. Malam ini merupakan waktu yang tepat dengan kesiapan dan keberanian yang matang.
__ADS_1
Ia berniat menunggu di luar perusahaan Grissham untuk menanti Abyan dan menjalankan aksinya. Ia merasa beruntung karena melihat Abyan yang keluar gedung sendirian. Malah memudahkannya dan mempersingkat waktu. Ia sudah akan beraksi sebelum melihat Natha yang berjarak jauh dengannya dan beberapa meter dari Abyan.
Sonia langsung tersenyum ngeri. Ia sudah berniat menikam Abyan di depan Natha. Namun, tak pernah terbayangkan Natha akan menahan pisau itu di genggamannya. Tangannya menahan pisau itu sehingga langsung tertusuk dan tersayat menyebabkan darah mengalir dan menetes ke atas aspal.
Posisi Sonia yang masih memegang gagang pisau dan Natha yang di peluk dengan tangan menahan pisau berdurasi setengah menit. Setelah melihat ekspresi kesakitan Natha, ekspresinya langsung berubah menjadi pucat namun matanya sangat dingin.
Sonia langsung melepas pegangan pisaunya dan terduduk di tanah dengan ekspresi ketakutan. Bukan, bukan karena eskpresi Natha. Tapi karena wajah Natha yang pucat menjadi wajah Sania yang menatap Sonia dingin dan menyeramkan.
Sonia menggeleng panik. Meraung gila, "Tidak! Tidak mungkin!"
Natha tidak memperdulikan raungannya meskipun heran. Ia mendesah lega karena ia bisa mencegah orang gila itu menikam suaminya. Natha bersandar di bahunya dengan wajah seputih kertas karena kesakitan.
Abyan langsung berbalik saat mendengar teriakan Sonia. Pupil matanyanya menyusut dengan gemetar melihat darah yang berceceran di bawah. Hatinya seakan tertusuk ribuan pisau saat menduga sesuatu.
"Na-tha.." Dengan suara gemetar Abyan memanggil orang di pelukannya.
Abyan melepas pelukannya. Matanya memerah melihat pisau ternoda darah masih di kepalan Natha.
Dengan satu tangan menahan pinggang Natha, tangan lain mencoba melepas pisau dari tangan merah itu. Abyan melihat matanya tertutup. Namun ekspresinya tenang walaupun sedikit pucat. Abyan baru merasakan hal yang paling menakutkan seumur hidupnya. Ia berkata dengan lembut, "Lepas, Sayang.."
Dengan tangan gemetar, ia mencoba membuka genggamannya. Tangan Natha terbuka membuat pisau itu langsung jatuh dengan suara nyaring di keheningan malam itu. Tangan Natha terlihat terluka dalam karena saat menahan pisau itu kekuatan Sonia sangat besar. Darah tak henti-hentinya mengalir dan bercucuran.
Sonia berteriak-teriak seperti orang gila. Dari awal tempat itu memang sepi, hanya sedikit kendaraan dan orang yang lewat. Tapi karena teriakan Sonia, orang-orang berdatangan. Bahkan karyawan dan bawahan Abyan keluar untuk melihat apa yang terjadi.Tentu saja mereka shock dan langsung menduga apa yang terjadi.
Salah satu dari mereka menelepon polisi.
Abyan merasakan jantungnya di remas melihat tangan istrinya yang terluka. Ia melepas dasinya dan dengan lembut menggulung tangan Natha mencoba untuk menghentikan darah yang mengalir, tapi ia sangat takut semakin menyakitinya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Abyan langsung menggendongnya. Sebelum berjalan, Abyan melirik Sonia dengan mata sedingin es. Lalu teralihkan pada salah satu pengawalnya yang baru saja datang. Abyan langsung berkata, "Tahan dan bawa dia ke kantor polisi. Ambil kamera pengawasan sebagai bukti."
Mereka langsung mengangguk.
Sebenarnya Abyan bisa saja menyiksanya lebih dari tersiksanya karena terdekam di penjara, tapi Abyan hanya memikirkan Natha untuk saat ini. Ia tak peduli dengan Sonia asal wanita itu mempunyai kehidupan yang buruk mulai sekarang.
Dengan langkah tergesa, Abyan berjalan menuju mobil Natha sebelumnya. Ia masuk dengan Natha di pangkuannya. Tanpa menatap sopir, Abyan berkata cepat, "Rumah sakit."
Sopir yang masih kaget dengan kondisi nyonyanya langsung tersadar saat mendengar perintah tuannya dan mengangguk tergesa.
Mobil itu langsung melaju sedikit cepat.
"Aku tidak apa-apa," bisik Natha pelan saat melihat wajah Abyan begitu panik dan khawatir.
Abyan langsung menunduk menatapnya. Punggungnya terasa basah karena keringat dingin. Tangan yang memegang Natha begitu gemetar. Abyan mencoba menenangkan hatinya.
Ia mencium kepalanya dan mendekatkan kepala Natha ke dadanya untuk bersandar, "Kamu akan baik-baik saja, Sayang. Tolong tahan."
"Tidak perlu ke rumah sak--"
"Kamu terluka! Bagaimana aku diam saja tanpa membawamu ke rumah sakit! Bagaimana bisa sembuh?!" potongnya dengan marah, namun nadanya tidak membentak, malah terdengar lembut.
Wajah Abyan terlihat begitu tertekan. Matanya memerah, bibir tipisnya bergetar. Natha bisa merasakan tubuhnya begitu tegang dan jantung pria itu berpacu cepat.
Melihat Natha akan membuka mulut lagi berbicara, Abyan langsung bersuara lagi dengan serak seakan menangis, "Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika kamu berkorban lagi, Natha! Aku lebih baik tertikam puluhan tusukan daripada melihatmu terluka untuk menahan pisau itu! Kenapa aku tidak menolakmu untuk ke sana sebelumnya?! Seharusnya aku yang terluka sekarang! Aku lebih baik tertidur kembali jika kejadian ini akan terjadi! Aku, aku.."
Semakin keluar amarah dan kecemasannya, semakin pelan suaranya. Pria itu menangis. Natha baru pertama kali melihatnya seperti ini. Hatinya lebih sakit dari pada tangannya.
__ADS_1
"Hei.. aku baik-baik saja.." Natha memeluk kepalanya dengan tangan yang tidak terluka ke bahunya. Ia berbisik menghiburnya, "Sst. Jangan bicara lagi. Ini bukanlah salahmu. Jika saja Sonia bukanlah bibiku sekaligus musuhku, kamu tidak akan terlibat akan hal ini yang membuatmu terancam dan terkorbankan. Aku tidak pernah menyesalinya. Aku akan lebih sakit jika kamu terluka. Aku juga tidak lebih baik dari mati jika melihatmu tertidur seperti saat pertama kali kita bertemu. Jadi lupakan. Jangan khawatir, aku benar-benar baik-baik saja."