Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 104


__ADS_3

Pada malam hari, bulan bersinar di temani banyak bintang di sampingnya. Cahayanya menembus sebuah jendela kamar dengan tirai di buka.


Seorang wanita duduk di dekat jendela itu dengan pandangan menatap bangunan-bangunan tinggi di luar. Tatapannya kosong dan lesu tanpa ekspresi apapun di wajahnya.


Wajahnya yang agak pucat terlihat karena sinar bulan. Ia sama sekali tidak menyalakan lampu di kamarnya, sehingga seluruh kamar terlihat gelap dengan sedikit cahaya remang-remang.


Natha merasa tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Ia memang berniat menunggu Abyan berubah pikiran, namun sampai saat ini, pria itu tidak pernah membahas apapun tentang anak lagi. Natha merasa ingin menjauh saja darinya.


Natha ingin sekali memberitahunya tanpa memperdulikan apa yang pernah Abyan katakan padanya bahwa dia tidak ingin mempunyai anak. Tapi di sisi lain, pikirannya tidak bisa berkompromi dengan hatinya sendiri.


Natha sengaja pulang dari kantornya lebih cepat. Selain karena memang agak lelah, ia ingin menenangkan diri di rumah. Ia tahu Abyan lembur dan ia sudah menyuruh sekretrisnya untuk tidak memberitahu Abyan tentang kepulangannya, jadi Natha tidak perlu menghindarinya lagi. Selain itu, Natha menonaktifkan ponselnya agar Abyan tidak bisa meneleponnya.


Saat ini Natha berniat tidur sebelum Abyan tiba di rumah, tapi ia merasa haus dan beranjak keluar kamar untuk minum.


Saat tiba di dapur, Natha membuka kulkas dan mengambil air dingin, selain untuk mendinginkan tenggorokannya, Natha merasa perlu mendinginkan pikirannya.


Tap


Tap


Suara langkah kaki dari ruang tamu membuat gerakan Natha berhenti. Ia menoleh ke arah pintu menuju ruang tamu. Natha mengernyit, apakah Abyan sudah pulang? Mengapa sangat cepat?


Natha menyimpan gelas yang sudah kosong dan melangkah ke luar dapur. Karena tidak semua lampu di nyalakan, semuanya terlihat gelap.


Langkah Natha berhenti di pintu saat melihat seseorang yang mendekat, namun langkahnya aneh dan agak pincang. Natha menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.

__ADS_1


Natha meragukan penglihatannya, karena minim cahaya, ia tidak bisa melihat wajahnya. Natha hanya bisa melihat sosok yang berbeda jauh dengan Abyan. Orang itu lebih pendek, lalu rambutnya terlihat acak-acakan. Itu adalah rambut wanita, bukan pria.


Natha merasakan ada yang salah, apa mungkin orang lain? Tapi mengapa ada orang lain yang bisa memasuki apartemennya? Bukan kah Abyan menjaga ketat apartemen ini?


"Siapa kau?"


Tidak ada jawaban. Namun orang itu semakin mendekat. Setelah sebuah cahaya menyinari wajahnya, mata Natha melebar kaget. Tanpa sadar ia mundur. "Nhita ...."


Nhita tersenyum aneh. Langkahnya yang pincang membuatnya terlihat menyeramkan, Rambutnya berantakan, penampilannya masih dengan baju pasien, wajahnya pucat dan tirus.


"Hai ... Natha. Bagaimana kabarmu?"


Natha menatapnya tidak percaya. Ketenangannya benar-benar hilang. Bukan hanya karena keberadaan Nhita, tapi karena Nhita membawa benda berbahaya dan berkilau tajam di tangannya. "Bagaimana bisa kau ...."


"Bagaimana aku berada di sini? Bagaimana bisa aku bisa masuk ke tempat ini? Atau bagaimana bisa aku keluar dari tempat sialan itu?" Nhita terkekeh di akhiri seringaian.


Lalu Nhita mengangkat tangannya yang terdapat pisau panjang. Ia mengusapnya dari ujung ke ujung dengan gerakan telaten. "Tentu saja dengan usaha ku sendiri. Bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu begitu saja setelah apa yang telat kau lakukan kepada keluargaku? Kau melanggar takdirmu, Natha.."


Natha menatapnya tidak mengerti. Ia merasa sangat takut dengan Nhita di hadapannya, jika saja tidak ada sebuah nyawa di rahimnya, Natha tidak akan setakut ini. "Apa maksudmu ...."


Atensi Nhita yang awalnya mengusap-usap pisau, kembali pada Natha seraya melangkah maju, membuat Natha semakin menyusut dengan pandangan tertuju pada pisau.


Senyum di wajah Nhita sudah menghilang. Setelah berada di depan Natha, Nhita mengangkat pisau dan menggores pipi Natha dengan santai dan berkata. "Aku selalu bertanya-tanya, kenapa hidupmu bisa seberuntung ini, Natha? Kenapa posisiku selalu salah? Kenapa banyak orang yang melindungimu? Ah, ternyata kau merubah takdirmu sendiri, kan?"


Sebuah cairan merah mengalir dari pipi ke dagu Natha. Ia meringis kesakitan. Mendengar apa yang di katakan Nhita, mata Natha langsung terbelalak tidak percaya. "Kau ... apakah kau ...."

__ADS_1


Nhita tertawa, "Ya.. kita sama. Ku kira semua mimpi itu tidak nyata, tapi melihat kehidupannya yang begitu beruntung dan kehidupanku yang begitu sengsara, aku langsung yakin bahwa semua mimpi itu benar. Seharusnya kehidupanmu tidak seberuntung ini, kan?"


Nhita selalu bermimpi aneh sejak di RSJ. Di mimpi itu kehidupannya sangat mewah dan menyenangkan. Namun Natha selalu sebaliknya, dia selalu di manfaatkan dan mudah di bodohi, yang jauh berbeda dengan kenyataan. Ia merasa itu hanya mimpi belaka, namun semakin lama mimpi itu semakin jelas. Kehidupannya semakin baik, Galen mencintainya dan tidak pernah menceraikannya. Ia juga bisa menggertak Natha dengan mudah. Di mimpi itu, Abyan tidak pernah bangun, sampai di mana Natha di siksa olehnya begitu lama. Lalu berakhir mati karena jatuh di sebuah jurang karena Galen


Walaupun ia tidak bisa mendapatkan warisan utama itu, tapi Nhita dan keluarganya menikmati semua harta yang Natha tinggalkan. Ia hidup begitu bahagia dengan Galen. Kasus kematian Natha di tangani dengan mudah oleh Galen.


Itu bukanlah sekedar mimpi, namun kehidupannya yang nyata. Nhita bertanya-tanya, mengapa semuanya sangat berbeda dengan kenyataannya saat ini? Saat melihat Natha berkunjung ke RSJ, Nhita melihatnya yang begitu berbeda dengan mimpinya. Ia yakin, Natha pasti mengalami mimpi seperti ini dahulu daripadanya sehingga dia mengubah kehidupannya.


Nhita yang awalnya akan hidup dengan tenang walaupun dengan orang-orang yang tidak mempunyai akal pikiran, tapi niatnya terhapus. Ia sangat tidak terima dengan takdirnya di kehidupan ini.


Ia berencana begitu lama, setiap hari belajar berjalan. Sampai akhirnya berhasil kabur dari tempat itu walaupun kakinya masih merasa sakit.


Nhita diam-diam mencari tahu tentang Natha sebelum ia kabur. Mengeluarkan semua ide dan akalnya, sampai ia berhasil memasuki apartemen Natha dengan mudah. Tentu saja menyuap orang dalam dan mengusik keamanannya untuk membobol masuk. Uang yang Nhita dapat yaitu dengan diam-diam mencuri banyak uang di sana. Hei, dirinya tidak gila. Tentu saja mempunyai banyak akal sehat dan licik untuk mendapatkan keberuntungan.


Melihat Natha yang ketakutan, Nhita merasakan kepuasan yang besar. Namun, goresan yang ia buat di pipi Natha tidak memuaskannya. Ia ingin menyiksa Natha lebih dari mimpinya!


Nhita dengan kasar menjambak rambutnya sehingga Natha menjerit kesakitan, rasa takut di mata Natha tidak bisa di sembunyikan.


Natha sangat takut ... ia ingin Abyan.


"Kehidupanmu tidak seperti ini, Natha! Kau seharusnya berada di bawahku! Kau tidak pernah bahagia! Seharusnya Abyan tidak pernah bangun dan melindungimu!" raung Nhita dengan wajah marah.


Natha mencoba melepaskan jambakkannya. Dengan kekuatannya, lengan Nhita berhasil lepas. Natha langsung berlari ke arah kamar.


"Hahaha.. kau tidak akan lepas dariku, Natha!" .."

__ADS_1


__ADS_2