
"Bibi, ku dengar paman telah kembali dengan membawa banyak uang."
Saat Abyan memberitahu tentang kedatangan Andre kembali, tidak ada kejutan di dalam ekspresi Natha. Yang Natha pikirkan adalah memberitahu Sonia. Entah apa niatnya melakukan itu.
Sonia langsung berhenti berontak. Dia menatap Natha terkejut. "Ap-apa?? Andre? Di mana dia?! Di mana dia sekarang?! Aku akan membunuhnya!!"
Sonia meraung lebih gila.
"Kami akan mengantar dia kembali ke kamarnya. Maafkan kami, Nona," kata perawat pria itu seraya menahan lengan Sonia yang berontak.
Natha melambai seraya tersenyum. "Tidak apa-apa. Kembali saja, kunjunganku telah selesai."
Mereka langsung masuk kembali. Natha menatap kepergian mereka dengan senyuman yang sudah hilang entah kemana.
Lalu tiba-tiba ia merasakan pandangan tajam dan dingin di sekitar. Ia menoleh ke samping dan bertemu dengan mata seseorang yang tak asing baginya. Dia Nhita.
Nhita hanya diam duduk di kursi rodanya dengan jarak lumayan jauh dari Natha. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Matanya hanya menatap Natha dengan rumit dan aneh.
Natha hanya tersenyum dan melambai seakan menyapa teman lama. Lalu ia pergi dengan perasaan tak karuan. Ia merasakan ada sesuatu yang salah dengan pandangan Nhita.
Meninggalkan RSJ, Natha pergi ke pemakaman. Berdiri di depan batu nisan kakeknya, ia sama sekali tidak bergerak untuk waktu yang lama. Setelah itu, ia membawa buket itu ke pemakaman orang tua kandungnya.
Kedua individu ini adalah orang tua kandungnya, tetapi Natha tidak pernah tahu selama bertahun-tahun di kehidupan sebelumnya dan selalu menganggap mereka paman dan bibinya. Memikirkannya saat ini, sungguh ironis.
***
Abyan mengetahui tentang kepergian Natha ke tempat Sonia. Dia tidak bisa menemani karena pekerjaannya, namun ia berniat pulang lebih cepat.
Pada siang menjelang sore, Abyan menyusul ke RSJ itu, namun Natha sudah tidak ada. Saat Abyan menelepon sopirnya, dia mendapat kabar bahwa Natha pergi ke pemakaman orang tua dan kakeknya. Abyan merasakan panik.
Jika Natha pergi ke pemakaman, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Dan Abyan selalu merasakan kesedihannya jika Natha berkunjung ke tempat itu.
Langit sudah menguning saat Abyan sampai di pemakaman. Dengan langkah tergesa ia keluar mobil dan masuk.
__ADS_1
Ketika Abyan menemukan Natha, dia melihat sosok kesepiannya.
Di waktu normal, Natha jarang menunjukkan kerentanannya kepada siapapun, malah di depannya jarang. Natha selalu berusaha kuat. Saat ini, melihat Natha berdiri sendirian, Abyan hanya merasa tertekan.
Abyan berjalan ke arahnya dan memeluknya dari belakang.
Tidak tahu mengapa, Natha hanya berpikir Abyan akan menemukannya. Tiba-tiba ia di peluk dan merasakan nafas yang akrab, dia tidak menolak. Matanya perih dan panas, tapi Natha tidak bisa meneteskan air mata.
Natha tidak tahu mengapa dunianya akan menjadi seperti ini. Bahkan jika ia membalas dendam, Natha tidak bisa mendapatkan apa yang di inginkannya. Orang tua, kakeknya, ia tidak punya. Mereka tidak akan kembali.
Merasakan kesedihan Natha, Abyan memeluknya lebih erat dan berkata dengan lembut. "Aku masih di sini, Sayang.."
Itu hanya empat kata sederhana tanpa retorika yang indah, tapi itu membuat Natha menangis untuk waktu yang lama.
Ya, masih ada Abyan.. aku masih memiliki Abyan..
Banyak hal yang terlalu di anggap remeh pada saat tertentu. Sama seperti malam ini, Natha menolak untuk sendirian. Natha terus menerus menempel pada Abyan dan tidak membiarkannya pergi atau menjauh sedikitpun.
Abyan yang akan mengambil air untuk mengambil minum, merasa tidak berdaya dengan Natha yang tidak membiarkannya pergi. Natha terus merengek dan menempel padanya. Ia akhirnya terbaring kembali dan memeluknya. Abyan menepuk punggungnya dengan lembut. Kecupan terus-menerus menghujani kepala Natha.
Abyan menunduk dan melihat matanya yang tertutup dengan kelopak mata yang bengkak karena menangis. Ia mengusapnya dengan lembut. "Mengapa kamu sangat menempel dan manja kepadaku malam ini? Aku merasakan hatiku lembut dan manis seakan meleleh."
Ucapan Abyan hanya di balas dengan nafas Natha yang teratur. Abyan menunduk dan mengecup kedua kelopak matanya. "Jangan menangis lagi, Sayang. Aku merasa sangat tertekan. Selain karena kesedihan dan rasa sakit, aku tidak akan melarang jika kamu menangis."
***
Pagi-pagi sekali, Alice datang ke tempat Abyan dan Natha dengan banyak hadiah di tangannya. Ia baru saja pulang dari luar negeri.
Alice sama sekali tidak memberitahukan kedatangannya kepada putra maupun menantunya. Karena datang terlalu dini, Abyan dan Natha belum bangun.
Saat mendengar bel pintu berdering terus menerus, Abyan mengerutkan kening. Ia menepuk punggung Natha dengan lembut dan membujuknya untuk tidur sebelum beranjak untuk membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, Abyan melihat mamahnya berdiri dengan tas besar di luar pintu.
__ADS_1
Alice yang sudah tidak sabar, melenggang masuk begitu saja dengan senyuman tidak bersalah. Ia menjatuhkan tas besar itu ke sofa dan mulai melihat ke kamar tidur.
Melihat tindakan mamahnya, Abyan mengingatkan. "Natha masih tidur, Mah."
"Ah!" Gerakan Alice berhenti. Lalu ia melangkah mendekat menuju pintu. "Tidur di sini?"
"Tentu saja, lalu di mana lagi?" Abyan menjawab dengan datar.
Alice cengengesan. Lalu berkata serius. "Mamah hanya takut kalian tidur terpisah. Jika begitu, bagaimana mamah bisa memiliki cucu?"
Abyan memutar bola matanya. "Tidak, Mah. Kami tidur bersama setiap hari. Bahkan kita tak pernah tidur terpisah setelah pindah ke tempat ini."
Alice tersenyum cerah. "Oh?! Benarkah?! Itu bagus! Aku pasti akan segera memiliki cucu jika begitu!"
Suara Alice begitu nyaring, Abyan mengingatkannya lagi. "Mah, kecilkan suaramu. Jangan sampai membangunkan Natha."
Alice menutup mulutnya. Lalu ia berbisik. "Oke, oke. Kalau begitu, kamu bisa tidur lagi. Mamah akan memasakkan sarapan tanpa mengganggu kalian berdua."
Dia sudah bangun, bagaimana bisa tidur kembali? Adapun mamahnya yang akan membuat sarapan, Abyan akan membiarkannya. Jadi ia hanya mengangguk dan berjalan ke kamarnya kembali setelah berkata. "Terserah Mamah saja."
Melihat Abyan memasuki kamar dan menutup pintu, Alice tertawa kecil dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
"Siapa?" tanya Natha kepada Abyan yang baru saja masuk.
Natha tidak tidur nyenyak, mendengar suara seseorang di ruang tamu, tapi ia malas untuk bangun. Hari ini adalah akhir pekan, selain karena perubahan suasana hatinya kemarin, ia hanya ingin berbaring dan beristirahat.
"Mamah ke sini. Dia sedang membuat sarapan. Jadi, kita tak perlu bangun." Abyan berbaring di sampingnya dan memeluknya. Ia berkata lembut. "Tidurlah kembali jika masih mengantuk."
"Hmm. Aku masih mengantuk," balas Natha manja seraya bersandar di pelukan Abyan. "Kamu harus menemaniku tidur."
"Oke." Abyan terkekeh. Ia mengusap rambutnya dan meletakkan dagunya di atas kepala Natha. "Tidurlah lagi. Aku akan tinggal bersamamu."
Natha benar-benar kembali tidur. Biasanya, jika ia sudah bangun, Natha tidak akan tidur kembali seperti saat ini.
__ADS_1
Abyan yang sudah tidak mengantuk, hanya diam dengan tangan menepuk lembut punggungnya. Saat melihat wajah tidurnya, ia bergumam gemas. "Manis sekali."