
"Sayang.."
"Hmm."
"Ayo.."
"Ayo, kemana?" Natha menunduk menatap pria yang tengah tiduran dengan pahanya yang menjadi bantalannya.
Abyan membuka matanya. Ia menatap Natha dari bawah seraya tersenyum manis. "Ayo kita kencan."
Natha mengerjap bingung. "Kencan?"
Abyan memeluk pinggangnya. Menenggelamkan wajahnya di perut Natha. Lalu ia mengangguk pelan. "Hm."
Natha bertanya dengan malu. "Kencan ke mana?"
"Kemana saja, asal denganmu."
Natha mengulum senyum. Lalu pandangannya beralih pada awan kekuningan yang terlihat lewat balkon. "Hari sudah sore."
"Tidak apa-apa."
Natha menghela nafas. "Kalo begitu, ayo."
"Hmm."
"Ayo cepat. Nanti kemalaman."
"Hmm."
Natha mencubit telinganya. "Hmm, hmm! Tapi kamu masih terdiam!"
"Aw, aw!" ringis Abyan yang langsung membuka mata. Dengan enggan ia bangun dari kenyamanan dan setuju. "Oke, oke!"
Abyan langsung terduduk dengan mulut cemberut. Ia mengusap telinganya yang memerah. Meringis dan merengek. "Sakit."
Natha memutar bola matanya malas. Ia melambaikan tangannya. "Cepat mandi!"
Abyan cemberut. Lalu dengan senyum menjengkelkan, ia memonyongkan bibirnya. "Cium dulu."
__ADS_1
Natha menganga. Lalu ia mengambil bantal di sofa dan melemparnya ke wajahnya. "Bibirku sudah membengkak gara-gara kamu saat pagi tadi!"
Abyan langsung menghindar, sehingga bantal yang Natha lemparkan melesat ke samping. Lalu ia menatap bibirnya yang memang bengkak karena ulahnya.
Abyan tersenyum tidak bersalah. "Aku minta maaf. Kamu sendiri yang bersalah karena mempunyai bibir yang membuatku kecanduan."
"Kamu menyalahkanku?!" Natha menatapnya galak dengan mata melotot.
Dengan tawa membahana, Abyan langsung berlari ke kamar mandi saat melihat Natha yang sudah mengambil sapu dengan wajah mulai memerah entah karena malu atau kesal.
***
Langit mulai menguning di sore itu. Hanya butuh waktu dua jam lagi yang di butuhkan sang mentari menenggelamkan dirinya. Namun, tidak menghalangi pasangan suami istri yang akan berniat kencan.
Abyan membawa mobil sendiri dengan Natha di sampingnya. Pakaian mereka terlihat rapi dan serasi. Natha memakai gaun kream dengan corak bunga di bagian pinggang dan dadanya. Lekuk pinggangnya terlihat, namun gaun itu hanya sebetis dengan lengan panjang. Sesuai dengan perintah sang suami.
Sedangkan Abyan memakai pakaian kasual dengan warna yang sama dengan Natha. Rambutnya di sisir rapi dengan rambut patah di dahinya. Wajah yang tampan membuat wanita manapun akan meliriknya dan enggan untuk berpaling.
Mereka tiba di tempat tujuan hanya membutuhkan waktu setengah jam. Untungnya, hari itu sangat cerah. Walaupun menjelang sore, matahari tetap menyinari dan langit biru tanpa awan.
Natha belum tahu kemana Abyan membawanya. Ia hanya mengikuti. Yang ia duga, Abyan akan membawanya ke tempat indah atau tempat layaknya berkencan.
Namun yang membuatnya tercengang, Abyan membawanya ke kebun binatang.
Abyan mendekatinya dan mengangguk polos. Lalu ia mengeluarkan ponsel menunjukan sebuah gambar kepada Natha. "Aku ingin melihat ini."
Di gambar itu adalah dua ekor panda yang begitu imut.
Abyan mengetahuinya di internet. Karena di bawah foto, ada info bahwa panda itu adalah hewan baru yang belum lama di masukan ke dalam kebun binatang itu, jadi ia ingin melihatnya langsung.
Natha mengangguk pasrah. Apalagi ia mulai tergoda untuk melihat anak panda seimut itu.
Abyan tersenyum lebar. Ia memeluk pinggangnya posesif saat mereka mulai berjalan masuk.
Natha hanya memutar bola matanya.
Setelah berurusan dengan bayaran dan syarat untuk masuk, mereka mulai berjalan berkeliling.
Sebenarnya ini adalah kali pertama Natha mengunjungi kebun binatang, baik di kehidupan dulu ataupun sekarang. Tentu saja ia tak punya waktu untuk itu. Jadi, saat ini Natha hanya melihat setiap binatang yang di lewatinya dengan rasa ingin tahu dan kagum.
__ADS_1
Abyan malah memperhatikan ekspresi Natha dengan senyum di wajahnya, karena tujuannya ke sini hanya untuk melihat satu jenis hewan saja.
Setelah Abyan mengetahui tempatnya dengan bertanya kepada salah satu staf, keduanya mulai berjalan ke tempat di mana anak panda itu berada.
Namun, panggilan lembut seorang wanita menghentikan langkah keduanya.
"Abyan!"
Natha dan Abyan berbalik untuk melihat sumber suara.
Mereka melihat seorang wanita cantik dengan pakaian lumayan ketat dan make up sederhana.
"Abyan! Ini ternyata benar-benar kamu! Sangat kebetulan!" pekiknya dengan gembira.
Tidak ada ekspresi apapun di wajah Abyan. Tapi tentu saja Abyan tahu siapa dia.
Di bandingkan dengan kegembiraan wanita itu, reaksi Abyan jauh lebih dingin. Senyum sebelumnya dengan Natha sudah hilang entah kemana. Dengan acuh tak acuh, Abyan langsung menarik tangan Natha untuk pergi.
Tentu saja wanita itu tidak menyerah. Ia tidak menghentikan Abyan, tapi dengan cepat berdiri di depan Natha menghentikan kembali langkah keduanya. "Kamu Natha, kan? Kalau begitu, perkenalkan, namaku adalah Meisa Angelica Davidson. Wanita terdekatnya."
Melihat uluran tangan di depannya, Natha tampak lebih dingin. Lalu ia menatap Abyan. Bukan karena apapun, masalahnya, tangannya di pegang erat oleh pria itu, seakan tidak akan pernah di lepaskan. Sedangkan, tangan yang lainnya memegang tas.
Seolah tidak merasakan malu, Meisa terus meregangkan tubuh ke arah Natha dengan senyuman manis, seakan memutuskan untuk bersikeras memegang tangan Natha.
Natha tidak mudah berhubungan dengan orang. Sebaliknya, Natha selalu menjaga jarak dengan orang yang baru ia temui karena kesan pertamanya. Wanita di depannya jelas, tidak memiliki kesan baik untuknya. Malah, Natha merasakan kebencian wanita yang di panggil Meisa di depannya.
Meskipun Meisa tersenyum cerah, tapi tindakannya tampak salah. Natha tidak percaya bahwa Meisa tidak mengerti maksud Abyan dengan memegang tangannya erat. Namun Meisa masih berpura-pura tersenyum dan bersikeras menjangkaunya, itu memperjelas bahwa Meisa mempersulit keadaan. Bisa di katakan memprovokasi secara diam-diam.
Meisa mengenakan sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter, beberapa sentimeter lebih tinggi dari Natha yang mengenakan sepatu hak datar. Tentu saja Natha terlihat lebih kecil darinya.
Namun, aura Meisa bukanlah tandingan Natha. Bahkan jika harus mendongkak melihat Meisa yang lebih tinggi, momentum Natha tidak hilang. Yang paling penting adalah Natha belum mengucapkan sepatah katapun. Terlihat sangat dingin.
Masih mempertahankan postur yang sama, senyum di wajah Meisa menjadi kaku. Tangan yang terulur menjadi pegal. Kekesalan berangsur-angsur muncul di matanya. "Kamu merendahkanku?"
"Dia tidak mengenalmu." Abyan akhirnya membuka suara. Itupun untuk membela Natha. Setelah itu, tidak peduli sejelek apa ekspresi Meisa, dengan santai Abyan menarik lembut Natha pergi.
Baru kali ini Natha merasakan Abyan yang lain. Biasanya, ia selalu tenang dan santai. Namun sekarang terasa mendesak dengan kecepatan jalan yang lumayan cepat. Natha terpaksa mengimbanginya.
Abyan bukanlah orang yang memiliki rahasia. Tetapi sebelum mengenal Natha, mustahil ia tidak memiliki rahasia yang terlewatkan. Dan jelas, Meisa merupakan masa lalu yang tidak ingin dia sebutkan.
__ADS_1
Bukan karena Abyan memiliki kasih sayang kepada Meisa, yang perlu di yakinkan kepada Natha adalah Natha merupakan gadis pertama dan satu-satunya yang Abyan suka dan cintai.
Alasan Abyan mengelak karena ia merasa Meisa terlalu sulit. Saat melihat senyuman di wajah wanita itu, Abyan merasa senyuman itu sama persis dengan Nhita. Sama-sama centil dan di sengaja. Termasuk keanehannya.