Suami Di Kehidupan Kedua

Suami Di Kehidupan Kedua
Part 82


__ADS_3

"Abyan! Kamu menolak berhenti dan mendengar apa yang ingin aku bicarakan, apakah kamu takut aku memberi tahu Natha tentang kita berdua? Apakah takut kamu Natha akan bertengkar denganmu dan menceraikanmu? Abyan, kamu tidak perlu membalas dendam hanya untuk menikah dengan wanita yang tidak kamu suka! Aku tahu kamu tidak ingin menikah dengan Natha. Itu hanya paksaan.." teriak Meisa dengan gigih mengejar Abyan.


Langkah Abyan benar-benar berhenti seperti yang Meisa inginkan.


Meisa sangat gembira. Dengan buru-buru ia melanjutkan. "Aku pergi keluar negeri sebelumnya. Jadi, aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu di sini. Jika aku tahu apa yang terjadi, aku pasti tidak akan membiarkanmu menikah dengan wanita seperti itu.."


Melihat Abyan menoleh menatapnya, Meisa menjadi semakin percaya diri. Nadanya menjadi lebih tenang. "Aku akan berbicara dengan jelas. Natha adalah saudara perempuan Nhita. Dan dia adalah saudara orang yang menyebabkanmu kecelakaan mobil. Kamu seharusnya tidak menyukai saudara perempuan musuhmu. Kamu bersedia menikah dengannya hanya untuk membalas dendam terhadap Nhita yang membuatmu sakit, kan? Tapi sekarang aku kembali. Kamu tidak perlu memaksakan diri..."


Dengan ketidaksabaran yang jelas di dalam ekspresinya, Abyan memotongnya dengan dingin. "Apakah sudah selesai?"


"Belum." Dengan jujur Meisa menggeleng. Ia tersenyum cerah. "Abyan, sudah lama kita tidak bertemu. Kamu masih sama, selalu marah padaku. Tapi itu tidak masalah aku akan mengakomodasimu. Sama seperti dulu."


Dari kata-kata orang lain tentang hubungan Abyan dan Meisa, Natha menghargai kekuatan Meisa sepenuhnya. Namun setelah mendengar dan melihat dengan matanya sendiri, ternyata Meisa jauh dari apa yang di pikirkan. Meisa tidak begitu saja jatuh cinta dangan Abyan. Namun, Meisa jatuh ke dalam fantasi bahwa Abyan memang mencintainya.


Natha sudah pernah melihat orang seperti itu di rumah sakit jiwa. Ia merupakan orang yang lebih baik menghadapi Meisa dari pada Abyan.


Jadi Natha menarik Abyan dengan ringan. Tidak membiarkan Abyan menjawab lagi. Natha menghadapi Meisa dengan senyuman. "Maaf, kamu terlambat satu langkah. Abyan adalah suamiku, dia milikku. Jadi tolong lepaskan, dan jangan mengganggu kami."


"Melepaskan kalian?" Senyum Meisa tidak berubah. "Tidak bisa! Abyan adalah pria pertama yang aku sukai. Orang yang di cintainya adalah aku, bukan kamu. Kamu hanyalah pengganti yang menggantikan Nhita dengan balas dendam Abyan! Kamu hanyalah alat!"

__ADS_1


"Aku tahu kamu telah bekerja keras dengan menyusahkanmu untuk menjaga Abyan. Tapi aku telah kembali. Abyan tidak memebutuhkanmu lagi." Meisa mengeluarkan buku cek dari tasnya untuk menuliskan sejumlah uang sesuka hati. Lalu memberikannya kepada Natha. "Ini kerja kerasmu. Kamu pantas mendapatkannya. Jadi, silahkan mundur."


Melihat itu, Natha mengambilnya terus terang. "Jangan khawatir. Aku akan menggunakan ini untuk menyumbangkannya ke daerah yang di landa kemiskinan yang membutuhkan. Jumlah ini cukup untuk menjalankan sekolah dasar bagi anak-anak."


"Tidak masalah. Aku telah memberinya. Jadi, gunakan sesukamu," katanya dengan puas. Lalu melihat tangan mereka yang berkaitan. "Kalau begitu, bisakah kamu pergi? Kamu sudah mengambil uangnya."


"Ya, sudah waktunya untuk pergi." Natha mengangguk tanpa menyangkal. "Selamat tinggal."


Meisa mengangguk puas. Namun matanya melotot marah ketika Abyan ikut pergi. Ia langsung mencegahnya. "Apakah kamu bercanda? Kamu sudah mengambil uangku! Tetapi kenapa kamu masih memegang tangan Abyan?! "


"Aku tidak bercanda. Kamu sudah memberiku cek dan aku menerimanya sesuai keinginanmu. Kamu ingin aku pergi, dan aku sudah berniat melakukannya. Semuanya di lakukan sesuai dengan keinginanmu, bukankah begitu?" Natha dengan santai mengangkat tangan yang di genggam Abyan di depan Meisa. Lalu ia membuka jari-jarinya untuk melepaskan. "Adapun aku yang memegang tangannya. Kamu lihat sendiri, aku sudah membuka ke lima jariku. Tapi suamiku menolak untuk melepaskannya. Aku tidak bisa memaksa. Genggamannya begitu erat."


Wajah Meisa muram dan terlihat semakin marah. Ia menarik nafas dan tersenyum enggan. "Apakah kamu pamer? Atau memprovokasiku? Kamu tahu 'kan, Abyan melakukan ini untuk menunjukannya kepadaku. Dia hanya ingin membuatku kesal dan cemburu. Dia hanya ingin aku memeluknya."


"Kamu.," geram Meisa menunjuk Natha dengan telunjuknya, tapi ia tidak bisa berkata-kata.


Meisa merasa baru kali ini dia kalah. Di masa lalu, tidak peduli gadis seperti apa yang merecoki Abyan. Dia punya cara untuk menyelesaikannya. Tapi sekarang, ia benar-benar kalah dari Natha?


Natha mengalihkan pandangan ke Abyan. Ia mengayunkan genggamannya dengan gerakan sengaja. Lalu tersenyum manis. "Sayang. Ayo pergi."

__ADS_1


Abyan tercengang dengan panggilan 'sayang' nya. Baru kali ini istrinya memanggilnya seperti itu. Suasana hatinya langsung membaik. Wajahnya penuh dengan senyuman. Abyan mengangkat tangan keduanya yang saling mengait. Lalu mencium punggung tangan Natha dengan mata lembut yang tertuju padanya "Ayo."


Abyan langsung melupakan segalanya. Ia memeluk bahunya dengan mesra. Namun tanpa pria itu sadari, ia membuat hati seseorang semakin panas.


Sedangkan Natha tersenyum kemenangan dengan provokatif.


Meisa melotot semakin marah. Ia menggeram. Wajahnya memerah dengan pandangan tajam. Kedua tangannya terkepal.


***


Meisa tampaknya memperlakukan semua orang dengan bodoh. Tujuan kepergian dan kepulangan terlalu jelas. Tidak seperti sebelumnya, saat Meisa mengatakan bahwa dia tidak bersalah dan tidak mempunyai niat lain, tidak banyak orang yang mempercayainya. Termasuk keluarga Allarick.


Aston, sepupu Abyan berkunjung ke apartemen untuk pertama kalinya setelah menerima panggilan. Saat ini, kedua pria itu tengah duduk santai.


"Saat Meisa datang kembali ke rumah kami, semua sikap keluargaku berubah kepadanya. Ibuku mengatakan bahwa tidak ada gadis yang cocok denganmu terkecuali istrimu. Walaupun awalnya keluargaku kecuali aku sendiri mendukungnya denganmu, namun setelah dia pergi begitu saja, pikiran semua orang berubah." Aston mencibir dengan jijik. "Menurutku, Meisa sangat pantas mendapatkannya. Dia pikir dia bisa membodohi semua orang dengan wajah munafiknya? Tidak hanya Ibuku, Nenek-Kakek, dan bahkan bibi Meisa sendiri, mereka mengatakan bahwa Meisa terlalu kejam dan menjijikan."


Aston tidak menyukai Meisa. Setelah kejadian dia pergi dan kembali dengan seenak hati, Aston menjadi membencinya. Ia menyaksikan, Meisa berlari ke kediamannya dan menangis. Dia mengatakan hal yang menyayat hati di depan semua orang, dengan menyedihkan meminta maaf kepada neneknya, mengatakan bahwa dia menyesal telah memilih pergi meninggalkan Abyan.


Aston merasa muak. Pada saat itulah dia semakin membencinya. Dan ia memasukan Meisa ke dalam daftar hitam dalam kehidupannya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan tanggapan Kakek dan Nenek?" Abyan sama sekali tidak ingin mendengar tentang Meisa. Tapi ia tidak ingin mereka terpengaruh oleh wanita munafik itu.


"Tentu saja sikap mereka begitu dingin! Dia pikir, keadaan akan kembali seperti semula hanya dengan permintaan maaf? Tidak mungkin!" balasnya arogan. "Sepertinya aku belum memberi tahumu, Kak. Selama kakak koma, keluargaku dan keluarga Meisa mengalami masalah. Karena mereka dengan santai membiarkan Meisa pergi dan tidak mau menjaga dan merawatmu. Sungguh tidak tahu malu!"


__ADS_2