
"Cek? Apa maksudmu?" Aston bertanya dengan heran.
"Ya, cek." Meisa menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan emosinya. Setelah sedikit tenang, dia menatap Arbelin dan Julian dengan tulus. "Kakek, nenek. Ini bukanlah pertama kalinya aku menemui wanita sepertinya. Saat aku kembali dan menginjakkan kembali di kota ini, aku pergi ke kebun binatang dan bertemu dengannya. Saat itu, aku memberinya cek dan dia menerimanya. Tapi dia menolak untuk meninggalkan Abyan."
"Benarkah?" Aston bertanya dengan mulut terbuka lebar sedikit di lebih-lebihkan. Lalu ia melirik Abyan dan Natha. Lalu dengan rasa ingin tahu, Aston bertanya. "Kak, berapa banyak yang dia berikan untukmu? Apakah cukup untuk membeli sepotong pakaian?"
Meisa awalnya berpikir, kesan semua orang setidaknya akan berubah kepada Natha dengan memberitahukan fakta itu, tapi pertanyaan Aston yang penuh penghinaan tanpa sadar mengeluarkan Natha dari pengepungan.
Meisa mengertakkan gigi. "Aston! Bisakah kamu diam?!"
Aston mengangkat sebelah alisnya dengan mata menyipit dingin. "Ini rumahku, kenapa aku harus diam?"
Meisa merasa tertohok. Tapi ia tidak bisa menyerah begitu saja. "Aku tahu. Tapi aku minta tolong, untuk saat ini jangan menyela. Aku akan berbicara dengan jelas tentang wanita ini."
Meisa mengakui, ia memang selalu kalah beradu mulut dengan Aston. Melirik ekspresi semua orang di meja, ia berusaha meneruskan ucapannya karena ia masih tidak terima dan tidak percaya di kalahkan oleh Natha. Tapi suara Natha menghentikannya.
"Bukankah aku sudah mengatakan bahwa uang itu aku sumbangkan ke daerah yang di landa kemiskinan? Apa perlu buktinya?" Natha berujar untuk menerima provokasi Meisa. "Tunggu sebentar, kwitansi ada di tasku."
Meisa tidak pernah mengharapkan hasil akhir seperti ini. Ia terkejut dengan wajah penuh ketidakpercayaan. "Sumbangan apa?! Kapan kamu menyebutkan sumbangan itu?! Jangan berbicara omong kosong! Jelas-jelas kamu menerimanya dengan senang hati!"
Natha benar-benar menyumbangkan uangnya. Cek yang ia berikan bukanlah sejumlah uang kecil. Meisa merasa sia-sia.
Natha tidak menjawab. Ia mengambil tas dan mencari sesuatu di dalam.
__ADS_1
Ketika Abyan mengajaknya makan malam di sini, Natha dengan sengaja memasukan tanda terima kasih dan memasukannya ke dalam tas. Ia melakukan ini hanya menduga Meisa akan menggunakan trik dan membahas kembali tentang cek. Dan benar saja, dugaannya tak pernah salah.
Setelah Natha mengambilnya, Arbelin adalah orang pertama yang melihat tanda terima kasih itu. Arbelin terkejut. Ia merasa bahwa tulisan tangan Meisa tidak kecil. Tidak mungkin mempunyai uang sebanyak itu.
Julian dan yang lainnya pun melihat itu bersamaan. Tiba-tiba wajah mereka berubah. Mereka tidak tahu, bahwa keluarga Davidson akan memberikan Meisa uang saku sebanyak itu.
Aston langsung tertawa keras. "Tidak mungkin wanita ini mempunyai uang sebanyak itu! Aku yakin, nomor ini pasti bukan untuk dia!"
Dari saat semua orang mengubah wajah mereka, Meisa merasa ada yang tidak beres. Ia langsung menyambar kertas itu dari tangan Aston dan melihatnya. Meisa langsung tercengang dengan hati terkejut. Tanpa sadar berkata. "Ke-napa.. kenapa begitu banyak? Aku tidak memberikannya sebanyak ini.."
Natha langsung bereaksi dan memeriksa kembali tanda terima kasih itu. Ia membuka mulutnya dengan tenang. "Ah, maaf. Aku salah. Ini seharusnya tanda terima kasih yang aku sumbangkan sendiri. Cek dia yang satunya lagi, tunggu sebentar."
"Pffft!" Aston tidak bisa menahan tawa.
Sebuah acungan jempol ia hadiahi kepada Natha. Ia merasa istri sepupunya sangat luar biasa. Tidak heran, Abyan tidak khawatir Natha akan diintimidasi, ternyata Natha menindas wanita itu lebih kuat secara sepihak.
"Kamu memiliki hati yang baik karena melakukan perbuatan baik secara pribadi. Tetapi tidak pernah meninggalkan nama," kata Sevie seraya tersenyum hangat.
Arbelin tersenyum ramah dan bangga. "Gadis yang baik! Sangat layak menjadi cucu menantuku, begitu mendominasi!"
"Ya." Julian juga mengangguk. Walaupun wajahnya tetap tanpa ekspresi, anggukan dan pujiannya sangat langka. Jadi ia juga berfikir Natha sangat baik.
Menatap kosong ke arah orang yang berlomba-lomba memuji Natha, Meisa meremas penuh amarah catatan yang di berikan Natha kepadanya. Meisa memaksakan senyum dan berkata di tengah pembicaraan mereka dengan nada ramah. "Oh? Apakah ini benar-benar uangmu? Ataukah... uang Abyan?"
__ADS_1
Meisa sangat tidak percaya Natha akan mempunyai uang sebanyak itu. Ia sendiri belum pernah memegang uang sebesar itu. Jadi, kemungkinan yang ia pertanyakan sangat masuk akal.
Atensi semua orang kembali padanya dan menjadi ragu. Sebelum Meisa tersenyum kemenangan, suara Abyan yang begitu dingin menjawab. "Uang ini adalah milik istriku dan tidak ada hubungannya denganku. Dia bahkan tidak menerima uangku begitu saja. Ini hasil kerja kerasnya sendiri."
Meisa memelotot. "Kamu bilang uang itu milik wanita ini? Siapa yang percaya?!"
"Aku percaya!" Aston membalas keras.
Meisa menatapnya menghina. "Kamu percaya? Apakah masuk akal? Kamu sendiri tahu, wanita ini berasal dari keluarga yang lebih rendah. Darimana uang itu berasal?! Bahkan aku dengar dia masih sekolah! Tidak ada celah untuk mendapatkan uang sebanyak itu!"
"Dia adalah CEO di perusahaan Lexandra, selain itu dia mempunyai begitu banyak uang dari warisan orang tua dan kakeknya. Kenapa aku harus tidak percaya? Bahwa aku yakin, semua warisannya lebih banyak dari kekayaan keluargamu!" Aston berujar arogan.
Keluarga Grissham dan Allerick sudah mengetahui tentang kehidupan Natha. Jadi mereka tidak lagi meragukan kelayakan Natha untuk Abyan. Keluarga Lexandra hanya di bawah Grissham dan di atas keluarga kaya lainnya.
Meisa baru kembali ke negaranya. Jadi ia sama sekali tidak tahu kenaikan status Natha. Ia tidak ingin tahu banyak tentang warisan itu, tapi ia ingin tahu tentang CEO yang Natha duduki.
Meisa jelas tertegun. "Ap-apa? CEO? Tidak mungkin!"
Melihat Meisa seakan melihat orang bodoh, Aston menggelengkan kepala. "Apa yang tidak mungkin baginya? Kamu hanyalah wanita manja dan munafik. Sangat jauh jika di bandingkan dengan istri sepupuku yang merupakan pekerja keras dan sangat-sangatlah layak untuk sepupuku. Walaupun kamu memberikan cek dengan menjual rumahmu sendiri, semua itu tidak cukup."
Meisa menggigit bibirnya sampai berdarah. Ia merasa akan gila. Untuk kedua kalinya ia kalah telak. Melihat semua orang menatapnya dengan mata seakan menatap orang idiot, Meisa merasa hatinya penuh amarah. Baru kali ini dia mengalami situasi ini dalam hidupnya.
Mata merah Meisa yang penuh kebencian tertuju pada Natha. Sedangkan yang di tatap, dengan santainya mengangkat alis dengan senyuman miring.
__ADS_1
Saat mata semua orang masih memperhatikannya, Meisa melihat Natha mencium pipi Abyan dengan mata penuh kemenangan tertuju padanya. Selain Abyan yang membeku, Meisa merasa darahnya mendidih karena kepanasan dan amarah.
S*alan!